Dan bahwasanya siapa yang yakin bahwa Allah menuntut dan menyuruh kepadanya melakukan ibadah, pasti ia bersungguh-sungguh menghadap kepada Allah, dan siapa yang mengetahui bahwa segala urusan itu di tangan Allah, maka pasti bulat tawakkal menyerah kepada Allah.
149. لَوْلاَ ظُهُورُهُ فِي الْمُكَوَّنَاتِ مَا وَقَعَ عَلَيْهَا وُجُودُ أَبْصَارٍ، وَلَوْ ظَهَرَتْ صِفَاتُهُ لاَضْمَحَلَّتْ مُكَوَّنَاتُهُ.
Andaikan Allah tidak dhahir pada benda-benda alam ini, tidak mungkin adanya penglihatan padaNya, dan andaikan Allah mendhahirkan sifatNya pasti lenyaplah alam bendaNya.
Firman Allah :
فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا (الأعراف: ١٤٣)
Ketika Allah bertajalli kepada bukit, hancurlah (lenyaplah) bukit itu, sedang Nabi Musa jatuh pingsan.
Rasulullah saw. bersabda : Hijab Allah itu berupa cahaya, andaikan dibuka pasti akan terbakar segala sesuatu yang menghadapinya. n Abdi pada Khalanya)
Andaikan Allah tidak dhahir pada benda-benda alam ini, tidak mungkin adanya penglihatan padaNya, dan andaikan Allah mendhahirkan sifatNya pasti lenyaplah alam bendaNya.
Firman Allah :
فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا (الأعراف: ١٤٣)
Ketika Allah bertajalli kepada bukit, hancurlah (lenyaplah) bukit itu, sedang Nabi Musa jatuh pingsan.
Rasulullah saw. bersabda : Hijab Allah itu berupa cahaya, andaikan dibuka pasti akan terbakar segala sesuatu yang menghadapinya. n Abdi pada Khalanya)
200. الْعِبَارَاتُ قُوتٌ لِعَائِلَةِ الْمُسْتَمِعِينَ، وَلَيْسَ لَكَ إِلاَّ مَا أَنْتَ لَهُ آكِلٌ.
Ibarat (kata-kata) itu sebagai makanan bagi pendengar yang berhajat dan membutuhkannya, dan engkau tidak mendapat apa-apa daripadanya kecuali yang engkau makan. Bagaimanapun aneka warnanya hidangan, maka yang berguna bagi tiap orang hanya yang dimakannya, dan masing-masing makan kesukaannya, memilih yang dimengertinya.
Terjadi ada tiga orang sama-sama mendengar suara yang berkata : Ya sa'tara birri maka masing-masing menerima kalimat itu sendiri-sendiri, Yang satu berkata : Saya telah mendengar suara itu berkata : Is'a tara birri. Berusahalah niscaya engkau akan melihat (mendapat) kurnia pemberianKu. Yang kedua berkata : Saya telah mendengar : Assa' atatara birri : Pada saat itu juga engkau akan mendapat (melihat) kurnia pemberianKu. Yang ketiga berkata : Saya telah mendengar : Ma ausa'a birri : Alangkah luasnya kurnia pemberianKu.
Firman Allah :
تُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ (الرعد: ٤)
Disiram dengan satu macam air, tetapi Kami lebihkan yang satu dari yang lain dalam rasa makanannya.
Firman Allah :
قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ (البقرة: ٦٠)
Masing-masing golongan telah mengetahui di mana tempat minumnya. Muhyiddin (Muhammad) bin Al-Araby ra. berkata : Pada suatu hari kami mendapat undangan dari teman di Zugagil-ganadil di Mesir, tiba- tiba di situ bertemu dengan guru-guru, dan setelah hidangan dikeluarkan, di situ ada suatu wadah dipakai untuk tempat kencing, tetapi karena sudah tidak terpakai lagi, maka dipakai juga untuk tempat makanan, maka setelah selesai orang-orang makanan tiba-tiba wadah itu berkata : Karena kini saya telah mendapat kehormatan dari Allah untuk tempat makanan guru-guru ini maka sejak kini saya tidak rela untuk dipakai tempat kotoran, kemudian ia belah dua. Syaikh Muhyiddin bertanya kepada hadirin : Apakah yang kamu telah mendengar ? Jawab mereka : Ya, kami mendengar ia berkata : Sejak saya dipakai tempat makan untuk guru-guru, maka saya tidak mau menjadi tempat kotoran lagi. Berkata Muhyiddin : Tidak begitu katanya. Bertanya para hadirin : Lalu berkata apa ? Jawab Muhyiddin : Demikian pula hatimu setelah mendapat kehormatan dari Allah dijadikan tempat iman, maka janganlah rela ditempati najis-najis, syirik, maksiat dan cinta dunia.
