Jangan berpindah dari satu alam ke alam yang lain, berarti sama dengan himar (keledai) yang berputar di sekitar penggilingan, ia berjalan menuju ke tempat tujuan, tiba-tiba itu pula tempat.yang ia mula-mula berjalan daripadanya, tetapi hendaklah engkau pergi dari semua alam menuju kepada pencipta alam; Sesunggunya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan. Jangan berpindah dari syirik yang terang ke alam syirik yang samar. Amal kebaikan yang dinodai oleh riya’, sum’ah mengharap pujian orang), tidak dianggap oleh syariat/tidak diterima oleh Allah. Dan apabila telah bersih dari semua itu, kemudian beramal terdorong oleh karena menginginkan kedudukan atau kekayaan, atau kekeramatan dunia atau akherat, sebab itu masih termasuk alam hawa nafsu, tetapi belum mencapai tujuan ikhlas yang berarti bersih dari segala tujuan selain melulu kepada Allah, yakni sepi ing pamrih. Karena itu selama berpindah dari alam ke alam tidak berbeda dengan keledai yang berputar di sekitar penggilingan, tetapi seharusnya sekali berangkat dari alam langsung menuju pencipta alam. Karena itu Nabi Isa as. pernah berkata kepada sahabat hawariyyin : Semua yang ada padamu dari berbagai nikmat kesenangan itu langsung dari kurnia Allah kepadamu, maka manakah kiranya yang lebih besar harganya (nilainya) ? Apakah pemberiannya, ataukah yang memberi ? “Wa anna ila Rabbikal-muntaha” : Sesungguhnya kepada Tuhanmu itulah puncak segala tujuan. Sebab siapa yang telah mendapatkan Allah, berarti telah mencapai segala sesuatu, baikpun urusan dunia maupun urusan akherat.
116. مَنْ ظَنَّ انْفِكَاكَ لُطْفِهِ عَنْ قَدَرِهِ فَذٰلِكَ لِقُصُورِ نَظَرِهِ.
bala' ujian yang ditakdirkan oleh Allah, maka yang demikian itu disebabkan karena piciknya (dangkalnya) pandangan ımannya.
Rasulullah saw. bersabda :
لَا تَتَّهِمِ اللهَ فِي شَيْءٍ قَضَاهُ عَلَيْكَ.
Jangan menuduh tidak baik terhadap segala apa yang telah ditakdirkan Allah untukmu. Rasulullah bersabda : Jika Allah kasih pada seorang hamba, maka diuji dengan bala', maka jika sabar dipilihnya, dan jika telah rela maka diistimewakan.
Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. : Siapa yang dikehendaki oleh Allah untuknya kebaikan, maka diujinya dengan mushibah bala'.
Abuhurairah dan Abu Said ra. keduanya berkata : Bersabda Rasulullah saw. : Tiada sesuatu yang mengenai seorang mukmin berupa penderitaan atau kelelahan (penat) atau risau hati/fikiran melainkan kesemuanya itu akan menjadi penebus dosanya. (Bukhary, Muslim).
Ibn Mas'ud ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Tiada seorang muslim yang terkena mushibah bala' gangguan atau penyakit, dan yang lebih ringan dari itu melainkan Allah menggugurkan dosanya bagaikan gugurnya daun pohon. Dangkal (picik)nya pandangan, sehingga tidak dapat melihat adanya nikmat rahmat kurnia Allah dalam takdir mushibah bala' itu, hanya karena lemahnya iman keyakinan, dan tidak adanya husnudhdhan terhadap Allah ta'ala yang maha bijaksana dan rahmat. Imraan bin Hushain ra. menderita penyakit buang air tiga puluh tahun tidak dapat bergerak dari tempat tidurnya, sehingga dibuatkan lubang di bawah tempat tidur untuk kencing dan buang airnya, pada suatu hari datang saudaranya Al Alaa' atau Mutharrif bin Asysyikhkhir, lalu menangis melihat penderitaan Imraan bin Alhushain, maka ditanya oleh Imraan : Mengapakah engkau menangis ? Jawabnya : Karena saya melihat keadaanmu, berkata Imraan : Jangan menangis, karena saya suka apa yang disukai oleh Allah untukku. Kemudian Imraan berkata : Saya akan berkata kepadamu semoga bermanfaat bagimu, tetapi jangan engkau buka kepada lain'orang, sehingga aku mati. Sesungguhnya para Malaikat berziarah kepadaku dan memberi salam kepadaku, sehingga saya merasa senang dengan adanya mereka. Urwah bin Azzubair ra. ketika menderita sakit yang oleh dokter diputuskan harus dipotong betisnya, maka ketika akan dilaksanakan oleh dokter akan diberi obat tidur supaya tidak terasa sakitnya dipotong betisnya itu, berkata Urwah : Jangan diberi obat tidur, tetapi teruskan potong betis tanpa obat tidur. Dan ketika digergaji betisnya tidak terdengar keluhan, kecuali ucapan Hasbi (cukup bagiku) yakni rahmat Allah). Dan setelah selesai operasinya, ia menyuruh pesuruhnya supaya mencuci dan membungkus potongan betisnya itu dan menguburkan- nya di kuburan kaum muslimin, lalu ia berkata : Allah telah mengetahui bahwa kaki itu tidak pernah saya gunakan berjalan kepada maksiat, lalu ia berkata : Ya Allah, jika Engkau ambil maka banyak sisanya, jika Engkau memberi bala' masih banyak selamatnya.
