Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

102. مَنْ عَبَدَهُ لِشَيْءٍ يَرْجُوهُ مِنْهُ أَوْ لِيَدْفَعَ بِطَاعَتِهِ وُرُودَ الْعُقُوبَةِ عَنْهُ فَمَا قَامَ بِحَقِّ أَوْصَافِهِ.

Siapa yang menyembah kepada Allah karena mengharap sesuatu, atau untuk menolak bahaya siksa atas dirinya, maka belum menunaikan hak kewajibannya terhadap sifat-sifat Allah. Allah telah menurunkan wahyu kepada Nabi Dawud as. : Sesungguhnya orang yang sangat Aku kasih kepadanya ialah yang beribadat bukan karena upah pemberian, tetapi semata-mata karena Aku berhak untuk disembah. Dalam kitab Zabur ada tersebut : Dan siapakah yang lebih kejam dari orang yang menyembahKu karena surga atau neraka, apakah andaikan Aku tidak membuat surga dan neraka, tidak berhak untuk disembah.

Bersabda Nabi saw. : Jangan berlaku sebagai seorang hamba yang busuk jika takut, lalu bekerja dan jangan berbuat sebagai buruh yang busuk jika tidak dibayar tidak bekerja.

Sebab sebenarnya pemberian Allah kepada hamba itu sudah lebih dari yang diharapkan yaitu hidupnya, nafasnya, panca inderanya dan kesehatannya dan lain-lainnya.

Abu Hazim berkata : Saya malu menyembah Allah karena pahala, seperti buruh yang busuk jika tidak dibayar tidak bekerja atau menyembah karena takut siksa seperti budak yang curang jika tidak takut siksa tidak bekerja, tetapi saya menyembah Allah karena cinta kepadaNya. Sufyan Astsaury minta nasehat dari Rabi’ah Al-adawiyah, maka berkata Rabi’ah : Engkau seorang yang baik, andaikan engkau tidak cinta kepada dunia.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

066. النُّورُ جُنْدُ الْقَلْبِ كَمَا أَنَّ الظُّلْمَةَ جُنْدُ النَّفْسِ، فَإِذَا أَرَادَ اللهُ أَنْ يَنْصُرَ عَبْدَهُ أَمَدَّهُ بِجُنُودِ الْأَنْوَارِ وَقَطَعَ عَنْهُ مَدَدَ الظُّلَمِ وَالْأَغْيَارِ.

Nur (cahaya terang) itu sebagai tentara yang membantu hati, sebagaimana gelap itu tentara yang membantu hawa nafsu. Maka apabila Allah akan menolong seorang hambaNya, dibantu dengan

tentara nur Ilahi dan dihentikan bantuan kegelapan dan kepalsuan. Nur (cahaya terang) yang berupa tauhid, iman dan keyakinan itu sebagai tentara pembela pembantu hati, sebaliknya kegelapan syirik dan ragu itu sebagai tentara pembantu hawa nafsu, sedang perang yang terjadi antara keduanya tidak kunjung berhenti, dan selalu menang kalah. Dan di sinilah terlihat jelas pengertian :

مَن يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ

Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.

وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menunjukinya.

مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

Siapa yang diberi petunjuk (hidayat) oleh Allah maka ialah yang mendapat petunjuk hidayat, dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak akan engkau dapatkan pelindung atau pemimpin untuknya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

132. مَتَى طَلَبْتَ عِوَضًا عَلَى عَمَلٍ طُولِبْتَ بِوُجُودِ الصِّدْقِ فِيهِ، وَيَكْفِي الْمُرَبَّى وِجْدَانُ السَّلاَمَةِ.

Apabila engkau menuntut upah/pahala untuk sesuatu amal perbuatan, pasti engkau juga akan dituntut kesempurnaan dan keikhlasanmu dalam amal perbuatan itu. Dan bagi seorang yang merasa belum sempurna, harus merasa cukup puas jika ia telah selamat dari tuntutan. Khair Annassaj berkata : Timbangan amalmu itu sesuai dengan perbuatanmu, karena itu mintalah kemurahan kurniaNya, dan itulah yang baik bagimu. Al-Wasithy berkata: Ibadat-ibadat itu lebih dekat kepada mengharap maaf dan ampun daripada mengharap pahala dan upah. Annash-rabadzy berkata : Ibadat-ibadat itu bila diperhatikan kekurangan-kekurangannya, lebih dekat kepada mengharap maaf daripada mengharap pahala dan upah.

Firman Allah :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ (يونس: ٥٨)

Katakanlah : Hanya karena kurnia dan rahmat Allah mereka boleh bergembira. sebab itu lebih baik bagi mereka dari segala apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

261. لاَ يَلْزَمُ مِنْ ثُبُوتِ الْخُصُوصِيَّةِ عَدَمُ وَصْفِ الْبَشَرِيَّةِ، إِنَّمَا مَثَلُ الْخُصُوصِيَّةِ كَإِشْرَاقِ شَمْسِ النَّهَارِ، ظَهَرَتْ فِي الْأُفُقِ وَلَيْسَتْ مِنْهُ، تَارَةً تُشْرِقُ شُمُوسُ أَوْصَافِهِ عَلَى لَيْلِ وُجُودِكَ، وَتَارَةً يَقْبِضُ ذٰلِكَ عَنْكَ فَيَرُدُّكَ إِلَى حُدُودِكَ، فَالنَّهَارُ لَيْسَ مِنْكَ وَإِلَيْكَ، وَلٰكِنَّهُ وَارِدٌ عَلَيْكَ.

Adanya sifat-sifat khushusiyah (kewalian) itu, tidak melazimkan, lengkapnya sifat-sifat manusia yang biasa dan umum. Sesungguhnya contoh/perumpamaan khushusiyah itu bagaikan terangnya matahari di waktu siang, tampak di ufuk tetapi bukan dari ufuk, ada kalanya terbit nur cahaya sifat-sifat Allah pada kegelapan kejadian wujudmu, dan ada kalanya dicabut yang demikian itu daripadamu, maka kembali engkau ke batas-batas asal kejadianmu, maka terang siang itu bukan daripadamu dan kepadamu tetapi ia datang menjelang padamu. Sifat-sifat khushusiyah (kewalian) seperti kasyaf terhadap sesuatu hal, atau kekuatan yang istimewa untuk berbuat dan mengadakan sesuatu, itu semua tidak melazimkan lenyap sifat-sifat manusia yang biasa, seperti kebodohan, kemiskinan dan kelemahan. Sama dengan sinar matahari terhadap benda-benda yang tadinya gelap mendapat cahaya matahari maka berubah menjadi terang, tetapi jika terbenam matahari itu kembali benda-benda itu kepada kegelapannya, sebab cahaya matahari itu tidak termasuk sifat dzatnya, maka apabila menerima nur tajalli maka tampak keluar dari padanya sifat-sifat Allah yang menerangi dzatnya itu, tetapi bila ditarik kembali nur

tajalli itu, maka kembalilah sifat-sifat yang asli pada manusia. Maka sifat-sifat khushusiyah (keistimewaan/kewalian) itu bukan sifat manusıa yang aslı, hanya menjelma (datang) kepadanya, pada sifat- sifat yang ditentukan Allah sendiri yang memberi itu.

Disalin