Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

141. لَوْ أَنَّكَ لاَ تَصِلُ إِلَيْهِ إِلاَّ بَعْدَ فَنَاءِ مَسَاوِيكَ، وَمَحْوِ دَعَاوِيكَ، لَمْ تَصِلْ إِلَيْهِ أَبَدًا، وَلٰكِنْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَصِّلَكَ إِلَيْهِ غَطَّى وَصْفَكَ بِوَصْفِهِ، وَنَعْتَكَ بِنَعْتِهِ، فَوَصَّلَكَ إِلَيْهِ بِمَا مِنْهُ إِلَيْكَ، لاَ بِمَا مِنْكَ إِلَيْهِ.

Andaikan engkau tidak dapat sampai kepada Allah, kecuali sesudah habis lenyap semua dosa dan kekotoran syirik, niscaya engkau tidak akan sampai kepadaNya untuk selamanya, tetapi jika Allah akan menarik/ menyampaikan enkau kepadaNya, la menutupi sifatmu dengan sifatNya dan kekuranganmu dengan kumia kekayaań-Nya. Maka Allah menyampai- kan engkau kepadaNya dengan apa yang diberikan olehNya kepadamu, bukan karena amal perbuatanmu yang engkau hadapkan kepadaNya.

Abul-Hasan Asysyadzily berkata : Seorang wali tidak akan sampai kepada Allah, jika ia masih ada syahwat atau usaha ikhtiar sendiri. Karena itu jika Allah tidak menarik hambanya, dan mem- biarkannya dengan usaha ikhtiarnya sendiri, takkan sampai kepada Allah untuk selama-lamanya. Karena itu jika Allah akan menarik dan segera menyampaikan hambanya, maka ditampakkan padanya sifat-sifat Allah. Sehingga mati kehendak dan ikhtiar usaha sendiri, dan segera menyerah kepada iradat kehendak dan putusan pemberian Tuhan, maka ketika itu ia sampai kepada Allah karena tarikan Allah, bukan karena amal usahanya sendiri, sampai karena kurnia Allah bukan karena ibadat dan taatnya kepada Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

203. لاَ تَمُدَّنَّ يَدَكَ إِلَى الْأَخْذِ مِنَ الْخَلاَئِقِ إِلاَّ أَنْ تَرَى أَنَّ الْمُعْطِيَ فِيهِمْ مَوْلاَكَ، فَإِذَا كُنْتَ كَذٰلِكَ فَخُذْ مَا وَافَقَكَ الْعِلْمُ.

Jangan mengulurkan tangan untuk menerima pemberian makhluk, kecuali bila merasa bahwa yang memberi itu sebenarnya Tuhanmu, maka bila engkau telah sedemikian, maka terimalah dari mereka yang sesuai, dengan ilmu pengetahuanmu.

Sebab bila engkau masih merasa ada sesuatu selain Allah yang dapat membantu kepadamu, maka tauhidmu belum benar (murni) menerima pengertian keesaan Allah dalam kalimat : Laa ilaaha illallaah dan Laa haula walaa quwwata illa billahi. Allah menjadikan dan memberi rizqi, yang menghidupkan dan mematikan, ini semua hak kekuasaan Allah semata-mata, sehingga kalau ada pemberian itu dari tangan siapa saja datangnya, harus tidak boleh lupa bahwa itu langsung dari Allah yang menyuruh salah satu hamba pesuruhNya, menyampaikan kepadamu. Khalid Al-Juhany ra. berkata : Rasullullah saw. bersabda : Siapa yang kedatangan hadiah/sedekah dari temannya tanpa minta-minta dan mengharap-harap dalam hatinya, maka hendaknya diterima, sebab yang demikian itu sebagai rizgi yang dihantar oleh Allah kepadanya. Dalam lain riwayat ada tambahan : Dan bila ia tidak membutuh- kannya karena sudah cukup, maka hendaknya diberikan kepada orang yang lebih berhajat daripadanya.

Ibrahim Al-Khawwas berkata : Seorang shufi tidak harus memilih jalan tidak berusaha, terkecuali jika memang sudah cukup keadaannya.

Abu Abdullah Alqurasy berkata : Selama keinginan berusaha itu kuat dalam perasaan nafsu, maka berkasab usaha itu lebih utama.

Umar bin Alkhattab ra. berkata : Rasulullah selalu memberi kepada saya, maka saya berkata : Berikan kepada orang yang lebih berhajat dari saya. Rasulullah berkata : Terimalah dan pergunakan atau sedekahkan, dan tiap harta yang datang kepadamu dengan tidak engkau harapkan atau engkau minta, maka terimalah, dan yang tidak jangan engkau angan-angan (harap-harapkan). Al-A'masy (Sulaiman) ra. berkata : Ada seorang pemuda yang datang kepada Ibrahim Attaimy untuk memberi hadiah uang sebanyak 2000 dirham, sambil berkata : Terimalah uang ini, ini bukan dari raja, juga bukan uang syubhat dan lain-lainnya. Jawab Ibrahim : Semoga Allah memberkahi hartamu, dan membalas engkau kebaikan dan terima kasih, lalu ditolaknya uang itu. Setelah pergi pemuda itu saya bertanya : Ya Aba Imran, mengapakah engkau tolak pemberian itu, demi Allah isterimu tidak mempunyai gamis (roko). Jawab Ibrahim : Benar, tetapi anak itu masih muda, belum banyak pengertian/pengalaman, saya kuatir kalau ia kembali ke kampungnya lalu memberi tahu kepada

teman-temannya : Saya telah memberii kepada Ibrahim dua ribu dirham, maka hilang pahalanya dan hilang pula uangnya.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang menolak rizqi yang diberi oleh Allah tanpa minta-minta, maka sesungguhnya ia telah menolak pemberian Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

216. كَمَا لاَ يُحِبُّ الْعَمَلَ الْمُشْتَرَكَ، كَذٰلِكَ لاَ يُحِبُّ الْقَلْبَ الْمُشْتَرِكَ، الْعَمَلُ الْمُشْتَرَكُ لاَ يَقْبَلُهُ، وَالْقَلْبُ الْمُشْتَرِكُ لاَ يُقْبِلُ عَلَيْهِ.

Sebagaimana Allah tidak menerima amal yang dipersekutu- kan dengan lainNya, demikian pula Allah tidak suka pada hati yang bersekutu. Amal perbuatan yang dipersekutukan kepada suatu selain Allah tidak akan diterima oleh Allah, dan hati yang bersekutu tidak menghadap kepadaNya (Allah). Amal perbuatan yang bersekutu ialah riya', sum'ah dan yang dibuat- buat, dan hati yang bersekutu yaitu yang masih merasa cinta kepada lain Allah dan mengharap atau takut atau menyandar kepada lain Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

113. الْعَارِفُ لاَ يَزُولُ اضْطِرَارُهُ، وَلاَ يَكُونُ مَعَ غَيْرِ اللهِ قَرَارُهُ.

Seorang aarif tidak kunjung hilang rasa hajat kebutuhannya, dan tidak pernah merasa tenang, atau bersandar pada sesuatu selain Allah ta'ala. Seorang aarif (wali) yaitu yang tetap merasa berhajat kepada Allah, sebab memang tidak ada sesuatu yang dapat memuaskan kepadanya selain Allah. Juga karena sadar benar-benar terhadap kekuasaan Allah di samping kelemahan dan kebutuhan diri sendiri kepada Allah.

Disalin