Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

277. وَالْمُشْتَغَلُ بِهِ هُوَ الَّذِي أَحْبَبْتَهُ وَسَارَعْتَ إِلَيْهِ، وَالْمُشْتَغَلُ عَنْهُ هُوَ الْمُؤْثَرُ عَلَيْهِ.

Dan yang harus dikerjakan ialah amal ibadah yang kau sukai serta cekatan dalam melakukan untuk tagarrub kepada Allah, sedang

yang harus diabaikan ialah hawa nafsu dan urusan dunia yang akan lenyap, yang sering-sering mempengaruhi. Karena itu harus mengutamakan yang tetap kekal abadi, dan mengabaikan yang sementara dan pasti musnah lenyap. Abdullah bin Ishaq Algafiqy berkata : Pada suatu malam ketika saya berjalan ke Masjidil Haram (Makkah) bertemu seorang yang sedang mem- bersihkan tanah, maka saya kira ia gila atau miskin (kelaparan), lalu saya tegur : Hai orang, untuk apakah kau main-main tanah? Jawabnya : Apakah ini tanah? Sambil memberikan kepadaku segenggam, tiba- tiba itu tepung. Maka tergerak dalam hatiku ini seorang waliyullah, kemudian saya duduk mendekatinya sambil berkata kepadanya : Doakanlah saya, maka ia berdoa : Semoga Allah memberitahu kepada- mu kebesaran apa yang kau minta itu, sehingga ringan bagimu meninggalkan segala kepentingan dunia yang fana ini.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

206. مِنْ عَلاَمَاتِ اتِّبَاعِ الْهَوَى الْمُسَارَعَةُ إِلَى نَوَافِلِ الْخَيْرَاتِ، وَالتَّكَاسُلُ عَنِ الْقِيَامِ بِالْوَاجِبَاتِ.

Setengah daripada tanda menurutkan hawa nafsu, ialah cetakan dalam mengerjakan yang sunnat-sunnat, tetapi malas untuk mengerjakan yang wajib.

Muhammad bin Abil-Ward berkata : Kebinasaan manusia terjadi dalam dua hal : Mengerjakan yang sunnat dan mengabaikan yang wajib (fardhu). Dan dalam amal perbuatan hanya mementingkan bagian lahir (luar), dan mengabaikan bagian hati (yakni niat dan keikhlasan beramal). Al-Khawwash berkata : Terputusnya makhluk dari Allah, karena dua hal : Mengejar amal-amal sunnat dan meninggalkan yang wajib. Dan memperbaiki lahirnya amal, tetapi tidak memperhatikan keikhlasan

beramal, sedang Allah tetap tidak menerima amal perbuatan kecuali jika ikhlas dan tepat menurut tuntunan syari'at. Sebagaimana firman Allah :

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ (البقرة: ١١٢)

Aslama waj-hahu lillahi, berarti ikhlas melulu kepada Allah, tepat menurut tuntunan syari'at (Rasulullah saw.).

Hikam Ibnu 'Atoillah

236. مَا تَجِدُهُ الْقُلُوبُ مِنَ الْهُمُومِ وَالْأَحْزَانِ فَلِأَجْلِ مَا مُنِعَتْ مِنْ وُجُودِ الْعِيَانِ.

Semua yang dirasakan oleh hati (perasaan/fikiran) dari berbagai macam kerisauan itu, maka semata-mata karena masih tertahan belum dapat melihat musyahadah kepada Tuhan Allah swt.

Firman Allah menceritakan ketika Abubakar Assiddiq ra. bersama Rasulullah di gua Tsur, dimana Abubakar risau dan sedih hati, langsung oleh Rasulullah diingatkan :

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا (التوبة: ٤٠)

Jangan risau/sedih sesungguhnya Allah beserta kami.

Asysyibly berkata : Siapa yang benar-benar mengenal Allah tidak akan risau atau berduka cita untuk selama-lamanya.

Firman Allah :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (يونس: ٦٢)

Ingatlah, sesungguhnya para waliyullah itu tidak merasa takut dan tidak merasa duka cita. Dan sabda Nabi saw. kepada Abubakar Assiddiq ketika digua Tsur : Ya Aba Bakr ma dhannuka bi isnain allahu tsalitsu huma. Bagaimanakah perasaanmu hai Abubakar terhadap dua orang yang ditigai oleh Allah (disertai/dilindungi oleh Allah).

Disalin