Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

024. يَا عَجَبًا كَيْفَ يَظْهَرُ الْوُجُودُ فِي العَدَمِ، أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الحَادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ الْقِدَمِ.

Alangkah ajaibnya (sungguh sangat ajaib), bagaimana tampak wujud di dalam adam (tidak ada). Atau bagaimana dapat bertahan sesuatu yang hancur itu, di samping dzat yang bersifat gidam. Yakni sesuatu yang hakikatnya tidak ada bagaimana dapat tampak ada wujudnya. Hakikat adam (tidak ada) itu gelap, sedangkan wujud itu bagaikan nur terang. Demikian pula batil dan hak. Batil itu harus rusak hancur. Sedang hak itulah yang harus tetap kuat bertahan.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

248. إِذَا عَلِمْتَ أَنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَغْفُلُ عَنْكَ فَلاَ تَغْفُلْ أَنْتَ عَمَّنْ نَاصِيَتُكَ بِيَدِهِ.

Jika engkau telah mengetahui bahwa syaithan itu tidak pernah lupa kepadamu, maka engkau jangan lupa terhadap Tuhan yang nasibmu ada di tanganNya.

Firman Allah :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا (فاطر: ٦)

Sesungguhnya syaithan itu musuhmu, maka nyatakanlah ia sebagai musuh. (Fathir 6). Yakni waspadalah daripadanya, karena ia sebagai musuh yang tidak ada masa damainya.

Abul-Abbas Almarsy berkata : Dalam memahami ayat ini ada suatu kaum yang berfaham bahwa mereka diperintah untuk memusuhi syaithan maka mereka mengerahkan segala tenaga untuk memusuhi, tetapi lain golongan mengartikan : Sesungguhnya, syaithan musuhmu, dan Aku (Allah) kekasihmu, maka orang-orang ini sibuk kepada yang dicintai dan lupa pada musuhnya, akhirnya Allah sendiri yang melindungi kekasihnya dari gangguan syaithan sebagai musuh itu.

Abu Hasim berkata : Siapakah syaithan itu sehingga harus ditakuti, demi Allah ia sudah pernah diikuti tetapi sama sekali tidak berguna menurut kepadanya, begitu pula ketika dilanggar maka juga tidak dapat berbuat apa-apa.

Abu Sulaiman Addarany berkata : Tidak ada makhluk yang lebih rendah dari syaithan, dan andaikan Allah tidak menyuruh kami berlindung kepada Allah daripadanya, niscaya saya tidak merasa gentar sama sekali daripada syaithan. Dzinnun Almisry berkata : Jika syaithan itu dapat melihat engkau dari arah yang tidak dapat anda melihatnya, maka Allah melihat padanya dari arah yang dia tidak melihat kepada Allah, karena itu berlindunglah kepada Allah dari gangguan syaithan. Malik bin Dinar berkata : Suatu musuh yang dapat melihat padamu sedang kau tidak dapat melihatnya, sungguh sukar perlawanannya, kecuali jika dilindungi oleh Allah.

Abu Saied Alkhudry berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda : Iblis berkata kepada Tuhan : Demi kemuliaan dan kebesaranMu, saya tetap akan menyesatkan anak Adam selama ada

ruh dikandung badannya, maka dijawab oleh Allah : Demi kemuliaan dan kebesaranKu : Saya tetap akan mengampunkan anak Adam selama mereka minta ampun (membaca istighfar) kepadaKu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

220. حُقُوقٌ فِي الْأَوْقَاتِ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا، وَحُقُوقُ الْأَوْقَاتِ لاَ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا، إِذْ مَا مِنْ وَقْتٍ يَرِدُ إِلاَّ وَلِلَّهِ عَلَيْكَ فِيهِ حَقٌّ جَدِيدٌ وَأَمْرٌ أَكِيدٌ، فَكَيْفَ تَقْضِي فِيهِ حَقَّ غَيْرِهِ وَأَنْتَ لَمْ تَقْضِ حَقَّ اللهِ فِيهِ.

