Siapa yang merasa diri bertawadhu’, maka berarti ia benar- benar sombong, sebab tidak mungkin ia merasa tawadhu’ kecuali kalau ia merasa besar/tinggi, karena itu bila engkau menetapkan bahwa dirimu itu besar/tinggi, maka benar-benar engkau telah sombong (mutakabbir). Maka apabila engkau menetapkan d (merendah diri) yakni padahal engkau ıtu seorang besar dan tinggi, maka itu berarti engkau benar-benar telah sombong (mutakabbir). Seorang yang merasa bertawadhu’ (merendah diri) itu disebabkan ia merasa besar tinggi, hanya saja ia merendah dan perasaan besar/ tinggi diri itulah hakikat kesombongan, dan itu pula arti takabbur yang arul haqqi wa ghamthunnas a orang lain). ar dan tinggi, mulia.
260. أَنْتَ مَعَ الْأَكْوَانِ مَا لَمْ تَشْهَدِ الْمُكَوِّنَ، فَإِذَا شَهِدْتَهُ كَانَتِ الْأَكْوَانُ مَعَكَ.
Engkau tetap terikat oleh alam benda, selama engkau belum melihat yang mencipta alam, tetapi bila engkau telah melihat pencipta alam, maka alam ini akan tunduk kepadamu. Selama masih ada hajat kebutuhan kepada alam benda, maka engkau tetap menjadi budak hamba kebendaan, tetapi bila engkau telah sadar bahwa benda ini tidak bergerak sendiri, bahkan tergantung pada penciptanya, maka ketika engkau sadar yang demikian, engkau tidak berhajat lagi kepada alam benda, dan merasa kaya cukup dengan pencipta alam benda, sehingga benda itu pun tunduk kepadamu dengan izin Allah penciptanya.
Asysyibly berkata : Tidak pernah tergerak di dalam hati orang yang mengenal kepada Allah pencipta alam ini, sesuatu dari hal alam benda : Yakni seorang yang benar-benar telah mengenal Allah, sama sekali tidak merasa butuh kepada kebendaan.
Engkau tetap terikat oleh alam benda, selama engkau belum melihat yang mencipta alam, tetapi bila engkau telah melihat pencipta alam, maka alam ini akan tunduk kepadamu. Selama masih ada hajat kebutuhan kepada alam benda, maka engkau tetap menjadi budak hamba kebendaan, tetapi bila engkau telah sadar bahwa benda ini tidak bergerak sendiri, bahkan tergantung pada penciptanya, maka ketika engkau sadar yang demikian, engkau tidak berhajat lagi kepada alam benda, dan merasa kaya cukup dengan pencipta alam benda, sehingga benda itu pun tunduk kepadamu dengan izin Allah penciptanya.
Asysyibly berkata : Tidak pernah tergerak di dalam hati orang yang mengenal kepada Allah pencipta alam ini, sesuatu dari hal alam benda : Yakni seorang yang benar-benar telah mengenal Allah, sama sekali tidak merasa butuh kepada kebendaan.
244. خَيْرُ الْعِلْمِ مَا كَانَتِ الْخَشْيَةُ مَعَهُ.
Sebaik-baiknya ilmu itu, yang disertai oleh rasa takut kepada Allah swt.
Firman Allah :
إِنَّمَا يَخْشَىَ اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ العُلَمَاءُ.
Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah dari para hamba itu, hanya orang-orang yang alim/aarif. (Fathir 28).
Rasulullah saw. bersabda :
طَالِبُ الْعِلْمِ تَكَفَّلَ اللَّهُ بِرِزْقِهِ.
Orang yang menuntut ilmu agama itu, Allah menjamin rezkinya. Juga sabda Nabi saw. : Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu, karena suka (gemar) pada apa yang dituntut. Rasulullah saw. berlindung kepada Allah : Allahumma inni a'udzu bika min ilmin laa yanfa' (Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak berguna). Ilmu yang tidak berguna yaitu yang tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah. Al-Junaid ketika ditanya : Apakah ilmu yang berguna ? Jawabnya : Ialah yang menunjukkan engkau kepada Allah, dan menjauhkan dari menurutkan hawa nafsu syahwatmu.
Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang cinta dunia, berbahaya akheratnya, dan siapa yang cinta akherat, berbahaya dunianya. Ingatlah kamu harus mengutamakan yang kekal abadi daripada yang lekas rusak dan hancur.
Sebaik-baiknya ilmu itu, yang disertai oleh rasa takut kepada Allah swt.
Firman Allah :
إِنَّمَا يَخْشَىَ اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ العُلَمَاءُ.
Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah dari para hamba itu, hanya orang-orang yang alim/aarif. (Fathir 28).
