Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

093. رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ، وَرُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ.

Ada kalanya Allah memberi kepadamu kekayaan (kesenangan) dunia, tetapi tidak memberi kepadamu taufiq hidayatNya, dan ada kalanya Allah menolak (tidak memberi) kamu dari kesenangan dunia dan kemewaanNya, tetapi memberi kepadamu taufiq dan hidayatNya. Muhyiddin Ibn Araby berkata : Jika ditahan permintaanmu maka berarti engkau telah diberi, dan jika segera diberi permintaanmu berarti telah ditolak dari sesuatu yang lebih besar. Karena itu utamakan

tidak dapat, daripada dapat, dan sebaiknya seorang hamba tidak memilih sendiri, tetapi menyerah sebulat-bulatnya kepada Tuhan yang menjadikannya, yang mencukupi segala kebutuhan.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

059. لاَ يَعْظُمُ الذَّنْبُ عِنْدَكَ عِظَمًا يَصُدُّكَ عَنْ حُسْنِ الظَّنِّ بِاللهِ تَعَالَى، فَإِنَّ مَنْ عَرَفَ رَبَّهُ اسْتَصْغَرَ فِي جَنْبِ كَرَمِهِ ذَنْبَهُ.

Jangan sampai terasa bagimu kebesaran sesuatu dosa itu, hingga dapat merintangi engkau dari husnudh-dhan (baik sangka) terhadap Allah ta'ala, sebab siapa yang benar-benar mengenal Allah ta'ala, maka akan menganggap kecil dosanya itu di samping keluasan kemurahan Allah. Merasa besarnya suatu dosa itu baik, jika menimbulkan rasa akan bertobat dan niat tidak akan mengulanginya untuk selamanya. Tetapi jika merasa besarnya dosanya itu akan menyebabkan putus rahmat dari Allah, merasa seolah-olah rahmat dan maaf Allah tidak akan dapat memaafkan padanya, maka perasaan yang demikian itu lebih bahaya baginya dari dosa yang telah dilakukannya, sebab putus harapan dari rahmat Allah itu dosa besar dan itu perasaan orang kafir semata-mata.

Abdullah bin Mas'ud ra. berkata : Seorang mukmin melihat dosanya bagaikan bukit yang akan merubuhinya, sedang orang munafik melihat dosanya bagaikan lalat yang hinggap diujung hidungnya, maka diusir dengan tangannya, nabi saw. telah bersabdą : Demi Allah yang jiwaku ada di tanganNya, andaikan kamu tidak berbuat dosa niscaya Allah akan mematikan kamu, dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa lalu istighfar (minta ampun) dan diampunkan bagi mereka itu.

Nabi saw. bersabda : Andaikan perbuatan dosa itu tidak lebih baik bagi seorang mukmin daripada ujub (merasa sombong karena amal kebaikannya), maka Allah tidak akan membiarkan seorang mukmin berbuat dosa untuk selamanya. Sebab ujub itu menjauhkan seorang hamba dari Allah, sedang dosa itu menarik hamba mendekat kepada Allah. Dan ujub merasa besar diri, sedang dosa merasa kecil dan rendah dari sisi Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

015. مِمَّا يَدُلُّكَ عَلَى وُجُودِ قَهْرِهِ سُبْحَانَهُ أَنْ حَجَبَكَ عَنْهُ بِمَا لَيْسَ بِمَوْجُودٍ مَعَهُ.

Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya kekuasaan Allah yang luar biasa, ialah dapat menghijab engkau daripada melihat kepada-Nya dengan hijab yang tidak ada wujudnya (yakni : Bayangan- bayangan hijab) di sisi Allah. Sepakat para arifin, bahwa segala sesuatu selain Allah tidak ada, artinya : tidak dapat disamakan adanya sebagaimana adanya Allah, sebab adanya alam terserah kepada karunia Allah, bagaikan adanya bayangan yang tergantung selalu kepada benda yang membayanginya. Maka siapa yang melihat bayangan dan tidak melihat kepada yang membayanginya, di sini terhijabnya.

Firman Allah :

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ (القصص: ٨٨)

Segala sesuatu rusak hancur kecuali dzat Allah. Rasulullah saw. membenarkan perkataan pujangga yang berkata :

أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ

Camkanlah, bahwa segala sesuatu selain Allah itu palsu belaka.

وَكُلُّ نَعِيمٍ لَا مَحَالَةَ زَائِلٌ

Dan tiap nikmat kesenangan dunia, pasti akan rusak lenyap.

Hikam Ibnu 'Atoillah

199. عِبَارَاتُهُمْ إِمَّا لِفَيَضَانِ وَجْدٍ، أَوْ لِقَصْدِ هِدَايَةِ مُرِيدٍ، فَالْأَوَّلُ حَالُ السَّالِكِينَ، وَالثَّانِي حَالُ أَرْبَابِ التَّمْكِينِ وَالْمُحَقِّقِينَ.

Kata-kata kalimat mereka itu, imma karena luapan perasaan yang penuh dalam hati, yang tidak dapat ditahan, atau karena tujuan memberi petunjuk pada seorang murid. Yang pertama itu hal keadaan yang masih salik (sedang berjalan), sedang kedua : Hal keadaan orang yang sudah matang dan mendalam benar-benar dalam ilmu hakikat. Jika seorang salik (yang sedang berjalan) menuju hakikat itu berkata- kata bukan karena luapan hatinya, niscaya ia hanya merupakan dakwa (pengakuan) yang palsu belaka, demikian pula orang yang sudah di puncak jika bicara bukan untuk memberi petunjuk kepada murid, berarti ia telah membuka rahasia yang tidak diizinkan. Sedang lazimnya ia diam tidak bicara sebab ia selalu dalam adab hadirat Allah ta'ala

Firman Allah :

وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَٰنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا (طه: ١٠٨)

Telah tunduk semua suara-suara itu kepada Arrahman (Allah), maka tidak terdengar kecuali bisik-bisikan semata-mata.

Disalin