Kewajiban-kewajiban di dalam waktu dapat di godho'inya, tetapi hak-hak yang disediakan oleh Allah dalam waktu tidak dapat diulanginya. Sebab tiada suatu waktu melainkan ada hak kewajiban yang baru dan perintah yang ditekankan, maka bagaimanakah engkau akan menyelesaikan hak lainnya, sedang engkau belum menyelesaikan hak Allah dalam waktu itu. Kewajiban dalam waktu seperti sembahyang, puas jika tidak dikerjakan dalam waktunya dapat digodho'inya, tetap hak-hak waktu itu sendiri yakni apa yang disediakan oleh Allah untuk waktu itu, jika tidak diambil, tidak dilaksanakan menurut tuntunannya, tidak dapat digodho'inya, yaitu waktu menerima nikmat atau taat, atau teruji dengan bala' dan maksiat, yaitu masa yang harus bersyukur, dan masa di mana ia harus bersabar dan istighfar, apabila telah berubah masanya maka berubahlah hak kewajibannya, sehingga tidak dapat digunakan untuk menggodho'i apa yang tertinggal pada masa yang telah lampau itu.

Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang diberi lalu bersyukur, dan diuji lalu sabar, dan dianiaya lalu memaafkan dan berdosa lalu minta ampun. Kemudian Rasulullah saw. diam sejenak. Sahabat bertanya : Kemudian apakah ya Rasulullah saw. untuknya ? Jawab Nabi saw. :

أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ (الأنعام: ٨٢)

Merekalah yang pasti mendapatkan kesejahteraan, dan merekalah orang yang mendapat petunjuk hidayat.

Hikam Ibnu 'Atoillah

257. جَعَلَكَ فِي الْعَالَمِ الْمُتَوَسِّطِ بَيْنَ مُلْكِهِ وَمَلَكُوتِهِ لِيُعْلِمَكَ جَلاَلَةَ قَدْرِكَ بَيْنَ مَخْلُوقَاتِهِ، وَأَنَّكَ جَوْهَرٌ تَنْطَوِي عَلَيْكَ أَصْدَافُ مُكَوَّنَاتِهِ.

Allah sengaja menempatkan engkau dalam alam yang pertengahan antara alam mulk (dunia) dan alam malakut (ghaib) untuk memberimu pengetahuan tentang kebesaran kedudukanmu diantara semua makhluk, dan bahwa engkau sebagai permata yang diliputi/ dikelilingi oleh wadah tempatnya yang berupa alam ini.

Abul-Abbas Almarsy ra. berkata : Isi alam ini semua bagaikan hamba tunduk padamu hai manusia, sedang engkau hanya hamba Allah ta'ala semata-mata. Tersebut dalam kitab-kitab Allah yang terdahulu : Hai anak Adam, Akulah (Allah kepentinganmu/kebutuhanmu) yang tidak dapat engkau abaikan, karena itu tetaplah engkau pada apa yang engkau butuhkan itu.

Allah juga berfirman : Hai anak Adam, Aku jadikan segala sesuatu untukmu dan aku jadikan engkau untukku, karena itu jangan sibuk dengan apa yang pasti datang kepadamu, sehingga meninggalkan apa yang engkau dijadikan untukNya.

Firman Allah :

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا (البقرة: ٢٩)

Dialah Allah yang menjadikan untuk kamu semua apa yang di bumi.

Firman Allah :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات: ٥٦)

Tiadalah Aku menjadikan manusia dan jin kecuali supaya ibadah kepadaKu. Al-Wasithy dalam menafsirkan ayat : Sungguh Kami (Allah) telah memuliakan anak Adam (manusia). Yakni Kami serahkan kepada mereka alam seisinya supaya mereka tidak bingung atau tertipu oleh sesuatu dan supaya bulat melulu beribadah (mengabdikan diri kepada Allah).

Disalin