Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

287. وَأَنَّ النَّاسَ فِي ذٰلِكَ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: غَافِلٌ مُنْهَمِكٌ فِي غَفْلَتِهِ، قَوِيَتْ دَائِرَةُ حِسِّهِ وَانْطَمَسَتْ حَضْرَةُ قُدْسِهِ، فَنَظَرَ الْإِحْسَانَ مِنَ الْمَخْلُوقِينَ، وَلَمْ يَشْهَدْهُ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ، إِمَّا اعْتِقَادًا فَشِرْكُهُ جَلِيٌّ، وَإِمَّا اسْتِنَادًا فَشِرْكُهُ خَفِيٌّ.

Dan manusia dalam menghadapi nikmat pemberian Tuhan terbagi tiga : 1. Orang yang lalai terhadap Tuhan dan sangat memuncak kelalaiannya. Orang ini sangat kuat jiwa materialnya, sangat terpengaruh oleh panca inderanya, hingga padam sama sekali jiwa rohaninya (kesucian jiwanya), maka ia melihat bantuan/kebaikan itu hanya semata-mata dari sesama makhluk, dan sama sekali tidak melihat dari Allah Tuhan Rabbul-alamiin. Jika yang demikian ini berupa i tigad keyakinan, maka siriknya jelas, atau sekedar dianggap sebagai sebab yang andaikan tidak ada sebab itu tidak terjadi itu kurnia, maka ini sirik juga tetapisamar.

Mereka itu jika ditanya : Siapakah yang memberi kepadamu? Jawabnya : Allah, tetapi andaikan tidak ada fulan itu tentu tidak ada pemberian atau kurnia ini.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

283. فَلَمْ تَزَلْ مَطِيَّةُ عَزْمِهِ لاَ يَقِرُّ قَرَارُهَا دَائِمًا، تَسِيرُ حَتَّى أَنَاخَتْ بِحَضْرَةِ الْقُدْسِ، وَبِسَاطِ الْأُنْسِ، مَحَلِّ الْمُفَاتَحَةِ وَالْمُوَاجَهَةِ وَالْمُجَالَسَةِ وَالْمُحَادَثَةِ وَالْمُشَاهَدَةِ وَالْمُطَالَعَةِ، فَصَارَتِ الْحَضْرَةُ مُعَشَّشَ قُلُوبِهِمْ، إِلَيْهَا يَأْوُونَ وَفِيهَا يَسْكُنُونَ.

Maka tetap terus kendaraan semangatnya tidak berhenti, bahkan tetap terus berjalan, sehingga berlabuh (berhenti) di hadratil qudsi (di sisi Allah) di atas hamparan kesenangan, tempat berbisik/ bermunajat, berhadapan, bercakap-cakap, musyahadah dan bertemu sehingga hadratil qudsi itu menjadi sarang hati mereka, ke sana mereka kembali, dan di sana pula mereka tetap tinggal. Semangat yang tidak padam, bagaikan kendaraan yang tidak kunjung berhenti perjalanan, kecuali setelah sampai stasiun (pelabuhan) yang berupa hadratul-qudsi, di mana Allah sendiri yang menyenangkan, membuka nur hati dan selalu di sisi Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

172. اِسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوصِيَّتِكَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُودِيَّتِكَ.

Keinginanmu untuk diketahui orang, tentang sesuatu dari keistimewaanmu itu, sebagai buktı tidak adanya kejujuranmu dalam kehambaanmu. Keistimewaan yang diberikan Allah kepada makhluk itu berupa ilmu, atau amal shalih, yang seharusnya dalam mengamal keduanya itu harus semata-mata untuk mendapat keridhaan Allah asalkan sudah beres dengan Allah itulah yang penting, karena itu jika dipergunakan untuk pameran dan ditonjol-tonjolkan untuk mendapat pujian orang, maka r yata baiwa rasa kehambaannya kepada Allah belum betul (belum jujur). Nabi Isa as. berkata : Jika orang berpuasu, maka hendaknya me- ninyaki rambutnya dan membasahi bibirnya, supaya jika dilihat orang disangka tidak puasa, begitu pula jika bersedekah hendaknya memberi Jengan tangan kanan dan disembunyikan dari tangan kiri, dan jika sembahyang ham tenutup tabir rumahnya, sebab Allah membagi pujian itu sebagaiman. membagi rizqi.

Abu Abdullah Al-Qurasyi berkata : Siapa yang tidak puas dengan pendengaran dan penglihatan Allah dalam amal perbuatan dan perkataannya, maka pasti kemasukan riya'.

