Istirahatkan dirimu/fikiranmu daripada kerisauan mengatur kebutuhan duniamu, sebab apa yang sudah dijamin/diselesaikan oleh lainmu, tidak usah kau sibuk memikirkannya . Sebagai seorang hamba wajib dan harus melulu mengenal kewajiban, sedang jaminan upah ada ditangan majikan, maka tidak usah risau fikiran perasaan untuk mengatur, karena kuatir kalau apa yang telah dijamin itu tidak tiba, atau terlambat, sebab ragu terhadap jaminan Allah tanda kurangnya iman.
276. وَقَالَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مِمَّا كَتَبَ بِهِ لِبَعْضِ إِخْوَانِهِ: أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ الْبِدَايَاتِ مَرْآةُ النِّهَايَاتِ، وَإِنَّ مَنْ كَانَتْ بِاللهِ بِدَايَتُهُ كَانَتْ إِلَيْهِ نِهَايَتُهُ.
Berkată Ibn Atha'allah dalam surat yang ditulis untuk kawan-kawannya : Amma ba'du : Sesungguhnya bidayah (permulaan) itu bagaikan cermin yang memperlihatkan nihayah (puncak akhirnya). Dan siapa yang sejak mula (bidayahnya) selalu bersandar kepada Allah, maka pasti akhirnya (nihayahnya) akan sampai kepada Allah).
Berkată Ibn Atha'allah dalam surat yang ditulis untuk kawan-kawannya : Amma ba'du : Sesungguhnya bidayah (permulaan) itu bagaikan cermin yang memperlihatkan nihayah (puncak akhirnya). Dan siapa yang sejak mula (bidayahnya) selalu bersandar kepada Allah, maka pasti akhirnya (nihayahnya) akan sampai kepada Allah).
140. مَا طَلَبَ لَكَ شَيْءٌ مِثْلُ الاِضْطِرَارِ، وَلاَ أَسْرَعَ بِالْمَوَاهِبِ إِلَيْكَ مِثْلُ الذِّلَّةِ وَالاِفْتِقَارِ.
Tiada sesuatu yang dapat menyegerakan tercapainya permintaan hajatmu seperti keadaan terpaksa, dan tiada sesuatu yang dapat menyegerakan tibanya pemberian-pemberian kurnia Allah seperti merasa rendah diri dan sangat fakir miskin.
Firman Allah :
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ. (النمل: ٦٢)
Siapakah yang dapat memperkenankan (menyambut) doa orang yang terpaksa bila berdoa minta padanya? (An Naml 62). Orang mudh-thar (yang terpaksa) itu ialah yang merasa sudah tidak ada daya dan tidak ada kekuatan lain yang dapat menolongnya, baik dari
luar atau dari dirinya sendiri, kecuali satu yaitu Allah semata-mata. Orang demikianlah yang pasti segera tercapai hajat kebutuhannya, dan itulah yang bernamatauhid (meng-Esakan Allah). Hal orang ini bagaikan orang yang akan tenggelam di lautan, atau tersesat di hutan belukar yang seram sekah.
Firman Allah :
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ (آل عمران: ١٢٣)
Sungguh Allah telah membantu kamu (me nangkan kamu) dalam perang badar, ketika kamu dalam keadaan hi na dan rendah diri tidak berdaya.
Firman Allah :
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ. (التوبة: ٦٠)
Sungguhnya sedekah pemberian itu hanya untuk orang yang benar-benar fakir miskin. At trna ran. Ketiga macam hal inilah yang paling cepat untuk menyampaikan atau mendatangkan kurnia pemberian Tuhan. Seorang yang terpaksa karena benar-benar telah merasa tidak ada lagi yang dapat menolong kepadanya, kecuali rahmat kurnia Allah, sebab ia sendiri telah begitu miskin dari segala apa yang dapat diguna- kan untuk memancing apa-apa dari Tuhan, maka hanya bergantung pada rahmat karunia Tuhan semata-mata. Maka dengan demikian ia merasa rendah betul, sebab ia minta tetapi tanpa sesuatu yang diajukan untuk layaknya ia menerima pemberian itu.
