Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

166. سَتَرَ أَنْوَارَ السَّرَائِرِ بِكَثَائِفِ الظَّوَاهِرِ إِجْلاَلاً لَهَا أَنْ تُبْتَذَلَ بِوُجُودِ الْإِظْهَارِ، وَأَنْ يُنَادَى عَلَيْهَا بِلِسَانِ الاِشْتِهَارِ.

Allah sengaja menutupi nur hati itu dengan pekerjaan-pekerjaan yang lahir karena sayang kepadanya jangan sampai diobral dengan terbuka begitu saja, atau kuatir daripada lidah yang akan menyiar-nyiarkannya. Juga Allah menutup nur cahaya kewalian para walinya karena rahmat- nya terhadap kaum mukminin, sebab sekíranya terbuka itu rahasia kewalian pada seorang, pasti akan mewajibkan bagi orang yang terbuka hatinya itu, kewajiban-kewajiban yang mungkin tidak dapat melaksanakannya, dan dengan demikian berarti telah terjerumus dalam dosa durhaka.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

060. لاَ صَغِيرَةَ إِذَا قَابَلَكَ عَدْلُهُ، وَلاَ كَبِيرَةَ إِذَا وَاجَهَكَ فَضْلُهُ.

Tidak ada dosa kecil jika Allah menghadapi engkau dengan keadilanNya, dan tidak berarti dosa besar jika Allah menghadapimu dengan kurniaNya.

Nabi saw. bersabda :

لَا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ.

Tidak ada artinya dosa besar jika disertai dengan Istighfar (minta ampun), dan tidak dapat dianggap dosa kecil jika dikerjakan terus menerus.

Yahya bin Mu'aadz r.a. berkata : Jika Allah menggunakan keadilannya tidak berarti segala amal kebaikan, dan bila Allah menghadapi dengan kurniaNya maka tidak ada artinya segala dosa. • Yahya bin Mu'aadz dalam berdoa ia berkata : Tuhanku, jika Engkau kasih kepadaku, Engkau ampunkan semua dosaku, tetapi jika Engkau murka kepadaku tidak Engkau terima amal kebaikanku.

Hikam Ibnu 'Atoillah

105. رُبَّمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الطَّاعَةِ وَمَا فَتَحَ لَكَ بَابَ الْقَبُولِ، وَرُبَّمَا قَضَى عَلَيْكَ بِالذَّنْبِ فَكَانَ سَبَبًا فِي الْوُصُولِ.

Mungkin Allah membuka untukmu pintu taat, tetapi belum dibukakan bagimu kabul (penerimaan), sebagaimana ada kalanya ditakdirkan engkau berbuat dosa, tetapi menjadi sebab sampaimu (mendekatmu) kepada Allah.

Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa, niscaya Allah menyingkirkan (mematikan) kamu dan diganti dengan orang-or- ang yang berbuat dosa lalu minta ampun kepada Allah, lalu diampuni oleh Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

291. وَقَدْ سُئِلَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ – قُرَّةُ الْعَيْنِ كِنَايَةٌ عَنْ غَايَةِ الْفَرَحِ وَالسُّرُورِ وَاللَّذَّةِ، فَكَأَنَّهُ يَقُولُ: وَجُعِلَتْ غَايَةُ فَرَحِي وَسُرُورِي فِي الصَّلاَةِ لِمُشَاهَدَةِ الرَّبِّ فِيهَا – هَلْ ذٰلِكَ خَاصٌّ بِهِ أَوْ لِغَيْرِهِ مِنْ أُمَّتِهِ مِنْهُ شِرْبٌ وَنَصِيبٌ؟ فَأَجَابَ: إِنَّ قُرَّةَ الْعَيْنِ بِالشُّهُودِ عَلَى قَدْرِ الْمَعْرِفَةِ بِالْمَشْهُودِ، فَالرَّسُولُ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلاَمُهُ لَيْسَ مَعْرِفَةُ غَيْرِهِ كَمَعْرِفَتِهِ، فَلَيْسَ قُرَّةُ عَيْنٍ كَقُرَّتِهِ. وَإِنَّمَا قُلْنَا إِنَّ قُرَّةَ عَيْنِهِ فِي صَلاَتِهِ لِشُهُودِ جَلاَلِ مَشْهُودِهِ، وَلِأَنَّهُ قَدْ أَشَارَ.

Ketika Ibn Atha' Allah ditanya tentang sabda Nabi sav. Dan telah diberi oleh Allah kepuasanku dalam sembahyang. Apakah itu khusus untuk Rasulullah saw. sendiri atau juga ummatnya mendapat

(bagian)? Jawabnya : Sesungguhnya kesenangan melihat kebesaran Jalalullah itu menurut kadar kekuatan ma'rifatnya terhadap apa yang dilihat itu, sedang ma'rifat Rasulullah saw. tidak dapat disamakan dengan ma'rifat lain-lainnya, karena itu tidak ada kesenangan (kepuas- an) seperti kesenangannya. Dan kami katakan bahwa kesenangan itu dalam sembahyang, karena melihat kebesaran yang dilihatnya, sebab Nabi sendiri telah mengisyaratkan dalam sabdanya : "Di dalam sembahyang", dan tidak berkata "Dengan sembahyang," sebab Nabi saw. tidak akan puas/senang hatinya selain kepada Tuhannya. Bagaimana tidak demikian, padahal ia sendiri menganjurkan untuk mencapai tingkat itu dalam sabdanya : Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat kepadaNya. Dan mustahil jika melihat Allah dan melihat lain-lainnya di samping Allah. Jika ada orang berkata : Adakalanya kesenangan itu karena sembahyang (dengan sembahyang), sebab sembahyang itu sebagai kurnia yang timbul langsung dari sumber pemberian Allah, maka bagaimana tidak akan gembira dengan itu, dan bagaimana tidak menjadi puncak kesenangan karenanya, sedang Allah telah berfirman : Katakanlah : Hanya dengan (karena) kurnia dan rahmat Allah itulah mereka harus bergembira. Maka ketahuilah bahwa dalam ayat itu juga telah ada isyarat untuk jawaban terhadap pertanyaan ini bagi orang yang memperhatikan rahasia kata-katanya. Sebab Allah berkata : Maka dengan itulah mereka harus bergembira. Dan tidak berkata : Dengan itulah engkau bergembira ya Muhammad. Seolah-olah berkata : Katakan kepada mereka supaya mereka bergembira dengan pemberian kurnia itu, tetapi kegembiraanmu hanya dengan yang memberi kurnia itu, sebagaimana tersebut dalam ayat : Katakanlah : Allah, kemudian biarkan mereka dalam kesibukan mereka ber- kecimpung- Sembahyang itu sebagai pemberian Allah yang terbesar untuk hambaNya, sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi saw. : Tiada diberi- kan kepada seorang hamba di dunia ini sesuatu yang lebih baik daripada Grizinkan baginya untuk sembahyang dua rakaat. Sebab sembahyang itu sebagai hubungan langsung antara hamba dengan Allah, bertemu berkata-kata, dan berkhalwat. Di situlah seorang menyatakan kehambaan, kerendahan, kehinaan, hajat dan kebutuhannya.

Disalin