Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

089. مَطْلَبُ الْعَارِفِينَ مِنَ اللهِ تَعَالَى الصِّدْقُ فِي الْعُبُودِيَّةِ وَالْقِيَامُ بِحُقُوقِ الرُّبُوبِيَّةِ.

Tujuan permintaan orang aarif kepada Allah, hanya semoga dapat bersungguh-sungguh dalam kehambaan dan tetap dalam menunaikan kewajiban terhadap Tuhan.

Abu Mad-yan berkata : Jauh berbedå antara orang yang semangat keinginannya hanya bidadari dan gedung, dengan orang yang keinginan- nya selalu bertemu kepada Tuhan yang menciptakan dan yang mempunyai gedung. Sungguh-sungguh dalam sifat kehambaan : lalah berakhlak dan beradab sebagai seorang yang patuh taat kepada tuannya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

201. رُبَّمَا عَبَّرَ عَنِ الْمَقَامِ مَنِ اسْتَشْرَفَ عَلَيْهِ، وَرُبَّمَا عَبَّرَ عَنْهُ مَنْ وَصَلَ إِلَيْهِ، وَذٰلِكَ مُلْتَبِسٌ إِلاَّ عَلَى صَاحِبِ بَصِيرَةٍ.

Adakalanya orang yang membicarakan (menerangkan) tentang suatu magam (tingkat) dalam kewalian itu, seorang yang ingin sampai kepadanya dan baru mengintai. Dan adakalanya orang yang membicarakan itu orang yang telah sampai kedalamnya, dan yang demikian itu kabur, kecuali terhadap orang yang tajam matahati (terang hati nuraninya).

Hikam Ibnu 'Atoillah

159. إِذَا وَقَعَ مِنْكَ ذَنْبٌ فَلاَ يَكُنْ سَبَبًا لِيَأْسِكَ مِنْ حُصُولِ الاِسْتِقَامَةِ مَعَ رَبِّكَ، فَقَدْ يَكُونُ ذٰلِكَ آخِرَ ذَنْبٍ قُدِّرَ عَلَيْكَ.

Jika terlanjur (terjadi) perbuatan dosa, maka yang demikian itu jangan sampai menyebabkan patah hatimu untuk mendapatkan istigamah kepada Tuhanmu, sebab kemungkinan yang demikian itu sebagai dosa yang terakhir yang telah ditakdirkan bagimu. Perbuatan dosa itu tidak menyalahi istigamah dalam kehambaan, asalkan jangan terus-menerus dan merupakan kegembiraan dalam melakukannya, tetapi bila semata-mata karena terlanjut, dengan tidak ada sifat gembira dalam melakukan perbuatan itu, bahkan segera bertobat daripadaNya. Sebab manusia tidak akan mungkin dapat mengelakkan diri dari takdir yang telah tertulis baginya. Karena itu terjadinya perbuatan dosa jangan sekali-kali menyebabkan putus asa dari tetapnya istigamah dalam kehambaan kepada Allah swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

134. إِذَا أَرَادَ أَنْ يُظْهِرَ فَضْلَهُ عَلَيْكَ خَلَقَ وَنَسَبَ إِلَيْكَ.

Jika Allah akan menunjukkan kurnianya kepadamu, maka ia yang menjadikan dan menamakan amal itu perbuatanmu. Sebagaimana firman Allah : Hai hambaKu yang beriman, hai orang-orang yang beriman. Padahal Allah yang memberikan iman itu. Karena itu jawaban hamba : Engkau yang memberikan kurnia kepadaku, sehingga aku berbuat taat, padahal saya sendiri tiada berdaya dan tidak berkekuatan kecuali semata-mata dengan pertolonganMu. Sahel bin Abbdullah ra. berkata : Jika seorang hamba berbuat kebaikan, lalu ia berkata : Engkau yang memberi kurnia, taufiq dan memudahkan kepadaku, niscaya Allah memuji kepada hamba itu dengan sabdanya : HambaKu engkau telah berbuat taat dan (tagarrub) mendekat kepadaKu. Sebaliknya jika hamba itu merasa beramal tidak ingat kepada taufiq pertolongan Allah, maka Allah mengabaikan (berpaling) sambil bersabdą : Aku yang memberi taufiq hidayat, dan Aku yang membantu memudahkan itu kepadamu. Dan apabila berbuat kejahatan lalu berkata : Engkau yang menakdirkan dan menghukum serta memutuskan (yakni saya tidak ikut bersalah). Jawab Tuhan : Hai hambaKu, kaulah yang salah, bodoh dan berbuat maksiat pelanggaran. Sebaliknya jika hamba yang berbuat dosa itu berkata : Aku telah berbuat salah karena aku bodoh dolim pada diriku sendiri. Maka dijawab oleh Tuhan : HambaKu Aku yang menentukan, menakdirkan dan menutupi serta mengampunkan.

Disalin