Ibarat (kata-kata) itu sebagai makanan bagi pendengar yang berhajat dan membutuhkannya, dan engkau tidak mendapat apa-apa daripadanya kecuali yang engkau makan. Bagaimanapun aneka warnanya hidangan, maka yang berguna bagi tiap orang hanya yang dimakannya, dan masing-masing makan kesukaannya, memilih yang dimengertinya.
Terjadi ada tiga orang sama-sama mendengar suara yang berkata : Ya sa'tara birri maka masing-masing menerima kalimat itu sendiri-sendiri, Yang satu berkata : Saya telah mendengar suara itu berkata : Is'a tara birri. Berusahalah niscaya engkau akan melihat (mendapat) kurnia pemberianKu. Yang kedua berkata : Saya telah mendengar : Assa' atatara birri : Pada saat itu juga engkau akan mendapat (melihat) kurnia pemberianKu. Yang ketiga berkata : Saya telah mendengar : Ma ausa'a birri : Alangkah luasnya kurnia pemberianKu.
Firman Allah :
تُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ (الرعد: ٤)
Disiram dengan satu macam air, tetapi Kami lebihkan yang satu dari yang lain dalam rasa makanannya.
Firman Allah :
قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ (البقرة: ٦٠)
Masing-masing golongan telah mengetahui di mana tempat minumnya. Muhyiddin (Muhammad) bin Al-Araby ra. berkata : Pada suatu hari kami mendapat undangan dari teman di Zugagil-ganadil di Mesir, tiba- tiba di situ bertemu dengan guru-guru, dan setelah hidangan dikeluarkan, di situ ada suatu wadah dipakai untuk tempat kencing, tetapi karena sudah tidak terpakai lagi, maka dipakai juga untuk tempat makanan, maka setelah selesai orang-orang makanan tiba-tiba wadah itu berkata : Karena kini saya telah mendapat kehormatan dari Allah untuk tempat makanan guru-guru ini maka sejak kini saya tidak rela untuk dipakai tempat kotoran, kemudian ia belah dua. Syaikh Muhyiddin bertanya kepada hadirin : Apakah yang kamu telah mendengar ? Jawab mereka : Ya, kami mendengar ia berkata : Sejak saya dipakai tempat makan untuk guru-guru, maka saya tidak mau menjadi tempat kotoran lagi. Berkata Muhyiddin : Tidak begitu katanya. Bertanya para hadirin : Lalu berkata apa ? Jawab Muhyiddin : Demikian pula hatimu setelah mendapat kehormatan dari Allah dijadikan tempat iman, maka janganlah rela ditempati najis-najis, syirik, maksiat dan cinta dunia.
096. إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَكُونَ لَكَ عِزٌّ لاَ يَفْنَى فَلاَ تَسْتَعِزَّنَّ بِعِزٍّ يَفْنَى.
Jika engkau ingin mendapatkan kemuliaan yang tidak rusak, maka jangan membanggakan kemuliaan yang rusak. Kemuliaan yang tidak rusak hanya kemuliaan dengan Allah, bersandar diri kepada Allah, sebab Allah kekal tidak rusak. Adapun jika berbangga dengan kekayaan kebangsaan, kedudukan, maka semua itu palsu, rusak dan tidak kekal, maka siapa yang bersandar/berbangga dengan kepalsuan/bayangan, maka pasti binasa dan rusak bersama dengan apa yang dibanggakan itu.
