Adakalanya umur (usia) itu lanjut (panjang) masanya tetapı sedikit manfaatnya, dan adakalanya umur itu pendek (singkat) masanya, tetapi banyak (besar) manfaatnya. (Yakni : Kurnia yang didapatnya dari Allah banyak).
183. عَلِمَ أَنَّ الْعِبَادَ يَتَشَوَّفُونَ إِلَى ظُهُورِ سِرِّ الْعِنَايَةِ، فَقَالَ: يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ، وَعَلِمَ أَنَّهُ لَوْ خَلاَّهُمْ وَذٰلِكَ لَتَرَكُوا الْعَمَلَ اعْتِمَادًا عَلَى الْأَزَلِ، فَقَالَ: إِنَّ رَحْمَةَ اللهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ.
Allah telah mengetahui bahwa semua hamba -hamba ingin mendapat rahasia (kebesaran) kurnia Allah berrfirman : Allah
sendiri yang menentukan rahmat kurnia yang benar itu pada siapa yang dikehendakiNya. Juga Allah yang mengetahui andaikan manusia (para hamba) itu dibiarkan begitu saja, mungkin mereka meninggalkan amal usaha karena berserah kepada keputusan Azal, karena itu Allah berfirman : Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan dan memperbaiki amal perbuatannya. Semua orang ingin untuk mencapai rahasia kurnia yang besar-besar, maka karenanya mereka kejar dengan doa dan amal shalih tetapi lalu Allah berfirman : Allah sendiri yang menentukan rahmatNya itu terhadap siapa yang dipilihNya sendiri. Allah lebih mengetahui di mana la meletakkan risalahNya. Tetapi di samping itu Allah tidak mematahkan hati semangat orang yang akan menginginkannya, karena itu Allah menunjukkan tanda-tanda yang mendekatinya, ialah mereka yang berbuat baik, dan memperbaiki perbuatan amal usahanya. Bukan amal kebaikan itu yang mendatangkan/menyebabkan tibanya kurnia, hanya ia sebagai tanda belaka, tetapi tidak mempengaruhi kehendak putusan Allah dan kebijaksanaanNya.
Allah telah mengetahui bahwa semua hamba -hamba ingin mendapat rahasia (kebesaran) kurnia Allah berrfirman : Allah
sendiri yang menentukan rahmat kurnia yang benar itu pada siapa yang dikehendakiNya. Juga Allah yang mengetahui andaikan manusia (para hamba) itu dibiarkan begitu saja, mungkin mereka meninggalkan amal usaha karena berserah kepada keputusan Azal, karena itu Allah berfirman : Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan dan memperbaiki amal perbuatannya. Semua orang ingin untuk mencapai rahasia kurnia yang besar-besar, maka karenanya mereka kejar dengan doa dan amal shalih tetapi lalu Allah berfirman : Allah sendiri yang menentukan rahmatNya itu terhadap siapa yang dipilihNya sendiri. Allah lebih mengetahui di mana la meletakkan risalahNya. Tetapi di samping itu Allah tidak mematahkan hati semangat orang yang akan menginginkannya, karena itu Allah menunjukkan tanda-tanda yang mendekatinya, ialah mereka yang berbuat baik, dan memperbaiki perbuatan amal usahanya. Bukan amal kebaikan itu yang mendatangkan/menyebabkan tibanya kurnia, hanya ia sebagai tanda belaka, tetapi tidak mempengaruhi kehendak putusan Allah dan kebijaksanaanNya.
069. قَطَعَ السَّائِرِينَ إِلَيْهِ وَالْوَاصِلِينَ إِلَيْهِ عَنْ رُؤْيَةِ أَعْمَالِهِمْ وَشُهُودِ أَحْوَالِهِمْ، أَمَّا السَّائِرُونَ فَلِأَنَّهُمْ لَمْ يَتَحَقَّقُوا الصِّدْقَ مَعَ اللهِ فِيهَا، وَأَمَّا الْوَاصِلُونَ فَلِأَنَّهُ غَيَّبَهُمْ بِشُهُودِهِ عَنْهَا.
