Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

043. أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ وَشَهْوَةٍ: الرِّضَا عَنِ النَّفْسِ، وَأَصْلُ كُلِّ طَاعَةٍ وَيَقَظَةٍ وَعِفَّةٍ: عَدَمُ الرِّضَا مِنْكَ عَنْهَا.

Pokok dari semua maksiat dan kelalaian serta syahwat itu, karena ingin memuaskan hawa nafsu. Sedang pokok dari segala ketaatan, kesadaran dan kesopanan akhlak budi, ialah karena ada pengekangan (penahanan) terhadap hawa nafsu. Sebagaimana firman Allah :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ (يوسف: ٥٣)

Dan Aku tidak mengakui kebersihan diriku, karena hawa nafsu itu selalu mengajak (menyuruh) berbuat kejahatan, kecuali bagi siapa yang mendapat rahmat (perlindungan) Tuhan, sungguh Tuhanku maha pengampun lagt penyayang.

(Yusuf 53).

Abu Hafsh berkata : Siapa yang tidak menuduh hawa nafsunya sepanjang masa, dan tidak menentangnya dalam segala hal, dan tidak menariknya ke jalan kebaikannya, maka ia telah tertipu. Dan siapa yang memandang padanya dengan merasa sudah baik, berarti telah membinasakannya.

Al-Junaid berkata : Jangan mempercayai hawa nafsumu, meskipun telah lama taat kepadamu, untuk berbuat ibadat kepada Tuhanmu. AI-Bushiry dalam Burdahnya berkata : Tentang selalu hawa nafsu dan syaithan dan jangan menurutkan keduanya, meskipun keduanya itu memberi nasehat kepadamu untuk berbuat kebaikan, tetap engkau harus curiga dan berhati-hati.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

119. لاَ تُطَالِبْ رَبَّكَ بِتَأَخُّرِ مَطْلَبِكَ، وَلٰكِنْ طَالِبْ نَفْسَكَ بِتَأَخُّرِ أَدَبِكَ.

Jangan menuntut Tuhan karena terlambatnya permintaan yang telah engkau minta kepada Tuhan, tetapi hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban- kewajibanmu terhadap Tuhanmu. Jika tidak tercapai hajat permintaanmu, maka jangan engkau mempunyai sangkaan jahat terhadap Allah, sebab Allah tidak dapat dituntut terhadap apa saja yang diperbuat, tetapi hendaknya perminta- anmu itu semata-mata untuk menunjukkan sifat kehambaanmu kepada Allah, dan hajat kebutuhanmu kepadaNya. Sebab terhadap segala kepentinganmu Allah tidak usah diingatkan, bahkan Allah telah melengkapi segala kebutuhanmu sebelum kau mengerti apakah hajat kebutuhanmu yang sebenarnya. Maka sebaiknya bila kau menyerah sebulat-bulatnya tanpa reserve tanpa usul apa-apa kepada Allah, hanya itulah yang dapat menenangkan jiwa fikiranmu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

037. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ، فَالْمُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الحَقَّ لِأَهْلِهِ فَأَثْبَتَ الْأَمْرَ مِنْ وُجُودِ أَصْلِهِ، وَالاِسْتِدْلاَلُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُولِ إِلَيْهِ، وَإِلاَّ فَمَتَى غَابَ حَتَّى تُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ، وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُونَ الْآثَارُ هِيَ الَّتِي تُوصِلُ إِلَيْهِ.

Jauh berbeda antara orang yang berdalil; adanya Allah menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berdalil; bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya Allah. Orang yang berdalil adanya Allah menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan meletakkan pada tempatnya, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya. Sedang orang yang berdalil adanya alam menunjukkan adanya Allah, karena ia tidak sampai kepada Allah. Maka bilakah Allah itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahuinya. Dan bilakah Allah itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepadanya.

Firman Allah :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل: ٧٨)

Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepadamu pendengaran dan penglihatan serta fikiran (perasaan), supaya kamu bersyukur. (S. An-Nahi 78). Memang asal mula kejadian manusia bodoh tidak mengetahui apa- apa, kemudian Allah memberinya alat untuk mengetahui dan mengenal- Nya, pendengaran, penglihatan, perasaan dan fikiran semua alat mengenal Allah itu supaya manusia bersyukur, sebab dengan bersyukur itu manusia sempurna dan sejahtera hidupnya, yaitu setelah mengenal kepada Tuhan Allah yang menjadikan dan menjamin segala hajat kebutuhannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

221. مَا فَاتَ مِنْ عُمْرِكَ لاَ عِوَضَ لَهُ، وَمَا حَصَلَ لَكَ مِنْهُ لاَ قِيمَةَ لَهُ.

Yang telah hilang dari umur (usia) hidupmu tidak dapat ditarik kembali, sedang yang telah berhasil bagimu, tidak dapat dinilai harganya. Waktu itu sangat berharga karena itu jangan digunakan kecuali untuk sesuatu yang berharga. Adapula kata : Waktu itu adalah uang. Kata ahli sya'ir : Saat-saat dalam usia hidupmu itu bagaikan berlian yang sangat berharga, karena itu jadikanlah masa dan saat-saat yang berharga itu untuk mencapai kejayaan dunia akheratmu dan kebahagiaan.

Rasulullah saw. bersabda : Tiada sesuatu saat/masa yang datang pada seorang hamba, kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah dalam saat itu, melainkan saat itu akan merupakan kemenyesalan pada hari qiamat. Kelak pada hari qiamat saat-saat umur manusia pada tiap hari dan malam itu akan diperlihatkan berupa 24 lemari yang berbaris, maka dapat melihat masing-masing lemari itu penuh dengan nikmat pembalasan, terhadap amal perbuatan yang dilakukan pada saat itu, adapun saat-saat yang tidak beramal apa-apa didalamnya, maka lemarinya pun kosong, maka di situlah letak kemenyesalan yang tidak terhingga. Dan sesal kemudian tetap tidak berguna.

Disalin