Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

266. قَوْمٌ تَسْبِقُ أَنْوَارُهُمْ أَذْكَارَهُمْ، وَقَوْمٌ تَسْبِقُ أَذْكَارُهُمْ أَنْوَارَهُمْ، وَقَوْمٌ تَتَسَاوَى أَذْكَارُهُمْ وَأَنْوَارُهُمْ، وَقَوْمٌ لاَ أَذْكَارَ وَلاَ أَنْوَارَ، نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ ذٰلِكَ. ذَاكِرٌ ذَكَرَ لِيَسْتَنِيرَ قَلْبُهُ فَكَانَ ذَاكِرًا، وَذَاكِرٌ اسْتَنَارَ قَلْبُهُ فَكَانَ ذَاكِرًا، وَالَّذِي اسْتَوَتْ أَذْكَارُهُ وَأَنْوَارُهُ فَبِذِكْرِهِ يُهْتَدَى وَبِنُورِهِ يُقْتَدَى.

Segolongan (sebagian) orang nur imannya mendahului daripada dzikirnya, dan sebagian dzikirnya mendahului nur imannya, dan ada pula golongan yang berbarengan antara nur dengan dzıkirnya, dan ada pula kaum yang tidak ada dzikir dan tidak ada nur. Na’udzu billahi min dzalika. (Kami berlinduıng kepada Allah dari golongan yang tidak ada dzikir dan tidak ada nur itu). Ada yang berdzikir untuk mendapatkan nur terang hatinya, maka disebut berdzikir, dan ada yang telah terang nur hatinya, ini pun juga ber- dzikir. Sedang orang yang sama/berbanding antara dzikir dengan nurnya, maka dengan dzikirnya dapat hidayah, dan dengan nurnya dapat diikuti. Golongan yang mendapat nur sebelum dzikir ialah sebagian tersebut dalam ayat :

يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ (آل عمران: ٧٤)

Allah menentukan rahmatNya pada siapa yang dikehendakiNya. Sedang golongan yang berdzikir kemudian mendapat nur ialah yang tersebut dalam ayat :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا (العنكبوت: ٦٩)

Dan mereka yang benar-benar berjuang dalam jalan keridhaanKu, pasti Aku pimpin (tunjukkan jalan Kami).

Abul-Abbas Almarsy berkata : Manusia ada dua macam, ada yang mendapat kurnia Allah, sehingga berbuat taat kepada Allah, dan adapula yang dengan taatnya kepada Allah mencapai kebesaran kurnia Allah.

Firman Allah :

اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ (الشورى: ١٣)

Allah memilih untuk kurniaNya siapa yang dikehendakiNya, dan memberi petunjuk kepadanya, siapa yang sungguh-sungguh datang/ kembali kepadaNya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

004. أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لاَ تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ.

Istirahatkan dirimu/fikiranmu daripada kerisauan mengatur kebutuhan duniamu, sebab apa yang sudah dijamin/diselesaikan oleh lainmu, tidak usah kau sibuk memikirkannya . Sebagai seorang hamba wajib dan harus melulu mengenal kewajiban, sedang jaminan upah ada ditangan majikan, maka tidak usah risau fikiran perasaan untuk mengatur, karena kuatir kalau apa yang telah dijamin itu tidak tiba, atau terlambat, sebab ragu terhadap jaminan Allah tanda kurangnya iman.

Hikam Ibnu 'Atoillah

197. مَنْ أُذِنَ لَهُ فِي التَّعْبِيرِ فُهِّمَتْ فِي مَسَامِعِ الْخَلْقِ عِبَارَتُهُ، وَجُلِّيَتْ إِلَيْهِمْ إِشَارَتُهُ.

Şiapa yang telah mendapat izin dari Allah untuk berkata- kata (menerangkan), maka segala kata-katanya dapat dimengerti oleh pendengarannya, dan semua isyarat petunjuknya dapat terang jelas Orang yang diizinkan itu ialah yang berbicara Lillahi wa billahi wa fillah. Karena Allah dan dengan bantuan Allah, dan dalam tuntunan hukum Allah. Hamdun bin Ahmad bin Umarah Algashshar ketika ditanya : Mengapakah kata-kata orang dahulu jauh lebih berguna dari ajaran kita ini ? Jawabnya : Karena mereka bicara (berkata) untuk kemuliaan Islam, dan keselamatan jiwa dan untuk mendapat keridhaan Allah. Sedang kami bicara untuk kemuliaan diri dan mencari dunia, dan keridhaan (penerima) makhluk. Al-Junaid berkata : Kalimat yang benar itu hanya yang diucapkan setelah mendapat izin. Sebagaimana firman Allah :

لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا (النبأ: ٣٨)

Mereka tidak dapat berkata-kata, kecuali yang diizinkan oleh Arrahman (Allah dan berkata benar (tepat).

