Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

010. الْأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا وُجُودُ سِرِّ الْإِخْلاَصِ فِيهَا.

Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa)nya, ialah terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan itu. Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya, maka keikhlasan orang abrar, apabila amal perbuatan itu telah bersih dari riyaa’ yang jelas maupun yang samar, sedang tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hambaNya yang ikhlas. Dan ini terambil dari ayat : “Iyyaaka na’budu : Hanya kepadaMu kami menyembah, dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam ibadatku ini kepada sesuatu yang lain. Adapun keikhlasan orang-orang mugarrabin ialah menterapkan pengertian : “Laa haula walaa quwwata illaa billaahi” : Tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apapun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada daya kekuatan sendiri, sedang semua itu hanya daripada Allah, ia merasa bahwa semua amal perbuatan semata-mata kurnia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayat dan taufiq, ini terambil dari ayat : “Iyyaaka nasta’ iin” Hanya kepadaMu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya. Amal orang abrar dinamakan amal lillah : Beramal karena Allah. Sedangkan amal mugarrabin dinamakan : Amal billahi : Beramal dengan bantuan kurnia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum lahir, sedangkan amal billahi menembus ke dalam perasaan hati. Seorang guru berkata : Perbaikilah amal perbuatan- mu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri, sedang semua kejadian itu hanya semata- mata karena bantuan pertolongan Allah ta’ala.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

048. لاَ تَرْفَعَنَّ إِلَى غَيْرِهِ حَاجَةً هُوَ مُورِدُهَا عَلَيْكَ، فَكَيْفَ يَرْفَعُ غَيْرَهُ مَا كَانَ هُوَ لَهُ وَاضِعًا. مَنْ لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَةً عَنْ نَفْسِهِ فَكَيْفَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَكُونَ لَهَا عَنْ غَيْرِهِ رَافِعًا.

Jangan mengadu/meminta sesuatu hajat kepada lain Allah, sebab la sendiri yang memberi/menurunkan hajat itu kepadamu. Maka bagaimanakah sesuatu selain Allah akan dapat menyingkirkan sesuatu yang diletakkan oleh Allah. Siapa yang tidak dapat menyingkirkan bencana yang menimpa dirinya sendiri, maka bagaimanakah akan dapat menyingkirkan bencana dari lainnya. Tibanya sesuatu bencana itu menyebabkan engkau berhajat kepada bantuan pertolongan, maka dalam tiap hajat jangan mengharap kepada lain Allah, sebab segala sesuatu selain Allah itu juga berhajat seperti kau. Sebab siapa yang menyandar (menggantungkan nasib) pada sesuatu selain Allah, berarti tertipu oleh sesuatu bayangan khayal, sebab tidak ada yang tetap selain Allah yang selalu tetap karunia dan nikmat rahmatNya kepadamu. Athaa* Al-Khurasani berkata : Saya bertemu dengan wahb bin Munabbih di suatu jalan, maka saya berkata : Ceritakan kepadaku suatu hadits yang dapat saya ingat, tetapi persingkatlah. Maka berkata Wahb : Allah telah mewahyukan kepada nabi Dawud as : Hai Dawud, demi kemuliaan dan kebesaranKu, tiada seorang hambaKu yang minta tolong kepadaKu dengan sungguh-sungguh kepadaKu, tidak pada lainnya, dan saya ketahui yang demikian dari niatnya, kemudian orang itu akan diperdaya oleh penduduk langit yang tujuh dan bumi yang tujuh, melainkan pasti Aku akan meng- hindarkannya dari semua itu, sebaliknya demi kemuliaan dan kebesaranKu, tiada seorang yang berlindung kepada seorang makhlukKu, tidak kepadaKu dan Aku ketahui yang demikian dari niatnya melainkan Aku putuskan ia dari rahmat yang dari langit, dan Aku longsorkan bumi di bawahnya, dan tidak Aku hiraukan dalam lembah jurang yang mana ia binasa.

