Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

065. الْأَنْوَارُ مَطَايَا الْقُلُوبِ وَالْأَسْرَارِ.

Nur (cahaya-cahaya) iman, keyakinan dan dzikir itu semua sebagai kendaraan yang dapat mengantarkan hati manusia ke hadirat Allah serta menerima segala rahasia daripadaNya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

006. لاَ يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ، لاَ فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لاَ فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ.

Janganlah kelambatan masa pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan patah harapan, sebab Allah telah menjamin menerima semua doa dalam apa yang la kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu dan pada waktu yang ditentukanNya, bukan pada waktu yang engkau tentukan.

Firman Allah

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ (القصص: ٦٨)

Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendakiNya dan memilihnya sendiri, tiada hak bagi mereka untuk memilih. Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas lalu baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya. Karena itu bila Tuhan yang maha mengetahui lagi bijaksana memilihkan untuknya sesuatu, hendaknya rela dan menerima pilihan Tuhan Yang Maha belas kasih lagi mengetahui dan bijaksana itu, walaupun pada lahirnya pahit dan pedih rasanya, namun itulah yang terbaik baginya, karena itu bila berdoa, kemudian belum juga tercapai keinginannya, janganlah keburu patah harapan;

Firman Allah :

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (البقرة: ٢١٦)

Mungkin kamu membenci sesuatu padahal itulah yang baik bagimu, dan mungkin kamu suka pada sesuatu padahal bahaya bagimu, dan Allah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Abu-Hasan Asy-Syadzily ra. ketika mengartikan ayat :

قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ( يونس : ٨٩)

Sungguh telah diterima doamu berdua (Musa dan Harun as.) yaitu tentang kebinasaan Fir'aun dan tentaranya maka hendaknya kamu berdua tetap istigamah (sabar dalam melanjutkan perjuangan dan

terus herdoa). dan jangan mengikuti jejak orang-orang yang tidak mengerti, (kekuasaan dan kebijaksanaan Allah)

(S. Yunus 89).

Maka terlaksananya kebinasaan Fir'aun yang berarti setelah diterima doa itu, sesudah 40 tahun.

Rasullullah saw. bersabda :

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، فَيَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي.

Pasti diterima doamu itu selama tidak keburu, yaitu berkata : Aku telah berdoa dan tidak diterima.

Anas ra. berkata :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ دَاعٍ يَدْعُو إِلَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ دَعْوَتَهُ أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِثْلَهَا سُوءًا أَوْ حَطَّ مِنْ ذُنُوبِهِ بِقَدَرِهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ.

Tiada seorang berdoa, melainkan pasti diterima Allah doanya, atau dihindarkan daripadanya bahaya, atau diampunkan sebagian dosanya, selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa, atau untuk memutuskan hubungan famili. Abul Abbas Almarsi ketika sakit, datang seorang sambang kepadanya lalu berkata : Semoga Allah menyembuhkan kau (Afakallahu). Abul Abbas tinggal diam tidak menyambut kata-kata itu Kemudian orang itu berkata pula : Allah yu'aafika. Maka dijawab oleh Abul Abbas : Apakah kau kira saya tidak minta 'afiyah kepada Allah, sungguh saya telah minta 'afiyah, dan penderitaanku ini termasuk 'afiyah, ketahuilah Rasulullah minta 'afiyah dan ia berkata :

مَا زَالَتْ أَكْلَةُ خَيْبَرَ تُعَاوِدُنِي، وَالْآنَ قَدْ قَطَعَتْ أَبْهَرِي

Selalu bekas makanan khaibar itu terasa olehku, dan kini masa putusnya urat jantungku. Abubakar Assiddiq minta 'afiyah dan mati terkena racun. Umar bin Khattab minta 'afiyah dan mati terbunuh. Usman bin Affan, juga minta 'afiyah dan juga mati tertikam. Ali bin Abi Thalib minta 'afiyah juga mati terbunuh. Maka bila kau minta 'afiyah kepada Allah, mintalah menurut apa yang ditentukan oleh Allah untukmu, maka sebaik-baik seorang hamba ialah yang menyerah menurut kehendak Tuhannya, dan mempercayai bahwa yang diberi Tuhan itulah yang terbaik baginya meskipun tidak cocok dengan kemauan hawa nafsunya. Dan syarat utama untuk diterimanya suatu doa, ialah keadaan terpaksa.

Firman Allah :

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ (النمل: ٦٢)

Apakah yang selalu menerima doa orang terpaksa, apabila berdoa (minta) kepadaNya. Keadaan terpaksa itu, bila merasa tidak ada sesuatu yang diharapkan selain semata-mata karunia Allah, tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan perantara baik dari luar yang berupa benda, atau dari dalam dirinya sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

213. لاَ تُدْهِشْكَ وَارِدَاتُ النِّعَمِ عَنِ الْقِيَامِ بِحُقُوقِ شُكْرِكَ، فَإِنَّ ذٰلِكَ مِمَّا يَحُطُّ مِنْ وُجُودِ قَدْرِكَ.

