Andaikan tidak ada lapangan perjuangan melawan hawa nafsu (syahwat), pasti tidak dapat terbukti perjalanan orang-orang yang menuju kepada Allah, sebab memang tidak ada jarak antaramu dengan Allah untuk dijalani (ditempuh) dengan kendaraan, dan juga tidak pernah putus antaramu dengan Allah, sehingga dapat disambung oleh hubunganmu. Berjalan menuju kepada Allah, ialah memutuskan segala rintangan syahwat hawa nafsu dan adat kebiasaan yang akan menghambat. Tidak mungkin hidup (terang) hati nurani kecuali setelah mematikan pengaruh hawa nafsu. Nikmat yang terbesar ialah bila telah dapat bebas dari pengaruh tipu daya hawa nafsu, sebab hawa nafsu itu sebagai tirai yang tebal antara engkau dengan Allah ta’ala. Hatim Al-asham berkata : Siapa yang akan masuk golongan kami harus dapat membunuh hawa nafsunya empat kali : Mati yang merah yaitu menahan (mengekang) hawa nafsu. Mati yang hitam yaitu sabar tabah menanggung gangguan orang. Mati yang putih yaitu tahan lapar, dan mati yang hijau dapat memakai pakaian tembelan (compang- camping). Sahl bin Abdullah ra. berkata : Rahasia nafsu belum pernah terbukti kecuali dalam pernyataan Fir’aun ketika ia berkata : Ana Tidak mungkin dapat terlepas dari belenggu hawa nafsu, kecuali dengan memperhatikan dan melaksanakan ajaran-ajaran syariat lahir batin, tanpa mengurangi atau berlebihan, tanpa teledor dan malas. A’isyah ra. berkata : Rasulullah saw. telah bersabda : Laksanakan amal perbuatan itu sekuat tenagamu, sesungguhnya Allah tidak jemu menerima dan memberi pahala, hingga kamu jemu beramal. Dan
seutama-utama amal perbuatan itu ialah yang terus menerus (dawam) dilakukan meskipun sedikit.
Abul Qasin Alqusyairy berkata : Hakikat membunuh hawa nafsu itu, ialah lepas bebas dari tipu dayanya, dan tidak memperhatikan sesuatu yang timbul daripadanya, dan menolak segala pengakuan- pengakuannya, dan tidak bingung (sibuk) untuk mengaturnya, dan tetap menyerahkan segala urusan itu kepada Allah swt. dengan melepaskan usaha ikhtiar dan kehendak sendiri, sehingga lenyap dan hapus sama sekali pengaruh hawa nafsu itu terhadap kemanusiaannya. Adapun sisa-sisa yang berupa gambaran kerangkanya, maka itu tidak berbahaya. Demikianlah jalan untuk membunuh hawa nafsu yang dapat segera mencapai haderatal-qudsi (tempat yang suci luhur), yang sesuai dengan tuntutan syariat dan hakikat yang menjadi pelita bagi tiap salik yang menempuh jalan untuk mendekat kepada Allah. Karena itulah Rasulullah saw. berpesan kepada Abu Dzar untuk banyak membaca : Laa haula wa laa quwwata illa billahi. .