Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

251. لَيْسَ الْمُتَوَاضِعُ الَّذِي إِذَا تَوَاضَعَ رَأَى أَنَّهُ فَوْقَ مَا صَنَعَ، وَلٰكِنَّ الْمُتَوَاضِعَ إِذَا تَوَاضَعَ رَأَى أَنَّهُ دُونَ مَا صَنَعَ.

Bukan orang yang tawadhu’ itu, seorang yang bila bertawadhu’ lalu merasa bahwa ia telah mengalah/merendahkan dirinya, tetapi orang tawadhu’ itu ialah yang bila berbuat sesuatu merasa diri belum layak mendapatkan kedudukan itu.

Asysyibly berkata : Siapa yang merasa diri berharga, maka ia tidak bertawadhu’ (maka tidak ada bagian dalam tawadhu’).

Abu Sulaiman Addarany berkata : Seorang hamba tidak dapat bertawadhu’ kepada Allah, hingga mengetahui kedudukan dirinya (letak dirinya). Abu Yazid berkata : Selama seorang itu merasa ada orang yang lebıh jahat daripadanya, maka ia sombong. Dan ketika ditanya : Bilakah seorang itu bertawadhu’? Jawabnya : Jika tidak merasa ada kedudukan atau kemuliaan, dan tawadhu’ seseorang itu menurut kadar ma’rifatnya terhadap Tuhan dan dirinya. Muhammad bin Mugatil ketika dimintai doa oleh orang-orang, ia menangis sambil berkata : Semoga bukan sayalah yang menyebabkan kamu menderita bala bencana ini. Dan tanda bahwa ia benar-benar bertawadhu’, jika ia tidak marah ketika dihina atau dicela.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

100. كَفَى مِنْ جَزَائِهِ إِيَّاكَ عَلَى الطَّاعَةِ أَنْ رَضِيَكَ لَهَا أَهْلاً.

Cukup menjadi balasan Allah atas ketaatanmu, jika Allah ridha (rela) menjadikan engkau ahli taat/ibadat. Taufiq dan hidayah yang diberikan Allah kepada seorang hamba itu sebagai karunia yang sebesar-besarnya bagi seorang hamba, sebab dengan hidayat dan taufiq itulah seorang hamba dapat menerima nikmat dan bahagia dunia akherat.

Hikam Ibnu 'Atoillah

053. لاَ تَصْحَبْ مَنْ لاَ يُنْهِضُكَ حَالُهُ، وَلاَ يَدُلُّكَ عَلَى اللهِ مَقَالُهُ.

Jangan berkawankan seorang yang tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah, amal kelakuannya dan tidak memimpin engkau ke jalan Allah kata-katanya.

Dalam hadits :

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.

Seorang akan mengikuti pendirian (kelakuan) temannya, karena itu tiap orang harus memilih siapakah yang harus didekati sebagai kawan (teman).

Sufyan Astsaury berkata : Siapa yang bergaul dengan orang banyak harus mengikuti mereka, dan siapa mengikuti mereka harus bermuka-muka pada mereka, dan siapa yang bermuka-muka kepada mereka, maka binasa seperti mereka pula.

Sahl bin Abdullah berkata : Berhati-hatilah (jangan) berkawan dengan tiga macam manusia :

1. Pejabat pemerintah yang kejam.

2. Ahli quraa' yang bermuka-muka.

3. Orang tasawuf gadungan (yang bodoh tentang hakikat tasawuf).

Ali bin Abi Thalib ra. berkata: Sejahat-jahat teman yang memaksa engkau bermuka-muka dan memaksa engkau minta maaf atau selalu mencari alasan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

208. عَلِمَ قِلَّةَ نُهُوضِ الْعِبَادِ إِلَى مُعَامَلَتِهِ، فَأَوْجَبَ عَلَيْهِمْ وُجُودَ طَاعَتِهِ، فَسَاقَهُمْ إِلَيْهَا بِسَلاَسِلِ الْإِيجَابِ. عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُسَاقُونَ إِلَى الْجَنَّةِ بِالسَّلاَسِلِ.

Allah mengetahui kurang semangatnya hamba untuk mengerjakan taat maka diwajibkan kepada mereka melakukan taat dan ditarik mereka itu dengan rantai kewajiban : Tuhanmu kagum dari kaum yang ditarik masuk ke surga dengan rantai.

Disalin