Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

268. أَشْهَدَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَسْتَشْهِدَكَ، فَنَطَقَتْ بِإِلٰهِيَّتِهِ الظَّوَاهِرُ، وَتَحَقَّقَتْ بِأَحَدِيَّتِهِ الْقُلُوبُ وَالسَّرَائِرُ.

Allah memperlihatkan dzatNya kepadamu, sebelum ia menuntut kepadamu harus mengakui kebesaranNya, sehingga nyata mengakui ke-TuhananNya segala makhluk yang lahir, dan nyata hakikat ke-Esa-anNya dalam hati dan sir perasaan. Allah bertajalli ke dalam hati tiap orang, menurut kadar kekuatan tingkat orang itu, sehingga iman tiap orang itu pun menurut apa yang diperlihatkan oleh Allah daripada kebesaran kekuasaannya. Apabila Allah telah bertajalli kepada seorang hambaNya, maka tampak pada orang ini bahwa semua makhluk ini seolah-olah mengakui ketuhanannya, sebagaimana makin yakin dalam hati sanubarinya (perasaannya ke Esa- an) Allah yang tidak bersekutu dalam dzat, sifat, af’ aal, kekuasaan dan Kebesaran-Nya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

173. غَيِّبْ نَظَرَ الْخَلْقِ إِلَيْكَ بِنَظَرِ اللهِ إِلَيْكَ، وَغِبْ عَنْ إِقْبَالِهِمْ عَلَيْكَ بِشُهُودِ إِقْبَالِهِ عَلَيْكَ.

Hilangkan pandangan makhluk kepadamu karena puas dengan penglihatan Allah kepadamu, dan lupakan perhatian (menghadapnya) makhluk kepadamu, karena melihat bahwa Allah menghadap kepadamu.

Sahl bin Abdullah Attustary berkata kepada kawan-kawannya : seorang tidak dapat mencapai hakikat kewalian sehingga menghilangkan pandangan orang dari fikirannya, sehigga tidak melihat apa-apa di dunia, hanya ia dengan Tuhan yang menjadikannya, sebab tidak ada seorangpun yang dapat menguntungkan atau merugikan. Atau menghilangkan perasaan diri (hawa nafsunya) sehingga tidak menghiraukan orang, dan tidak segan atau takut kepada mereka, apa saja yang akan terjadi. Mengharap kepuasan dari semua manusia itu suatu tujuan yang tidak mungkin tercapai, dan sebodoh-bodoh manusia siapa yang berusaha untuk mendapatkan apa yang tidak mungkin tercapai. Lukman Alhakiem ketika memberi nasehat kepada putranya, diajak masuk ke pasar dengan berkendaraan himar ia yang berkendaraan dan

anaknya yang menuntun. Orang mencela : Orang tua kejam, dia berkendaraan dan anaknya disuruh berjalan. Kemudian ia suruh anaknya naik tiba-tiba orang mencela : Dua orang naik satu himar. Lalu turun Lukman, dan anaknya tetap di atas, tiba-tiba ada orang mencela : Anak kurang ajar, bapak dijadikan buruh menuntun. Kemudian turun keduanya menuntun himar, tiba-tiba orang mencela. Bodoh benar himar tidak dinaiki hanya dituntun semata-mata. Tujuan Lukman ontuk menunjukkan kepada putranya bahwa orang yang beramal atau mengambil-ambil hati orang tidak selamat dari celaan mereka. Karena itu seorang yang sempurna akal fikiran di dalam beramal hanya menuju kepada hak, benar dan diridhai Allah, hanya itu saja yang dikerjakan.

Muhammad bin Aslam ra. berkata : Ada kepentingan apakah saya pada manusia padahal sejak saya dalam punggung Ayah seorang diri, lalu di dalam perut ibu juga seorang diri dan keluar di dunia juga seorang diri, (yakni tidak melalui bantuan manusia) hingga mati dan masuk ke kubur juga seorang diri, dan menghadapi persoalan alam kubur sampai kemudian menghadap kepada Allah, dan masuk surga atau neraka juga seorang diri, maka apakah kebutuhan saya dengan manusia ? Al-Harits Almuhasiby ra. ketika ditanya tentang tanda orang yang sungguh-sungguh ikhlas yaitu yang tidak hirau (menghiraukan) dinilai apa saja oleh sesama manusia, asalkan ia sudah benar hubungannya dengan Allah dan tidak ada orang yang mengetahui walau sekecil debu dari amal kebaikannya, dan tidak takut jika ada orang mengetahui amal perbuatannya yang tidak baik. Sebab jika ia merasa enggan untuk diketahui orang kebusukannya, berarti ia ingin dipuji atau besar dalam pandangan orang, dan itu tidak termasuk kelakuan atau akhlak orang yang benar-benar ikhlas.

Hikam Ibnu 'Atoillah

034. مِنْ عَلاَمَاتِ النَّجْحِ فِي النِّهَايَاتِ الرُّجُوعُ إِلَى اللهِ فِي البِدَايَاتِ.

Suatu tanda akan lulusnya seorang pada akhir perjuangannya, jika selalu tawakkal, menyerah kepada Allah sejak mulai perjuangannya. Seorang arief berkata : Siapa yang menyangka bahwa ia akan dapat sampai kepada Allah, dengan perantaraan sesuatu selain Allah, pasti akan putus karenanya, Dan siapa dalam ibadatnya bersandar pada kekutan dirinya diserahkan oleh Allah kepada kekuatan dirinya. Yakni, hanya sampai disitu saja, dan tidak dapat mencapai bahagian- bahagian yang hanya dapat dicapai dengan tawakkal menyandarkan diri kepada Allah.

Hikam Ibnu 'Atoillah

178. إِنَّمَا احْتَجَبَ لِشِدَّةِ ظُهُورِهِ، وَخَفِيَ عَنِ الْأَبْصَارِ لِعِظَمِ نُورِهِ.

Sesungguhnya terhijabnya Allah dari penglihatanmu karena sangat terangnya, dan samar dari penglihatan itu karena besarnya sinar cahaya nurnya.

Alat panca indera manusia sangat terbatas, maka untuk mencapai sesuatu harus tepat pada ukuran yang tertentu, jika sangat jauh tidak dapat dicapai. Demikian pula terangnya sesuatu yang akan dicapai harus dalam ukuran yang memungkinkan, sehingga gelap tidak dapat dicapai, demikian pula jika sangat terang menyilaukan juga tidak dapat dilihat. Kedua sebab ini sebenarnya bukan hijab sebab sesuatu itu tidak dapat terhijab oleh dzatnya sendiri, tetapi yang nyata kini yang menjadi hijab itu hanya kelemahan alat yang ada pada manusia itu sendiri. Kata pujangga dalam gubahan syairnya : "Dengan cahaya dapat menjadi terang semua yang engkau lihat dari bentuk gambar lukisan dan dengan nur itu juga adanya benda-benda alam ini, tidak dapat diragukan". Tetapi ia menjadi samar karena sangat terangnya sehingga tidak tercapai oleh panca indera, tetapi dapat dicapai oleh orang yang tajam matahatinya. Maka apabila engkau melihat dengan matahatimu, tidak akan me- nemukan sesuatu yang terlukis pada benda-benda itu selain daripadanya. Dan apabila engkau mencari sesuatu hakikat dari lainNya, maka nyata engkau masih tergelincir oleh kebodohanmu sendiri.

Disalin