Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

285. وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ، لِيَكُونَ نَظَرِي إِلَى حَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ إِذَا أَدْخَلْتَنِي، وَاسْتِسْلاَمِي وَانْقِيَادِي إِلَيْكَ إِذَا أَخْرَجْتَنِي.

Katakanlah : Ya Tuhan, masukkanlah saya dalam kebenaran, dan keluarkanlah saya dalam kebenaran pula, supaya tetap pandanganku bulat pada kekuasaan dan kekuatanMu, ketika Engkau memasukkan saya, demikian pula penyerahan dan taatku selalu kepadaMu ketika Engkau mengeluarkan saya.

وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا يَنْصُرُنِي وَيَنْصُرُ بِي وَلَا يَنْصُرُ عَلَيَّ، يَنْصُرُنِي عَلَىٰ شُهُودِ نَفْسِي وَيُفْنِينِي عَنْ دَائِرَةِ حِسِّي.

Dan berikan untukku langsung daripadaMu kekuatan (bukti) yang membantu padaku, dan membantu kawan-kawanku, dan tidak membantu nafsu dan musuh-musuhku, membantu saya untuk mengenal kelemahan diri dari nafsuku, dan melenyapkan saya dari kurungan perasaanku. Selalu minta bantuan Allah supaya dapat istigamah, dan untuk kesempurnaan hal dalam menghadapi jiwa nafsu dan perasaan.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

173. غَيِّبْ نَظَرَ الْخَلْقِ إِلَيْكَ بِنَظَرِ اللهِ إِلَيْكَ، وَغِبْ عَنْ إِقْبَالِهِمْ عَلَيْكَ بِشُهُودِ إِقْبَالِهِ عَلَيْكَ.

Hilangkan pandangan makhluk kepadamu karena puas dengan penglihatan Allah kepadamu, dan lupakan perhatian (menghadapnya) makhluk kepadamu, karena melihat bahwa Allah menghadap kepadamu.

Sahl bin Abdullah Attustary berkata kepada kawan-kawannya : seorang tidak dapat mencapai hakikat kewalian sehingga menghilangkan pandangan orang dari fikirannya, sehigga tidak melihat apa-apa di dunia, hanya ia dengan Tuhan yang menjadikannya, sebab tidak ada seorangpun yang dapat menguntungkan atau merugikan. Atau menghilangkan perasaan diri (hawa nafsunya) sehingga tidak menghiraukan orang, dan tidak segan atau takut kepada mereka, apa saja yang akan terjadi. Mengharap kepuasan dari semua manusia itu suatu tujuan yang tidak mungkin tercapai, dan sebodoh-bodoh manusia siapa yang berusaha untuk mendapatkan apa yang tidak mungkin tercapai. Lukman Alhakiem ketika memberi nasehat kepada putranya, diajak masuk ke pasar dengan berkendaraan himar ia yang berkendaraan dan

anaknya yang menuntun. Orang mencela : Orang tua kejam, dia berkendaraan dan anaknya disuruh berjalan. Kemudian ia suruh anaknya naik tiba-tiba orang mencela : Dua orang naik satu himar. Lalu turun Lukman, dan anaknya tetap di atas, tiba-tiba ada orang mencela : Anak kurang ajar, bapak dijadikan buruh menuntun. Kemudian turun keduanya menuntun himar, tiba-tiba orang mencela. Bodoh benar himar tidak dinaiki hanya dituntun semata-mata. Tujuan Lukman ontuk menunjukkan kepada putranya bahwa orang yang beramal atau mengambil-ambil hati orang tidak selamat dari celaan mereka. Karena itu seorang yang sempurna akal fikiran di dalam beramal hanya menuju kepada hak, benar dan diridhai Allah, hanya itu saja yang dikerjakan.

Muhammad bin Aslam ra. berkata : Ada kepentingan apakah saya pada manusia padahal sejak saya dalam punggung Ayah seorang diri, lalu di dalam perut ibu juga seorang diri dan keluar di dunia juga seorang diri, (yakni tidak melalui bantuan manusia) hingga mati dan masuk ke kubur juga seorang diri, dan menghadapi persoalan alam kubur sampai kemudian menghadap kepada Allah, dan masuk surga atau neraka juga seorang diri, maka apakah kebutuhan saya dengan manusia ? Al-Harits Almuhasiby ra. ketika ditanya tentang tanda orang yang sungguh-sungguh ikhlas yaitu yang tidak hirau (menghiraukan) dinilai apa saja oleh sesama manusia, asalkan ia sudah benar hubungannya dengan Allah dan tidak ada orang yang mengetahui walau sekecil debu dari amal kebaikannya, dan tidak takut jika ada orang mengetahui amal perbuatannya yang tidak baik. Sebab jika ia merasa enggan untuk diketahui orang kebusukannya, berarti ia ingin dipuji atau besar dalam pandangan orang, dan itu tidak termasuk kelakuan atau akhlak orang yang benar-benar ikhlas.

Hikam Ibnu 'Atoillah

221. مَا فَاتَ مِنْ عُمْرِكَ لاَ عِوَضَ لَهُ، وَمَا حَصَلَ لَكَ مِنْهُ لاَ قِيمَةَ لَهُ.

Yang telah hilang dari umur (usia) hidupmu tidak dapat ditarik kembali, sedang yang telah berhasil bagimu, tidak dapat dinilai harganya. Waktu itu sangat berharga karena itu jangan digunakan kecuali untuk sesuatu yang berharga. Adapula kata : Waktu itu adalah uang. Kata ahli sya'ir : Saat-saat dalam usia hidupmu itu bagaikan berlian yang sangat berharga, karena itu jadikanlah masa dan saat-saat yang berharga itu untuk mencapai kejayaan dunia akheratmu dan kebahagiaan.

