Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

129. الصَّلاَةُ طُهْرَةٌ لِلْقُلُوبِ مِنْ أَدْنَاسِ الذُّنُوبِ، وَاسْتِفْتَاحٌ لِبَابِ الْغُيُوبِ.

Sembahyang itu sebagai penyucian hati dari kotoran dosa, dan untuk pembuka pintu ghaib. ตา Abd pads thelane) 103

Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya perumpamaan sembahyang itu, bagaikan sungai mengalir di muka pintu salah seorang, maka ia mandi daripadanya tiap hari lima kali, apakah ada sisa dari kotorannya ? Jawab sahabat : Tidak ada sisa kotorannya sedikitpun. Maka sabda Nabi saw. : Demikian pula contoh dari sembahyang lima waktu, menghapuskan dosa. Juga sembahyang sebagai pembuka pintu ghaib, sebab bila hati telah bersih dan selalu berhubungan dengan Tuhannya, pasti lambat laun akan terbuka baginya tirai/pintu ghaib.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

196. كُلُّ كَلاَمٍ يَبْرُزُ وَعَلَيْهِ كِسْوَةُ الْقَلْبِ الَّذِي مِنْهُ بَرَزَ.

Tiap-tiap kalimat yang keluar, pasti membawa corak bentuk hati yang mengeluarkannya. Dalam peribahasa :

كُلُّ إِنَاءٍ يَنْضَحُ بِمَا فِيهِ.

Tiap bejana (moci dan sebagainya) pasti mengeluarkan yang terisi didalamnya. Terjadi seorang mencela : Mengapakah hati orang-orang sekarang tidak khusyu' dan matapun tidak mencucurkan air mata. Maka dijawab oleh Muhammad bin Wasi : Kemungkinan yang demikian itu dari engkau sendiri, sebab bila nasehat itu keluar dari hati yang ikhlas pasti masuk ke dalam hati. Sebaliknya yang hanya berupa gubahan lidah dan fantasi belaka, maka ia akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Abul-Abbas Almarsy berkata : Keadaan hamba ini hanya ada empat macam : Nikmat, bala', taat dan maksiat. Maka jika di dalam nikmat kewajiban hamba bersyukur kepada Allah, dan jika menerima bala' harus sabar. Dan jika dapat melakukan taat harus merasa taufiq hidayat dari kurnia Allah. dan bila tergelincir dalam dosa maksiat maka harus membaca istighfar.

Hikam Ibnu 'Atoillah

229. الْوَارِدُ يَأْتِي مِنْ حَضْرَةِ الْقَهَّارِ، لِأَجْلِ ذٰلِكَ لاَ يُصَادِمُهُ شَيْءٌ إِلاَّ دَمَغَهُ، بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ.

Warid (kurnia iman dari Tuhan) itu memang datangnya dari yang menang dan mengalahkan segala yang lainnya, karena itu bila warid tiba, maka tiada sesuatu yang berhadapan padanya melainkan dimusnahkannya. Ayat : Tetapi Kami melemparkan itu hak di atas yang bathil, maka melenyapkannya, maka tetaplah bathil itu musnah (hancur).

Hikam Ibnu 'Atoillah

079. قَلَّمَا تَكُونُ الْوَارِدَاتُ الْإِلٰهِيَّةُ إِلاَّ بَغْتَةً، لِئَلاَّ يَدَّعِيَهَا الْعِبَادُ بِوُجُودِ الاِسْتِعْدَادِ.

Jarang sekali terjadi kurnia besar dari Allah itu kecuali secara mendadak (tiba-tiba), supaya tidak ada orang yang mengaku bahwa ia dapat karena telah mengadakan persiapan untuk menerima kurnia itu. Allah mewahyukan kepada Nabi Musa as. : Tahukah engkau mengapakah Aku mengangkat engkau sebagai Nabi yang langsung mendengar kalamKu? Jawab Musa : Engkau yang lebih mengetahui. Bersabda Tuhan : Ketika Aku larikan semua kambing Nabi Syuaib yang kau pelihara itu, sehingga dengan susah payah engkau mengejar kambing- kambing itu untuk mengembalikannya, tetapi kemudian setelah kembali semuanya engkau tidak merasa jengkel/marah, maka itulah sebabnya. Dalam Hadits, seorang pelacur yang memberi minum kepada anjing, tiba-tıba Allah bersyukur kepadanya dan mengampunkan semua dosanya. Demikianlah kehormatan dan kurnia-kurnia besar dari Allah

itu, tidak dapat diraba oleh manusia, dan selalu diberikan oleh Allah secara tiba-tiba, supaya tidak ada orang berbangga dengan amal perbuatannya.

Disalin