Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

252. الْمُتَوَاضِعُ الْحَقِيقِيُّ هُوَ مَا كَانَ نَاشِئًا عَنْ شُهُودِ عَظَمَتِهِ وَتَجَلِّي صِفَتِهِ.

Hakikat tawadhu’ (tawadhu’ yang sesungguh-sungguhnya) ialah yang timbul karena melihat/memperhatikan kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah. Tawadhu’ dalam pendapat ahli tauhid, adalah kesombongan, sebab siapa yang merasa dirinya ada kemuliaan dan kedudukan, maka perasaan yang demikian itu sebagai kesombongan.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

154. الْمُؤْمِنُ إِذَا مُدِحَ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ تَعَالَى أَنْ يُثْنَى عَلَيْهِ بِوَصْفٍ لاَ يَشْهَدُهُ مِنْ نَفْسِهِ.

Seorang mukmin jika dipuji orang, malu pada Allah karena ia dipuji dengan sifat yang tidak ada pada dirinya. Seorang mukmin yang sesungguhnya ialah tidak merasa dirinya mempunyai sifat-sifat yang layak untuk dipuji, sebab ia hanya merasa mendapat karunia Allah jika ia dapat berbuat sesuatu yang baik, dan S paca Kalanya)

sama sekali bukan dari us uasaan dan kehendak sendiri.

Hikam Ibnu 'Atoillah

198. رُبَّمَا بَرَزَتِ الْحَقَائِقُ مَكْسُوفَةَ الْأَنْوَارِ إِذَا لَمْ تُؤْذَنْ لَكَ فِيهَا بِالْإِظْهَارِ.

Adakalanya ilmu hakikat itu tampak pudar cahayanya jika engkau belum mendapat izin untuk mengeluarkannya. Siapa yang belum sempurna sifat-sifatnya, belum diizinkan untuk menerangkan hakikat, dan bila ia menerangkannya pasti akan terlihat suram cahayanya, karena ia sendiri masih diliputi sesuatu yang berlawan- an dengan hakikat itu, dan karena itu pula ditolak oleh pendengarnya.

Abul-Abbas Almarsy berkata : Seorang wali itu lebih dahulu telah dipenuhi oleh ilmu dan pengertian ma'rifat, sehingga hakikat itu menjadi keyakinan dan terlihat terang baginya. Karena itu jika melepaskan kalimat

seolah-olah mendapat izin dari Allah, dan kalimat yang dikeluarkannya itu berhias indah bukan buatan, maka langsung diterima oleh pendengarnya.

Disalin