Rasulullah saw. bersabda :
طَالِبُ الْعِلْمِ تَكَفَّلَ اللَّهُ بِرِزْقِهِ.
Orang yang menuntut ilmu agama itu, Allah menjamin rezkinya. Juga sabda Nabi saw. : Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayapnya pada orang yang menuntut ilmu, karena suka (gemar) pada apa yang dituntut. Rasulullah saw. berlindung kepada Allah : Allahumma inni a'udzu bika min ilmin laa yanfa' (Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak berguna). Ilmu yang tidak berguna yaitu yang tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah. Al-Junaid ketika ditanya : Apakah ilmu yang berguna ? Jawabnya : Ialah yang menunjukkan engkau kepada Allah, dan menjauhkan dari menurutkan hawa nafsu syahwatmu.
Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang cinta dunia, berbahaya akheratnya, dan siapa yang cinta akherat, berbahaya dunianya. Ingatlah kamu harus mengutamakan yang kekal abadi daripada yang lekas rusak dan hancur.
143. أَنْتَ إِلَى حِلْمِهِ إِذَا أَطَعْتَهُ أَحْوَجُ مِنْكَ إِلَى حِلْمِهِ إِذَا عَصَيْتَهُ.
Engkau lebih membutuhkan maaf dan kesabaran Allah, ketika engkau berbuat taat, melebihi daripada kebutuhan ketika engkau berbuat maksiat dosa. Kemuliaan seorang hamba hanya ketika bersandar diri kepada Tuhannya, dan jatuhnya seorang hamba bila ia telah melihat dan berbangga dengan dirinya sendiri. Sedang manusia ketika berbuat taat merasa dirinya sudah baik lalu berbangga dengan amal perbuatannya itu, kemudian menghina pada lain orang. Padahal amal perbuatannya itu jika dikoreksi dalam hal keikhlasannya tidak mungkin akan diterima, bahkan amal itu semua hanya amal perbuatan yang palsu dan tidak berharga di sisi Allah. Allah telah menurunkan wahyu kepada seorang Nabi : Beritahukan kepada hamba-hambaKu yang siddiqin (yang sungguh-sungguh beribadat kepadaKu), janganlah kamu tertipu oleh kesombongan dengan amal per- buatanmu itu, karena apabila Aku menegakkan benar-benar keadilanKu pasti Aku akan menyiksa mereka dan tidak (bukan) suatu kedzaliman terhadap mereka. Dan katakan kepada hamba-hambaKu yang telah berbuat dosa : Janganlah kamu berputus harapan dari rahmatKu, sebab tidak ada suatu dosa yang tidak dapat Aku ampunkan. Abu Yazid Al-Bustamy berkata : Tobat karena berbuat maksiat itu cukup hanya satu kali, sedang tobat setelah berbuat taat harus seribu kali, sebab taat yang diliputi oleh ujub sombong itu berubah menjadi maksiat yang besar, dan orang tidak akan menyadarinya. Sebagaimana terjadi jatuhnya iblis dari singgasana kehormatannya.
Engkau lebih membutuhkan maaf dan kesabaran Allah, ketika engkau berbuat taat, melebihi daripada kebutuhan ketika engkau berbuat maksiat dosa. Kemuliaan seorang hamba hanya ketika bersandar diri kepada Tuhannya, dan jatuhnya seorang hamba bila ia telah melihat dan berbangga dengan dirinya sendiri. Sedang manusia ketika berbuat taat merasa dirinya sudah baik lalu berbangga dengan amal perbuatannya itu, kemudian menghina pada lain orang. Padahal amal perbuatannya itu jika dikoreksi dalam hal keikhlasannya tidak mungkin akan diterima, bahkan amal itu semua hanya amal perbuatan yang palsu dan tidak berharga di sisi Allah. Allah telah menurunkan wahyu kepada seorang Nabi : Beritahukan kepada hamba-hambaKu yang siddiqin (yang sungguh-sungguh beribadat kepadaKu), janganlah kamu tertipu oleh kesombongan dengan amal per- buatanmu itu, karena apabila Aku menegakkan benar-benar keadilanKu pasti Aku akan menyiksa mereka dan tidak (bukan) suatu kedzaliman terhadap mereka. Dan katakan kepada hamba-hambaKu yang telah berbuat dosa : Janganlah kamu berputus harapan dari rahmatKu, sebab tidak ada suatu dosa yang tidak dapat Aku ampunkan. Abu Yazid Al-Bustamy berkata : Tobat karena berbuat maksiat itu cukup hanya satu kali, sedang tobat setelah berbuat taat harus seribu kali, sebab taat yang diliputi oleh ujub sombong itu berubah menjadi maksiat yang besar, dan orang tidak akan menyadarinya. Sebagaimana terjadi jatuhnya iblis dari singgasana kehormatannya.