Firman Allah :
أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (النساء: ١٣٩)
Apakah mereka mengharapkan pada apa yang mereka sanjung itu suatu kemuliaan, ketahuilah sesungguhnya kemuliaan itu semuanya milik dan hak Allah ta'ala. Hikayat : Seorang datang kepada raja Harun Arrasyid untuk memberi nasehat, tiba-tiba Harun Arrasyid marah kepadanya, lalu memerintahkan kepada pengawalnya supaya mengikat orang itu bersama dengan keledainya yang nakal, supaya mati ditendang keledai. Setelah perintah itu dilaksanakan, tiba-tiba keledai itu lunak kepada orang yang akan dihukum. Kemudian Harun menyuruh supaya dimasukkan dalam rumah dan pintunya supaya ditutup dengan semen, supaya mati di dalamnya, tiba- tiba orang yang dipenjara itu telah ada di kebun, sedang pintu rumah tetap tértutup, maka dipanggil oleh Harun Arrasyid dan ditanya : Siapa yang mengeluarkan engkau dari rumah? Jawabnya : Yang memasukkan saya dalam kebun. Dan siapa yang memasukkan ke dalam kebun ? Jawabnya : Yang mengeluarkan aku dari rumah. Kemudian menyuruh pengawalnya membawa orang itu di atas kendaraan keliling kota, dan memberitahukan kepada orang-orang : Ingatlah bahwa Harun Arrasyid akan menghina seorang yang telah dimuliakan oleh Allah, maka tidak dapat. Scorang datang kepada seorang aarif sambil menangis, maka ditanya oleh orang aarif (wali) : Mengapa engkau menangis ? Jawabnya : Karena guruku telah mati. Berkata orang aarif : Mengapakah engkau berguru kepada orang yang mati.
Jika engkau ingin mendapatkan kemuliaan yang tidak rusak, maka jangan membanggakan kemuliaan yang rusak. Kemuliaan yang tidak rusak hanya kemuliaan dengan Allah, bersandar diri kepada Allah, sebab Allah kekal tidak rusak. Adapun jika berbangga dengan kekayaan kebangsaan, kedudukan, maka semua itu palsu, rusak dan tidak kekal, maka siapa yang bersandar/berbangga dengan kepalsuan/bayangan, maka pasti binasa dan rusak bersama dengan apa yang dibanggakan itu.
Firman Allah :
أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (النساء: ١٣٩)
Apakah mereka mengharapkan pada apa yang mereka sanjung itu suatu kemuliaan, ketahuilah sesungguhnya kemuliaan itu semuanya milik dan hak Allah ta'ala. Hikayat : Seorang datang kepada raja Harun Arrasyid untuk memberi nasehat, tiba-tiba Harun Arrasyid marah kepadanya, lalu memerintahkan kepada pengawalnya supaya mengikat orang itu bersama dengan keledainya yang nakal, supaya mati ditendang keledai. Setelah perintah itu dilaksanakan, tiba-tiba keledai itu lunak kepada orang yang akan dihukum. Kemudian Harun menyuruh supaya dimasukkan dalam rumah dan pintunya supaya ditutup dengan semen, supaya mati di dalamnya, tiba- tiba orang yang dipenjara itu telah ada di kebun, sedang pintu rumah tetap tértutup, maka dipanggil oleh Harun Arrasyid dan ditanya : Siapa yang mengeluarkan engkau dari rumah? Jawabnya : Yang memasukkan saya dalam kebun. Dan siapa yang memasukkan ke dalam kebun ? Jawabnya : Yang mengeluarkan aku dari rumah. Kemudian menyuruh pengawalnya membawa orang itu di atas kendaraan keliling kota, dan memberitahukan kepada orang-orang : Ingatlah bahwa Harun Arrasyid akan menghina seorang yang telah dimuliakan oleh Allah, maka tidak dapat. Scorang datang kepada seorang aarif sambil menangis, maka ditanya oleh orang aarif (wali) : Mengapa engkau menangis ? Jawabnya : Karena guruku telah mati. Berkata orang aarif : Mengapakah engkau berguru kepada orang yang mati.