Firman Allah :

أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (فصلت: ٥٣)

Apakah engkau tidak merasa cukup dengan Tuhanmu, bahwa la menyaksikan dan mengetahui segala sesuatu.

Abul-Khair Al-Aqtha berkata : Siapa yang ingin supaya amalnya diketahui orang, maka itu riya' dan siapa yang ingin diketahui orang hal keistimewaannya maka itu pendusta.

Abu Abbas Almarsy berkata : Siapa yang ingin terkenal, maka ia budaknya terkenal, dan siapa yang ingin tersembunyi, maka ia budaknya tersembunyi, dan siapa yang benar-benar merasa sebagai hamba Allah, maka terserah pada Allah apakah diterangkan atau disembunyikan. yakni sama saja yang penting ia beramal karena Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

002. إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ.

Keinginan untuk tajrid (melulu beribadat, tanpa berusaha dunia), padahal Allah masih menempatkan engkau pada golongan orang-orang yang harus berusaha (kasab) untuk mendapat kebutuhan sehari-hari, maka keinginanmu itu termasuk syahwat hawa nafsu yang samar (halus). Sebaliknya keinginanmu untuk berusaha kasab, padahal Allah telah menempatkan dirimu pada golongan orang yang melulu beribadat tanpa kasab, maka keinginan yang demikian berarti menurun dari semangat dan tingkat yang tinggi. Sebab kewajiban seorang hamba, menyerah kepada apa yang dipilihkan oleh majikannya. Lebih-lebih apabila majikan itu Tuhan Allah yang mengetahui benar-benar apa yang menguntungkan baginya dan yang menyusahkannya. Dan tanda bahwa Allah menempatkan dirimu dalam golongan orang yang harus berusaha kasab, apabila terasa ringan bagimu, sehingga tidak menyebabkan tertinggalnya sesuatu kewajiban dalam agamamu,juga menyebabkan kau tidak tamak (rakus) terhadap hak orang lain. Dan tanda bahwa Allah telah mendudukkan dirimu dalam golongan hamba yang tidak berusaha kasab : Apabila Tuhan memudahkan bagimu kebutuhan hidup dari jalan yang tidak disangka, kemudian jiwamu tetap tenang ketika terjadi kekurangan, karena tetap ingat dan bersandar kepada Tuhan, dan tidak berubah dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Syaithan sebagai musuh manusia, tidak suka bila melihat manusia itu tenang maka ia datang membisikkan kepada manusia, supaya tidak puas terhadap apa yang telah diberikan Allah kepadanya, dan selalu membayangkan kepadanya kesenangan, kemewahan, ketenangan lain orang untuk membangkitkan sifat tamak (rakus), iri hati terhadap apa yang bukan bagiannya, sehingga apabila ia telah melepaskan apa yang ia telah tenang, tentram itu untuk menurutkan sifat tamak rakusnya gagal amal perbuatannya dan kecewa. Firman Allah yang menunjukkan bagaimana tipu daya syaithan terhadap bapak Adam dan Hawa as.

مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ . (الأعراف: ٢٠)

Berkata syaithan : Tuhan tidak melarang kamu mendekati pohon ini melainkan supaya kamu tidak dapat mencapai kedudukan Malaikat atau tidak dapat kekal.dalam surga. (S. Al -A'raf 20).

Dalam surat Thoha ayat 120 :

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ؟ (طه : ١٢٠)

Maka membisikkan syaithan, ia berkata : Hai Adam sukakah Aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi, (sesuatu yang dapat mengekalkan) dan kekayaan yang takkan habis (rusak).

(S. Thoha 120).

Seorang berkata : Beberapa kali saya telah meninggalkan usaha kasab tetapi terpaksa kembali berkasab, sehingga akhirnya akulah yang di tinggalkan oleh kasab itu, maka tiadalah aku kembali kepadanya. Seorang murid merasa, bahwa untuk sampai kepada Allah dan masuk dalam barisan para wali dengan sibuk pada ilmu dhahir dan bergaul dengan sesama manusia agak jauh dan tak mungkin lalu ia pergi menghadap gurunya, tiba-tiba sebelum ia sempat bertanya, guru bercerita : Ada seorang terkemuka dalam ilmu dhahir, ketika ia dapat merasakan sedikit dari perjalanan ini, Ia datang kepadaku dan berkata : Aku akan meninggalkan kebiasaanku untuk mengikuti per- jalananmu. Jawab : Bukan itu yang harus kamu lakukan, tetapi tetapiah dalam kedudukanmu, sedang apa yang akan diberikan Allan kepadamu pasti sampai (tercapai) kepadamu (olehmu).

Disalin