Allah telah memutuskan orang-orang yang berjalan menuju kepadaNya, dan yang telah sampai padaNya, daripada melihat/mengagumi amal (ibadat) dan keadaan diri mereka. Adapun orang yang masih sedang berjalan, karena mereka dalam amal perbuatan ibadat itu belum dapat melaksanakan dengan ikhlas menurut apa yang diperintahkan. Adapun orang-orang yang telah sampai, maka karena mereka telah sibuk melihat kepada Allah, sehingga lupa pada amal perbuatan sendiri. Sehingga bila ada perbuatan diri, maka itu hanya kurnia taufiq dari Allah semata-mata. Tanda bahwa Allah telah memberikan taufiq hidayat pada seorang hamba, apabila disibukkan hamba itu dengan amal perbuatan taat, tetapi diputuskan daripada ujub dan bangga
dengan amal perbuatan itu, karena merasa belum tepat mengerjakannya, atau karena merasa bahwa perbuatan itu semata-mata kurnia Allah sedang ia sendiri merasa tiada berdaya untuk melaksanakan, andaikan tiada kurnia rahmat Allah.
Allah telah memutuskan orang-orang yang berjalan menuju kepadaNya, dan yang telah sampai padaNya, daripada melihat/mengagumi amal (ibadat) dan keadaan diri mereka. Adapun orang yang masih sedang berjalan, karena mereka dalam amal perbuatan ibadat itu belum dapat melaksanakan dengan ikhlas menurut apa yang diperintahkan. Adapun orang-orang yang telah sampai, maka karena mereka telah sibuk melihat kepada Allah, sehingga lupa pada amal perbuatan sendiri. Sehingga bila ada perbuatan diri, maka itu hanya kurnia taufiq dari Allah semata-mata. Tanda bahwa Allah telah memberikan taufiq hidayat pada seorang hamba, apabila disibukkan hamba itu dengan amal perbuatan taat, tetapi diputuskan daripada ujub dan bangga
dengan amal perbuatan itu, karena merasa belum tepat mengerjakannya, atau karena merasa bahwa perbuatan itu semata-mata kurnia Allah sedang ia sendiri merasa tiada berdaya untuk melaksanakan, andaikan tiada kurnia rahmat Allah.
026. إِحَالَتُكَ الْأَعْمَالَ عَلَى وُجُودِ الْفَرَاغِ مِنْ رُعُونَاتِ النَّفْسِ.
Menunda amal perbuatan (kebaikan) karena menantikan kesempatan yang lebih baik, sesuatu tanda kebodohan yang mem- pengaruhi jiwa. Kebodohan itu disebabkan oleh :
1. Karena ia mengutamakan duniawi. Padahal Allah berfirman :
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ (الأعلى: ١٦ - ١٧)
Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya.
2. Penundaan amal itu kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan mendapatkan kesempatan itu, atau kemungkinan ia dilanda oleh ajal (mati) yang telah menantikan masanya.
3. Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah.
Kata pujangga :
لَا تُؤَجِّلْ إِلَى الْغَدِ مَا يُمْكِنُكَ أَنْ تَعْمَلَهُ الْيَوْمَ.
Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini.
الْوَقْتُ ثَمِينٌ فَلَا تُضَيِّعْهُ إِلَّا فِي نَفِيسٍ.
Waktu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang berharga.
Menunda amal perbuatan (kebaikan) karena menantikan kesempatan yang lebih baik, sesuatu tanda kebodohan yang mem- pengaruhi jiwa. Kebodohan itu disebabkan oleh :
1. Karena ia mengutamakan duniawi. Padahal Allah berfirman :
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا * وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ (الأعلى: ١٦ - ١٧)
Tetapi kamu mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan kekal selamanya.
2. Penundaan amal itu kepada masa yang ia sendiri tidak mengetahui apakah ia akan mendapatkan kesempatan itu, atau kemungkinan ia dilanda oleh ajal (mati) yang telah menantikan masanya.
3. Kemungkinan azam, niat dan hasrat itu menjadi lemah dan berubah.
Kata pujangga :
لَا تُؤَجِّلْ إِلَى الْغَدِ مَا يُمْكِنُكَ أَنْ تَعْمَلَهُ الْيَوْمَ.
Janganlah menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini.
الْوَقْتُ ثَمِينٌ فَلَا تُضَيِّعْهُ إِلَّا فِي نَفِيسٍ.
Waktu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan kecuali untuk sesuatu yang berharga.