Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

117. لاَ يُخَافُ عَلَيْكَ أَنْ تَلْتَبِسَ الطُّرُقُ عَلَيْكَ، وَإِنَّمَا يُخَافُ عَلَيْكَ مِنْ غَلَبَةِ الْهَوَى عَلَيْكَ.

Tidak dikuatirkan padamu bingung jalan, tetapi yang di- kuatirkan atasmu daripada menangnya hawa nafsu atas akal dan imanmu. Jalan untuk menuju kepada Tuhan sudah jelas, cukup tuntunan dalam kitab Allah atau sunnat Rasulullah. Baik ketika berbuat taat atau maksiat atau mendapat nikmat atau bala’. Jika berbuat taat hendaknya merasa itu sebagai kurnia Allah, jika berbuat dosa lekas

membaca istighfar dah bertobat, jika menerima nikmat harus syukur, jika menderita bala’ harus sabar. Tetapi yang dikhawatirkan padamu ialah merajalelanya hawa nafsu, sehingga lupa terhadap ‘Tuhan dan tidak mengenal tuntunan/jalan Tuhan.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

165. رُبَّمَا وَقَفَتِ الْقُلُوبُ مَعَ الْأَنْوَارِ كَمَا حُجِبَتِ النُّفُوسُ بِكَثَائِفِ الْأَغْيَارِ.

Adakalanya hati ini terhenti pada sinar cahaya-cahaya itu, sebagaimana terhijabnya nafsu dengan padatnya benda-benda makhluk. Hijab yang dapat merintangi atau menghijab manusia berjalan kepada Allah itu adakalanya nurani dan adakalanya kegelapan, maka bila yang menghentikan perjalanan manuju kepada Allah berupa ilmu pengetahuan, maka itu bernama hijab nurani, sebaliknya jika yang menghalangi per- jalanan itu adat kebiasaan dan syahwat, maka berama kegelapan benda dunia. Hati dapat silau oleh nur cahaya, sebagaimana silaunya nafsu dengan kegelapan benda, sedang Allah di balik itu semuanya. AL-BIRAM (Pendelatan Abdi padu Khulgnya)

Hikam Ibnu 'Atoillah

075. خَفْ مِنْ وُجُودِ إِحْسَانِهِ إِلَيْكَ وَدَوَامِ إِسَاءَتِكَ مَعَهُ أَنْ يَكُونَ ذٰلِكَ اسْتِدْرَاجًا لَكَ، سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ.

Hendaknya kau merasa takut jika kau selalu mendapat kurnia Allah, sebaliknya kau tetap dalam perbuatan maksiat kepadaNya jangan sampai kurnia itu semata-mata istidraj (dilulu) oleh Allah. Sebagaimana firman Allah :

سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ (الأعراف: ١٨٢)

Akan aku lulu (putar) mereka itu dengan jalan yang mereka tidak mengetahui (tidak sadar). Istidraj : Yaitu mengulur, memberi terus menerus supaya bertambah lupa kemudian dibinasakan, juga berarti memperdaya.

Firman Allah :

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ (الأنعام: ٤٤)

Maka ketika mereka telah melupakan apa yang telah diperingat- kan kepada mereka. Kami bukakan bagi mereka segala jalan, sehingga apabila mereka telah mabuk gembira terhadap segala hasil usahanya. Kami tangkap dengan tiba-tiba, sehingga mereka mengalami dan merasa gagal total, dan putus harapan sama sekali.

(Al-An'aam 44).

Demikian contoh istidraj : Tiap berbuat dosa ditambah dengan nikmat, dan dilupakan minta ampun istighfar.

Disalin