Rasulullah saw. bersabda :
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ.
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata-mata, kalimat ini suatu kekayaan dari kekayaan surga. Berarti orang yang mempergunakannya, maka ia bagaikan hidup pemberianNya.
Tiada sesuatu yang dapat menyegerakan tercapainya permintaan hajatmu seperti keadaan terpaksa, dan tiada sesuatu yang dapat menyegerakan tibanya pemberian-pemberian kurnia Allah seperti merasa rendah diri dan sangat fakir miskin.
Firman Allah :
أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ. (النمل: ٦٢)
Siapakah yang dapat memperkenankan (menyambut) doa orang yang terpaksa bila berdoa minta padanya? (An Naml 62). Orang mudh-thar (yang terpaksa) itu ialah yang merasa sudah tidak ada daya dan tidak ada kekuatan lain yang dapat menolongnya, baik dari
luar atau dari dirinya sendiri, kecuali satu yaitu Allah semata-mata. Orang demikianlah yang pasti segera tercapai hajat kebutuhannya, dan itulah yang bernamatauhid (meng-Esakan Allah). Hal orang ini bagaikan orang yang akan tenggelam di lautan, atau tersesat di hutan belukar yang seram sekah.
Firman Allah :
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنتُمْ أَذِلَّةٌ (آل عمران: ١٢٣)
Sungguh Allah telah membantu kamu (me nangkan kamu) dalam perang badar, ketika kamu dalam keadaan hi na dan rendah diri tidak berdaya.
Firman Allah :
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ. (التوبة: ٦٠)
Sungguhnya sedekah pemberian itu hanya untuk orang yang benar-benar fakir miskin. At trna ran. Ketiga macam hal inilah yang paling cepat untuk menyampaikan atau mendatangkan kurnia pemberian Tuhan. Seorang yang terpaksa karena benar-benar telah merasa tidak ada lagi yang dapat menolong kepadanya, kecuali rahmat kurnia Allah, sebab ia sendiri telah begitu miskin dari segala apa yang dapat diguna- kan untuk memancing apa-apa dari Tuhan, maka hanya bergantung pada rahmat karunia Tuhan semata-mata. Maka dengan demikian ia merasa rendah betul, sebab ia minta tetapi tanpa sesuatu yang diajukan untuk layaknya ia menerima pemberian itu.
Rasulullah saw. bersabda :
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ.
Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah semata-mata, kalimat ini suatu kekayaan dari kekayaan surga. Berarti orang yang mempergunakannya, maka ia bagaikan hidup pemberianNya.
254. الْمُؤْمِنُ يُشْغِلُهُ الثَّنَاءُ عَلَى اللهِ تَعَالَى عَنْ أَنْ يَكُونَ لِنَفْسِهِ شَاكِرًا، وَتُشْغِلُهُ حُقُوقُ اللهِ عَنْ أَنْ يَكُونَ لِحُظُوظِهِ ذَاكِرًا.
Seorang mukmin sibuk memuji syukur kepada Allah, sehingga tidak sempat memandang diri (memuji diri) sendiri, sebagaimana ia sibuk menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap Allah, sehingga lupa kepentingan diri. Memuji diri, ialah merasa telah berbuat amal kebaikan. Sedang hakikat mukmin itu apabila tidak merasa mempunyai kebaikan sendiri, hanya semua itu semata-mata pemberian kurnia Allah, sebagaimana ia lupa kepentingan diri sendiri karena sibuk menunaikan kewajiban- kewajibannya terhadap Allah ta'ala.
Seorang mukmin sibuk memuji syukur kepada Allah, sehingga tidak sempat memandang diri (memuji diri) sendiri, sebagaimana ia sibuk menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap Allah, sehingga lupa kepentingan diri. Memuji diri, ialah merasa telah berbuat amal kebaikan. Sedang hakikat mukmin itu apabila tidak merasa mempunyai kebaikan sendiri, hanya semua itu semata-mata pemberian kurnia Allah, sebagaimana ia lupa kepentingan diri sendiri karena sibuk menunaikan kewajiban- kewajibannya terhadap Allah ta'ala.