Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

294. وَاللهُ يَجْعَلُ فَرَحَنَا وَإِيَّاكُمْ بِهِ، وَبِالرِّضَا مِنْهُ، وَأَنْ يَجْعَلَنَا مِنْ أَهْلِ الْفَهْمِ عَنْهُ، وَأَنْ لاَ يَجْعَلَنَا مِنَ الْغَافِلِينَ، وَأَنْ يَسْلُكَ بِنَا مَسَالِكَ الْمُتَّقِينَ، بِمَنِّهِ وَكَرَمِهِ، آمِينَ.

Semoga Allah menjadikan kesenangan (kegembiraan) kamı dan kamu dengan Allah dan dengan rela (ridha) terhadap apa-apa yang dari Allah, semoga Allah menjadikan kami dari golongan yang mengerti segala sesuatu daripada Allah, dan jangan menjadikan kami dari golongan orang yang ghafil (lalai), dan semoga Allah menjadikan kami di jalanan orang-orang muttagin dengan kurnia dan kemurahan Allah swt.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

179. لاَ يَكُنْ طَلَبُكَ تَسَبُّبًا إِلَى الْعَطَاءِ مِنْهُ، فَيَقِلَّ فَهْمُكَ عَنْهُ، وَلْيَكُنْ طَلَبُكَ لِإِظْهَارِ الْعُبُودِيَّةِ وَقِيَامًا بِحُقُوقِ الرُّبُوبِيَّةِ.

Jangan sampai doa permintaanmu kej da Allah itu engkau jadikan sebagai alat (sebab) untuk mencapai pemberian Allah, niscaya akan kurang pengertianmu (ma'rifatmu) kepada Allah, tetapi hendak- nya doa permintaanmu semata-mata untuk menunjukkan kerendahan kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap kemuliaan kebesaran dan kekayaan Tuhanmu.

Abu Nasher Assarraj berkata : Saya telah bertanya kepada guru- guru tentang apakah kepentingan doa bagi orang yang telah menyerah bulat kepada Allah ? Jawabnya : Berdoa itu ada dua tujuan : Pertama : Untuk menghias lahir kita dengan doa, sebab doa itu salah satu bagian daripada khidmat kepada Allah, maka ia ingin berbuat demikian.

Kedua : Berdoa semata-mata karena menurut perintah Allah. Sebab faidahnya doa itu untuk menunjukkan/memperlihatkan adanya hajat kebutuhan dan kemiskinan diri di hadapan Allah.

Abul-Hasan berkata : Janganlah yang menjadi tujuan dari doamu itu tercapainya hajat kebutuhanmu, maka jika demikian berarti terhijab engkau dari Allah, tetapi harus tujuan doa untuk bermunajat berbisik-bisik kepada (dengan) Allah yang memeliharamu, mencipta- kan dirimu. Dan balak bencana yang memaksakan engkau berdoa kepada Allah itu, lebih baik daripada menerima nikmat, kesenangan yang melupakan kepada Allah dan menjauhkan daripadanya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

096. إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَكُونَ لَكَ عِزٌّ لاَ يَفْنَى فَلاَ تَسْتَعِزَّنَّ بِعِزٍّ يَفْنَى.

Jika engkau ingin mendapatkan kemuliaan yang tidak rusak, maka jangan membanggakan kemuliaan yang rusak. Kemuliaan yang tidak rusak hanya kemuliaan dengan Allah, bersandar diri kepada Allah, sebab Allah kekal tidak rusak. Adapun jika berbangga dengan kekayaan kebangsaan, kedudukan, maka semua itu palsu, rusak dan tidak kekal, maka siapa yang bersandar/berbangga dengan kepalsuan/bayangan, maka pasti binasa dan rusak bersama dengan apa yang dibanggakan itu.

Firman Allah :

أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (النساء: ١٣٩)

Apakah mereka mengharapkan pada apa yang mereka sanjung itu suatu kemuliaan, ketahuilah sesungguhnya kemuliaan itu semuanya milik dan hak Allah ta'ala. Hikayat : Seorang datang kepada raja Harun Arrasyid untuk memberi nasehat, tiba-tiba Harun Arrasyid marah kepadanya, lalu memerintahkan kepada pengawalnya supaya mengikat orang itu bersama dengan keledainya yang nakal, supaya mati ditendang keledai. Setelah perintah itu dilaksanakan, tiba-tiba keledai itu lunak kepada orang yang akan dihukum. Kemudian Harun menyuruh supaya dimasukkan dalam rumah dan pintunya supaya ditutup dengan semen, supaya mati di dalamnya, tiba- tiba orang yang dipenjara itu telah ada di kebun, sedang pintu rumah tetap tértutup, maka dipanggil oleh Harun Arrasyid dan ditanya : Siapa yang mengeluarkan engkau dari rumah? Jawabnya : Yang memasukkan saya dalam kebun. Dan siapa yang memasukkan ke dalam kebun ? Jawabnya : Yang mengeluarkan aku dari rumah. Kemudian menyuruh pengawalnya membawa orang itu di atas kendaraan keliling kota, dan memberitahukan kepada orang-orang : Ingatlah bahwa Harun Arrasyid akan menghina seorang yang telah dimuliakan oleh Allah, maka tidak dapat. Scorang datang kepada seorang aarif sambil menangis, maka ditanya oleh orang aarif (wali) : Mengapa engkau menangis ? Jawabnya : Karena guruku telah mati. Berkata orang aarif : Mengapakah engkau berguru kepada orang yang mati.

Hikam Ibnu 'Atoillah

168. رُبَّمَا أَطْلَعَكَ عَلَى عَالَمِ مَلَكُوتِهِ، وَحَجَبَ عَنْكَ اِسْتِشْرَافَ أَسْرَارِ الْعِبَادِ.

Mungkin Allah memperlihatkan kepadamu sebagian dari ghaib di alam malakut (di atas langit), tetapi sengaja Allah menutupi daripadamu rahasia-rahasia para hambaNya. Adakalanya Allah membukakan untuk seorang wali alam malakut sehingga ia mengetahui segala sesuatu yang ghaib dalam alam malakut, tetapi karena rahmat Allah kepadanya tidak dibukakan padanya jalan untuk méngetahui rahasia-rahasia sesama manusia, supaya tidak turut campur dalam urusan dan kebijaksanaan Allah yang berlaku pada semua hambaNya. Sahl bin Abdullah ketika ditanya oleh muridnya : bagaimanakah mengenal waliyullah itu ? Jawabnya : Allah tidak memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka (yakni untuk mengenal dan mendekat kepada Allah). Sebab apabila diobral sehingga mudah dikenal orang, maka timbul kewajiban bagi siapa yang sudah mengenal pada wali itu harus percaya dan tidak boleh menentang, mengingkari mereka, sebab menentang langsung berarti kekafiran, karena itu rahmat kebijaksanaan Allah telah menetapkan para wali itu dengan hijab basyariyah (kebiasaan manusia).

Firman Allah :

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا... وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ.

AL-HIKAM Allah itu wali (pelindung pemelihara) orang yang beriman atau orang mukminin.

Dalam hadits qudsi Allah berfirman :

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ.

Siapa yang mengganggu (menganiaya) seorang waliKu, maka langsung Aku memaklumkan perang kepadanya.

Disalin