bala' ujian yang ditakdirkan oleh Allah, maka yang demikian itu disebabkan karena piciknya (dangkalnya) pandangan ımannya.
Rasulullah saw. bersabda :
لَا تَتَّهِمِ اللهَ فِي شَيْءٍ قَضَاهُ عَلَيْكَ.
Jangan menuduh tidak baik terhadap segala apa yang telah ditakdirkan Allah untukmu. Rasulullah bersabda : Jika Allah kasih pada seorang hamba, maka diuji dengan bala', maka jika sabar dipilihnya, dan jika telah rela maka diistimewakan.
Abuhurairah ra. berkata : Bersabda Rasulullah saw. : Siapa yang dikehendaki oleh Allah untuknya kebaikan, maka diujinya dengan mushibah bala'.
Abuhurairah dan Abu Said ra. keduanya berkata : Bersabda Rasulullah saw. : Tiada sesuatu yang mengenai seorang mukmin berupa penderitaan atau kelelahan (penat) atau risau hati/fikiran melainkan kesemuanya itu akan menjadi penebus dosanya. (Bukhary, Muslim).
Ibn Mas'ud ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Tiada seorang muslim yang terkena mushibah bala' gangguan atau penyakit, dan yang lebih ringan dari itu melainkan Allah menggugurkan dosanya bagaikan gugurnya daun pohon. Dangkal (picik)nya pandangan, sehingga tidak dapat melihat adanya nikmat rahmat kurnia Allah dalam takdir mushibah bala' itu, hanya karena lemahnya iman keyakinan, dan tidak adanya husnudhdhan terhadap Allah ta'ala yang maha bijaksana dan rahmat. Imraan bin Hushain ra. menderita penyakit buang air tiga puluh tahun tidak dapat bergerak dari tempat tidurnya, sehingga dibuatkan lubang di bawah tempat tidur untuk kencing dan buang airnya, pada suatu hari datang saudaranya Al Alaa' atau Mutharrif bin Asysyikhkhir, lalu menangis melihat penderitaan Imraan bin Alhushain, maka ditanya oleh Imraan : Mengapakah engkau menangis ? Jawabnya : Karena saya melihat keadaanmu, berkata Imraan : Jangan menangis, karena saya suka apa yang disukai oleh Allah untukku. Kemudian Imraan berkata : Saya akan berkata kepadamu semoga bermanfaat bagimu, tetapi jangan engkau buka kepada lain'orang, sehingga aku mati. Sesungguhnya para Malaikat berziarah kepadaku dan memberi salam kepadaku, sehingga saya merasa senang dengan adanya mereka. Urwah bin Azzubair ra. ketika menderita sakit yang oleh dokter diputuskan harus dipotong betisnya, maka ketika akan dilaksanakan oleh dokter akan diberi obat tidur supaya tidak terasa sakitnya dipotong betisnya itu, berkata Urwah : Jangan diberi obat tidur, tetapi teruskan potong betis tanpa obat tidur. Dan ketika digergaji betisnya tidak terdengar keluhan, kecuali ucapan Hasbi (cukup bagiku) yakni rahmat Allah). Dan setelah selesai operasinya, ia menyuruh pesuruhnya supaya mencuci dan membungkus potongan betisnya itu dan menguburkan- nya di kuburan kaum muslimin, lalu ia berkata : Allah telah mengetahui bahwa kaki itu tidak pernah saya gunakan berjalan kepada maksiat, lalu ia berkata : Ya Allah, jika Engkau ambil maka banyak sisanya, jika Engkau memberi bala' masih banyak selamatnya.
010. الْأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا وُجُودُ سِرِّ الْإِخْلاَصِ فِيهَا.
Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa)nya, ialah terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan itu. Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya, maka keikhlasan orang abrar, apabila amal perbuatan itu telah bersih dari riyaa' yang jelas maupun yang samar, sedang tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hambaNya yang ikhlas. Dan ini terambil dari ayat : "Iyyaaka na'budu : Hanya kepadaMu kami menyembah, dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam ibadatku ini kepada sesuatu yang lain. Adapun keikhlasan orang-orang mugarrabin ialah menterapkan pengertian : "Laa haula walaa quwwata illaa billaahi" : Tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apapun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada daya kekuatan sendiri, sedang semua itu hanya daripada Allah, ia merasa bahwa semua amal perbuatan semata-mata kurnia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayat dan taufiq, ini terambil dari ayat : "Iyyaaka nasta' iin" Hanya kepadaMu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya. Amal orang abrar dinamakan amal lillah : Beramal karena Allah. Sedangkan amal mugarrabin dinamakan : Amal billahi : Beramal dengan bantuan kurnia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum lahir, sedangkan amal billahi menembus ke dalam perasaan hati. Seorang guru berkata : Perbaikilah amal perbuatan- mu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri, sedang semua kejadian itu hanya semata- mata karena bantuan pertolongan Allah ta'ala.
Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa)nya, ialah terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan itu. Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya, maka keikhlasan orang abrar, apabila amal perbuatan itu telah bersih dari riyaa' yang jelas maupun yang samar, sedang tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hambaNya yang ikhlas. Dan ini terambil dari ayat : "Iyyaaka na'budu : Hanya kepadaMu kami menyembah, dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam ibadatku ini kepada sesuatu yang lain. Adapun keikhlasan orang-orang mugarrabin ialah menterapkan pengertian : "Laa haula walaa quwwata illaa billaahi" : Tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apapun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada daya kekuatan sendiri, sedang semua itu hanya daripada Allah, ia merasa bahwa semua amal perbuatan semata-mata kurnia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayat dan taufiq, ini terambil dari ayat : "Iyyaaka nasta' iin" Hanya kepadaMu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya. Amal orang abrar dinamakan amal lillah : Beramal karena Allah. Sedangkan amal mugarrabin dinamakan : Amal billahi : Beramal dengan bantuan kurnia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum lahir, sedangkan amal billahi menembus ke dalam perasaan hati. Seorang guru berkata : Perbaikilah amal perbuatan- mu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri, sedang semua kejadian itu hanya semata- mata karena bantuan pertolongan Allah ta'ala.
197. مَنْ أُذِنَ لَهُ فِي التَّعْبِيرِ فُهِّمَتْ فِي مَسَامِعِ الْخَلْقِ عِبَارَتُهُ، وَجُلِّيَتْ إِلَيْهِمْ إِشَارَتُهُ.
Şiapa yang telah mendapat izin dari Allah untuk berkata- kata (menerangkan), maka segala kata-katanya dapat dimengerti oleh pendengarannya, dan semua isyarat petunjuknya dapat terang jelas Orang yang diizinkan itu ialah yang berbicara Lillahi wa billahi wa fillah. Karena Allah dan dengan bantuan Allah, dan dalam tuntunan hukum Allah. Hamdun bin Ahmad bin Umarah Algashshar ketika ditanya : Mengapakah kata-kata orang dahulu jauh lebih berguna dari ajaran kita ini ? Jawabnya : Karena mereka bicara (berkata) untuk kemuliaan Islam, dan keselamatan jiwa dan untuk mendapat keridhaan Allah. Sedang kami bicara untuk kemuliaan diri dan mencari dunia, dan keridhaan (penerima) makhluk. Al-Junaid berkata : Kalimat yang benar itu hanya yang diucapkan setelah mendapat izin. Sebagaimana firman Allah :
لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا (النبأ: ٣٨)
Mereka tidak dapat berkata-kata, kecuali yang diizinkan oleh Arrahman (Allah dan berkata benar (tepat).
Şiapa yang telah mendapat izin dari Allah untuk berkata- kata (menerangkan), maka segala kata-katanya dapat dimengerti oleh pendengarannya, dan semua isyarat petunjuknya dapat terang jelas Orang yang diizinkan itu ialah yang berbicara Lillahi wa billahi wa fillah. Karena Allah dan dengan bantuan Allah, dan dalam tuntunan hukum Allah. Hamdun bin Ahmad bin Umarah Algashshar ketika ditanya : Mengapakah kata-kata orang dahulu jauh lebih berguna dari ajaran kita ini ? Jawabnya : Karena mereka bicara (berkata) untuk kemuliaan Islam, dan keselamatan jiwa dan untuk mendapat keridhaan Allah. Sedang kami bicara untuk kemuliaan diri dan mencari dunia, dan keridhaan (penerima) makhluk. Al-Junaid berkata : Kalimat yang benar itu hanya yang diucapkan setelah mendapat izin. Sebagaimana firman Allah :
لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا (النبأ: ٣٨)
Mereka tidak dapat berkata-kata, kecuali yang diizinkan oleh Arrahman (Allah dan berkata benar (tepat).