Rasulullah saw. bersabda : Tiada sesuatu saat/masa yang datang pada seorang hamba, kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah dalam saat itu, melainkan saat itu akan merupakan kemenyesalan pada hari qiamat. Kelak pada hari qiamat saat-saat umur manusia pada tiap hari dan malam itu akan diperlihatkan berupa 24 lemari yang berbaris, maka dapat melihat masing-masing lemari itu penuh dengan nikmat pembalasan, terhadap amal perbuatan yang dilakukan pada saat itu, adapun saat-saat yang tidak beramal apa-apa didalamnya, maka lemarinya pun kosong, maka di situlah letak kemenyesalan yang tidak terhingga. Dan sesal kemudian tetap tidak berguna.

Hikam Ibnu 'Atoillah

006. لاَ يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيمَا يَخْتَارُهُ لَكَ، لاَ فِيمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيدُ، لاَ فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ.

Janganlah kelambatan masa pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan patah harapan, sebab Allah telah menjamin menerima semua doa dalam apa yang la kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu dan pada waktu yang ditentukanNya, bukan pada waktu yang engkau tentukan.

Firman Allah

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ (القصص: ٦٨)

Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendakiNya dan memilihnya sendiri, tiada hak bagi mereka untuk memilih. Sebaiknya seorang hamba yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi mengakui kebodohan dirinya, sehingga tidak memilih sesuatu yang tampak baginya sepintas lalu baik, padahal ia tidak mengetahui bagaimana akibatnya. Karena itu bila Tuhan yang maha mengetahui lagi bijaksana memilihkan untuknya sesuatu, hendaknya rela dan menerima pilihan Tuhan Yang Maha belas kasih lagi mengetahui dan bijaksana itu, walaupun pada lahirnya pahit dan pedih rasanya, namun itulah yang terbaik baginya, karena itu bila berdoa, kemudian belum juga tercapai keinginannya, janganlah keburu patah harapan;

Firman Allah :

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (البقرة: ٢١٦)

Mungkin kamu membenci sesuatu padahal itulah yang baik bagimu, dan mungkin kamu suka pada sesuatu padahal bahaya bagimu, dan Allah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Abu-Hasan Asy-Syadzily ra. ketika mengartikan ayat :

قَدْ أُجِيبَت دَّعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ( يونس : ٨٩)

Sungguh telah diterima doamu berdua (Musa dan Harun as.) yaitu tentang kebinasaan Fir'aun dan tentaranya maka hendaknya kamu berdua tetap istigamah (sabar dalam melanjutkan perjuangan dan

terus herdoa). dan jangan mengikuti jejak orang-orang yang tidak mengerti, (kekuasaan dan kebijaksanaan Allah)

(S. Yunus 89).

Maka terlaksananya kebinasaan Fir'aun yang berarti setelah diterima doa itu, sesudah 40 tahun.

Rasullullah saw. bersabda :

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، فَيَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي.

Pasti diterima doamu itu selama tidak keburu, yaitu berkata : Aku telah berdoa dan tidak diterima.

Anas ra. berkata :

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ دَاعٍ يَدْعُو إِلَّا اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ دَعْوَتَهُ أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِثْلَهَا سُوءًا أَوْ حَطَّ مِنْ ذُنُوبِهِ بِقَدَرِهَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ.

Tiada seorang berdoa, melainkan pasti diterima Allah doanya, atau dihindarkan daripadanya bahaya, atau diampunkan sebagian dosanya, selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa, atau untuk memutuskan hubungan famili. Abul Abbas Almarsi ketika sakit, datang seorang sambang kepadanya lalu berkata : Semoga Allah menyembuhkan kau (Afakallahu). Abul Abbas tinggal diam tidak menyambut kata-kata itu Kemudian orang itu berkata pula : Allah yu'aafika. Maka dijawab oleh Abul Abbas : Apakah kau kira saya tidak minta 'afiyah kepada Allah, sungguh saya telah minta 'afiyah, dan penderitaanku ini termasuk 'afiyah, ketahuilah Rasulullah minta 'afiyah dan ia berkata :

مَا زَالَتْ أَكْلَةُ خَيْبَرَ تُعَاوِدُنِي، وَالْآنَ قَدْ قَطَعَتْ أَبْهَرِي

Selalu bekas makanan khaibar itu terasa olehku, dan kini masa putusnya urat jantungku. Abubakar Assiddiq minta 'afiyah dan mati terkena racun. Umar bin Khattab minta 'afiyah dan mati terbunuh. Usman bin Affan, juga minta 'afiyah dan juga mati tertikam. Ali bin Abi Thalib minta 'afiyah juga mati terbunuh. Maka bila kau minta 'afiyah kepada Allah, mintalah menurut apa yang ditentukan oleh Allah untukmu, maka sebaik-baik seorang hamba ialah yang menyerah menurut kehendak Tuhannya, dan mempercayai bahwa yang diberi Tuhan itulah yang terbaik baginya meskipun tidak cocok dengan kemauan hawa nafsunya. Dan syarat utama untuk diterimanya suatu doa, ialah keadaan terpaksa.

Firman Allah :

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ (النمل: ٦٢)

Apakah yang selalu menerima doa orang terpaksa, apabila berdoa (minta) kepadaNya. Keadaan terpaksa itu, bila merasa tidak ada sesuatu yang diharapkan selain semata-mata karunia Allah, tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan perantara baik dari luar yang berupa benda, atau dari dalam dirinya sendiri.

Disalin