Jangan membingungkan kepadamu datangnya kurnia nikmat Allah yang bertimbun-timbun untuk menunaikan kewajiban mensyukurinya, sebab perasaan yang demikian berarti merendahkan harga dirimu sendiri.

Engkau diperintahkan mensyukuri nikmat Allah menurut kadar kekuatan yang diberikan Allah kepadamu, bukan sebanyak atau sebesar nikmat yang diberikan, sebab itu tidak mungkin engkau akan dapat menunaikannya, tetapi memberi nikmat yang besar sesuai dengan kebesaran Allah, sedangkan engkau diharuskan mensyukuri nikmat menurut kadar kelemahan/kekuatanmu. Nabi Dawud as. berkata : Tuhanku anak adam ini telah engkau beri pada tiap rambut ada nikmat di atas dan di bawahnya, maka bagaimana akan dapat menunaikan syukurnya kepadamu. Jawab Allah : Hai Dawud, Aku memberi sebanyak-banyaknya, dan rela menerima yang sedikit, dan untuk mensyukuri nikmat itu bila engkau mengetahui bahwa nikmat yang ada padamu itu daripadaKu.

Umar bin Abdul-Aziz ra. berkata : Tiadalah Allah memberikan suatu nikmat kepada hamba, kemudian hamba itu mengucap : duba ia m jah abis Alhamdulillah, melainkan nilai pujian Alhamdu lillah itu jauh lebih besar dari nikmat yang diberikan itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

115. لِيُخَفِّفْ أَلَمَ الْبَلاَءِ عَلَيْكَ عِلْمُكَ بِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ هُوَ الْمُبْلِي لَكَ، فَالَّذِي وَاجَهَتْكَ مِنْهُ الْأَقْدَارُ هُوَ الَّذِي عَوَّدَكَ حُسْنَ الاِخْتِيَارِ.

Seharusnya terasa ringan kepedihan bala' yang menimpa kepada- mu, karena engkau mengetahui bahwa Allah yang menguji padamu, maka Tuhan yang menimpakan kepadamu takdirnya itu. Dia pula yang telah biasa memberi kepadamu sebaik-baik apa yang dipilihkan untukmu (Dialah yang membiasakan kau merasakan sebaik-baik pilihannya (pemberiannya).

Abu Ali Addaqgaq berkata : Suatu tanda bahwa seorang itu men- dapat taufiq kurnia Allah, ialah terpeliharanya iman (tauhid) di waktu menghadapi bala' ujian bencana.

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ (البقرة: ٢١٦)

Mungkin kamu tidak suka pada sesuatu, padahal itu baik untukmu.

Abu Thalib Al-Makki berkata : Manusia tidak suka miskin, hina dan penyakit, padahal itu semua mungkin baik baginya untuk bekal di akherat, sebaliknya ia suka kaya, sehat dan ternama/terkenal padahal semua itu bahaya di sisi Allah, dan jelek akibatnya.

Al-Junaid berkata : Ketika saya tidur di tempat Assariyu Sagathy, tiba-tiba saya dibanguni, lalu ia berkata : Ya Junaid, saya telah bermimpi seolah-olah berhadapan dengan Allah, lalu Allah berkata kepadaku: Hai Sari, ketika Aku menjadikan makhluk maka semua mengaku cinta kepadaKu, kemudian Aku membikin dunia, maka lari daripadaKu sembilan puluh persen (90%) dan tinggal hanya sepuluh persen (10%), kemudian Aku membuat surga, maka lari daripadaKu sembilan puluh persen dari sisanya itu, kemudian Aku membuat neraka, maka lari daripadaKu sembilan puluh persen dari sisanya itu, kemudian Aku turunkan bala' maka lari daripadaKu sembilan puluh persen dari sisa-sisa sten Abdi pads Khalanve)

itu. Maka Aku berkata kepada sisa yang tinggal itu : Dunia kamu tidak mau, surga juga kamu tidak suka, neraka kamu tidak takut, dari bala' musibat juga kamu tidak lari, maka apakah keinginanmu? Jawab : Engkau telah mengetahui keinginan kami. Aku berkata : Aku akan menuangkan kepadamu bala' yang tidak akan sanggup menanggungnya walau bukit yang besar. Sabarkah kamu ? Jawab mereka : Apabila Engkau yang menguji, maka terserahlah kepadamu (berbuatlah sekehendakmu), maka mereka itulah hambaKu yang sebenarnya.

Disalin