Muhammad bin Husain bin Hamdan berkata : Ketika saya di majlis Yazid bin Harun, saya bertanya kepada seorang yang duduk di sampingku : Siapakah namamu? Jawabnya : Saied. Saya bertanya : Siapakah gelarmu ? Jawabnya : Abu Usman. Lalu saya bertanya tentang keadaannya. Jawabnya : Kini telah habis belanjaku. Lalu saya tanya : Dan siapakah yang engkau harapkan untuk kepentinganmu itu ? Jawab- nya : Yazid bin Harun. Maka saya berkata kepadanya : Jika demikian , maka ia tidak menyampaikan hajatmu, dan tidak akan membantu/ meringankan kebutuhanmu. Dia bertanya : Dari mana engkau mengetahui hal itu ? Jawabku : Saya telah membaca dalam sebuah kitab : Bahwasanya Allah telah berfirman : Demi kemuliaanKu dan kebesaranKu, dan kemurahanKu dan ketinggian kedudukanKu, di atas arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yang mengharap kepada lainKu dengan kekecewaan, dan akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di mata orang, dan Aku singkirkan ia dari dekatku, dan Aku putuskan dari hubunganku. Mengapa ia mengharap lain Ku dalam kesukaran, padahal kesukaran itu di tanganku, dan Aku dapat menyingkirkannya, dan mengharapkan kepada lainKu serta mengetuk pintu lain, padahal kunci pintu-pintu itu tertutup, hanya pintuKu yang terbuka bagi siapa yang berdoa minta kepadaKu. Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesukarannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena besar dosanya, lalu Aku putuskan harapannya? Atau siapakah yang pernah mengetuk pintuKu, lalu tidak Aku bukakan ? Aku telah mengadakan hubungan yang langsung antaraKu dengan angan-angan dan harapan semua makhlukKu, maka mengapakah kau bersandar kepada lainKu. Dan Aku telah menyediakan semua harapan hambaKu, tetapi tidak puas dengan perlindunganKu, dan Aku telah memenuhi langitKu dengan makhluk yang tidak jemu bertasbih kepadaKu dari para Malaikat dan Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antaraKu dengan para hambaKu, tetapi mereka tidak percaya kepada sabdaKu. Tidakkah mengetahui bahwa siapa yang ditimpa oleh bencana yang Aku turunkan, tiada yang dapat menyingkirkannya selain Aku, maka mengapakah Aku melihat ia dengan segala angan-angan harapannya selalu berpaling dari padaKu, mengapakah ia tertipu oleh lainKu. Aku telah memberi kepadanya dengan kemurahanKu apa-apa yang tidak ia minta, kemudian Aku yang mencabut dari padanya lalu ia tidak minta kepadaKu untuk mengembalikannya, dan minta kepada lainKu. Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, kemudian jika dimintai lalu tidak memberi an Abd pede Khalonye)

kepada peminta ? Apakah aku bakhil (kikir), sehingga dianggap bakhil oleh hambaKu. Tidakkah dunia dan akherat itu semua milikKu ? Tidakkah semua rahmat dan kurnia itu di tanganKu ? Tidakkah derma- wan dan kemurahan itu sifatKu ? Tidakkah hanya Aku tempat semua harapan ? Maka siapakah yang dapat memutuskannya daripadaKu. Dan apapula yang diharapkan oleh orang-orang yang mengharap, andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi : Mintalah kepadaKu, kemudian Aku memberi kepada masing-masing orang fikiran apa yang terfikir pada semuanya, lalu Aku beri semua itu tidak akan mengurangi kekayaanKu meskipun sekecil debu ? Maka bagaimana akan berkurang kekayaan yang lengkap, sedang Aku yang mengawasinya ? Alangkah sial (celaka) orang yang putus dari rahmatKu, alangkah kecewa orang maksiat kepadaKu dan tidak memperhatikan Aku, dan tetap melakukan yang haram dan tiada malu kepadaKu. Maka orang itu berkata : Ulangilah keteranganmu itu, lalu menulisnya. Kemudian ia berkata : Demi Allah setelah ini saya tidak usah menulis suatu keterangan yang lain.

Hikam Ibnu 'Atoillah

151. أَبَاحَ لَكَ أَنْ تَنْظُرَ مَا فِي الْمُكَوَّنَاتِ، وَمَا أَذِنَ لَكَ أَنْ تَقِفَ مَعَ ذَوَاتِ الْمُكَوَّنَاتِ، قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمٰوَاتِ، فَتَحَ لَكَ بَابَ الْأَفْهَامِ، وَلَمْ يَقُلِ انْظُرُوا السَّمٰوَاتِ، لِئَلاَّ يَدُلَّكَ عَلَى وُجُودِ الْأَجْرَامِ.

Allah mengizinkan engkau melihat alam şekitarmu, tetapi Allah tidak mengizinkan engkau berhenti pada benda-benda alam, sebagaimana firman Allah : Katakanlah : Perhatikanlah apa yang di langit-langit itu Allah membukakan bagimu jalan untuk mengerti, karena itu ia tidak berkata : Perhatikanlah langit-langit itu. Supaya tidak menunjukkan kepadamu adanya benda-benda itu. Sebab benda-benda itu adalah buatan yang rusak dan tidak kekal, maka jangan sampai tertipu sehingga kau kirakan berdiri sendiri, seolah-olah terlepas dari ketentuan Allah. Dalam kitab Latha'iful-iman tersebut : Alam benda ini tidak ditegakkan untuk engkau perhatikan, tetapi untuk engkau perhatikan padanya kebesaran kekuasaan Tuhan yang mengatur.

Hikam Ibnu 'Atoillah

274. الْفِكْرَةُ سِرَاجُ الْقَلْبِ، فَإِذَا ذَهَبَتْ فَلاَ إِضَاءَةَ لَهُ.

Pikiran itu sebagai pelita hati, maka bila ia padam, maka tidak ada penerangan baginya. Karena itu hati yang tidak suka merenungkan kebesaran kekuasaan Allah maka selalu gelap, karena diliputi oleh kebodohan dan tipu daya.

Disalin