Hikam Ibnu 'Atoillah

057. لاَ تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضُورِكَ مَعَ اللهِ فِيهِ، لِأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُودِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِي وُجُودِ ذِكْرِهِ، فَعَسَى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَفْلَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقَظَةٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقَظَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَيْبَةٍ عَمَّا سِوَى الْمَذْكُورِ، وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيزٍ.

Jangan meninggalkan dzikir, karena engkau belum selalu ingat kepada Allah di waktu berdzikir, sebab kelalaianmu terhadap Allah ketika tidak berdzikir lebih berbahaya daripada kelalaianmu terhadap Allah ketika kamu berdzikir.

Semoga Allah menaikkan derajatmu daripada dzikir dengan kelalaian, kepada dzikir yang disertai ingat (sadar) terhadap Allah, kemudian naik pula dari dzikir dengan kesadaran ingat, kepada dzikir yang disertai rasa hadir, dan dari dzikir yang disertai rasa hadir kepada dzikir hingga lupa terhadap segala sesuatu selain Allah. Dan yang demikian itu bagi Allah tidak sukar (tidak berat). Memindah (menaikkan) dari satu tingkat ke lain tingkat (derajat), dzikir adalah satu-satunya jalan yang terdekat menuju kepada Allah, bahkan yang sangat mudah dan ringan.

Abu Qasim Alqusyairy berkata : Dzikir itu simbul wilayah (kewalian), dan pelita penerangan untuk sampai, dan tanda sehatnya permulaannya, dan menunjukkan jernihnya akhir puncaknya, dan tiada suatu amal yang menyamai dzikir, sebab segala amal perbuatan itu ditujukan untuk berdzikir, maka dzikir itu bagaikan jiwa dari segala amal. Sedang kelebihan dzikir dan keutamaannya tak dapat dibatasi. Firman Allah :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ (البقرة: ١٥٢)

Berdzikirlah kamu kepadaKu niscaya Aku berdzikir kepadamu.

(Al-Bagarah 152).

Dalam hadits qudsy, Allah berfirman :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي.

Aku selalu mengikuti sangkaan hambaKu terhadap diriku, dan Aku selalu menyertainya ketika ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir dalam hati peribadinya (sendirian). Akupun berdzikir padanya dalam diriKu dan jika ia berdzikir padaKu di depan umum, Akupun berdzikir padanya di muka umum yang lebih baik dari golongannya, dan bila ia mendekat padaku sejengkal Aku mendekat padanya sehasta, dan bila ia mendekat padaku sehasta, Aku mendekat padanya sedepa, dan bila ia datang kepadaku berjalan, Aku datang kepadanya berjalan cepat (berlari).

Abdullah bin Abas ra. berkata : Tiada suatu kewajiban yang diwajibkan oleh Allah pada hambaNya melainkan ada batas-batasnya, kemudian bagi orang-orang yang berudzur dimaafkan bila tidak dapat melakukannya, kecuali dzikir maka tidak ada batas. dan tidak ada udzur yang dapat diterima untuk tidak berdzikir, kecuali jika berubah akal (gila). Firman Allah :

لِأُولِي الْأَلْبَابِ * الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ (آل عمران: ١٩٠ - ١٩١)

Bagi orang yang sempurna akal, ialah mereka yang selalu berdzikir pada Allah sambil berdiri, duduk dan berbaring di atas pinggangnya.

(S. Al-Imraan 191).

Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (الأحزاب: ٤١ - ٤٢)

Hai sekalian orang yang beriman : Berdzikirlah kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dzikir. Dan bertasbihlah (mengagumkan) Allah pada pagi dan petang. Yakni pagi, siang, sore, malam, di darat, di laut, di udara, pergi dan tidak pergi, yakni pada segala tempat dan masa, bagi yang kaya, miskin, sehat, sakit, terang-terangan atau sembunyian dengan lisan atau hati dan pada segala hal keadaan.

Disalin