Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

246. مَتَى أَلَمَّكَ عَدَمُ إِقْبَالِ النَّاسِ عَلَيْكَ أَوْ تَوَجُّهُهُمْ بِالذَّمِّ إِلَيْكَ، فَارْجِعْ إِلَى عِلْمِ اللهِ فِيكَ، فَإِنْ كَانَ لاَ يُقْنِعُكَ عِلْمُهُ، فَمُصِيبَتُكَ بِعَدَمِ قَنَاعَتِكَ بِعِلْمِهِ أَشَدُّ مِنْ مُصِيبَتِكَ بِوُجُودِ الْأَذَى مِنْهُمْ.

Apabila menyakitkan hatimu (menyedihkan hatimu) tidak menghadapnya orang-orang kepadamu, atau celaan orang-orang kepadamu, maka selidikilah apa yang diketahui Allah dari perbuatanmu (maka koreksilah keadaan diri yang sebenarnya menurut apa yang diketahui oleh Allah), maka apabila engkau belum puas dengan apa yang sebenarnya telah diketahui oleh Allah itu, maka bala’ yang menimpa kepadamu karena tidak puas terhadap yang telah diketahui oleh Allah itu, lebih besar dari bala’ sekedar diganggu oleh sesama manusia. Seharusnya seorang hamba hanya memperhatikan ridha dan murka Tuhannya saja, tidak gembira kecuali jika diridhai oleh Tuhan dan tidak sedih kecuali jika dimurkai oleh Tuhan, adapaun puji dan celaan orang, maka tidak harus dihiraukan, sebab jika engkau di sisi Allah baik, maka biarpun dicela oleh semua manusia niscaya engkau tetap baik dan untung, sebaliknya jika engkau busuk disisi Allah, maka walaupun engkau dipuji- puji oleh semua manusia, maka engkau tetap tersiksa dan binasa. Contohnya para Nabi, Rasul dan wali mereka tidak selamat dari makian orang. Karena itu kewajibanmu ialah membereskan dan memperbaiki hubungan dengan Allah, asal sudah beres sudah cukup baik.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

092. الْبَسْطُ تَأْخُذُ النَّفْسُ مِنْهُ حَظَّهَا بِوُجُودِ الْفَرَحِ، وَالْقَبْضُ لاَ حَظَّ لِلنَّفْسِ فِيهِ.

Di dalam masa kelapangan (baseth) hawa nafsu dapat mengambil bagiannya karena gembira, sedang dalam masa sempit (qabdh) tidak ada bagian sama sekali untuk hawa nafsu. Karena itu manusia lebih aman dalam kesempitan, karena hawa nafsu tidak dapat memperdaya.

Abul-Hasan Assyadzily ra. berkata : Algabdhu wal basthu (risau hati, dan riang hati) selalu silih berganti dalam perasaan tiap hamba, bagaikan silih berganti siang dan malam. Dan sebabnya gabdh (risau hati) itu salah satu dari tiga : Karena dosa atau kehilangan dunia, atau dihina orang, Maka ada seorang hamba, jika merasa berdosa harus segera bertobat, dan jika kehilangan dunia, harus rela dan menyerah kepada hukum Allah, dan bila dihina orang harus sabar. Dan jagalah dirimu jangan sampai kamu merugikan (aniaya) lain orang. dan apabila terjadi qabdh (risau hati) itu tidak diketahui sebabnya, maka harus tenang menyerah. Insya Allah jika tenang menyerah, tidak lamå akan sirna masa gelap dan berganti dengan terang, ada kalanya terang bintang yaitu ilmu atau sinar bulan yaitu tauhid, atau matahari yaitu ma'rifat, tetapi jika tidak tenang dimasa gelap (risau hati) mungkin akan terjerumus dalam kebinasaan. Adapun dalam masa bashet (riang hati), maka sebabnya adalah satu dari tiga : Karena bertambahnya kelakuan ibadat (taat) dan bertambahnya ilmu ma'rifat atau karena bertambahnya kekayaan atau kehormatan, dan yang ketiga karena pujian dan sanjungan orang kepadanya. Maka adab seorang hamba : Jika merasa bertambah taat ibadatnya dan ilmu ma'rifatnya harus merasa bahwa itu semata-mata kurnia Tuhan, dan berhati-hati jangan sampai merasa bahwa itu dari kerajinan sendiri. Dan jika mendapat tambah keduniaan, maka ini pula yang harus dianggap bahwa itu semata- mata kurnia Allah, dan harus waspada jangan sampai terkena bahayanya. Adapun jika berupa pujian sanjungan orang kepadamu, maka kehamba- anmu mengharuskan bersyukur kepada Allah yang telah menutupi kejelekkan- mu, sehingga orang-orang hanya mengenal kebaikanmu, semata-mata.

Hikam Ibnu 'Atoillah

028. مَا أَرَادَتْ هِمَّةُ سَالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَ مَا كُشِفَ لَهَا إِلاَّ وَنَادَتْهُ هَوَاتِفُ الْحَقِيقَةِ: الَّذِي تَطْلُبُ أَمَامَكَ. وَلاَ تَبَرَّجَتْ ظَوَاهِرُ الْمَكَوَّنَاتِ إِلاَّ وَنَادَتْكَ حَقَائِقُهَا: إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ.

Tiada berkehendak semangat seorang shalih (yang berjalan menuju kepada Allah) untuk berhenti ketika terbuka baginya sebagian yang ghaib, melainkan segera diperingatkan oleh suara hakikat. Bukan itu tujuan, dan teruslah berjalan ke depan. Demikian pula tiada tampak baginya keindahan alam, melainkan diperingatkan oleh hakikatnya : Bahwa kami semata-mata sebagai ujian, maka janganlah tertipu hingga menjadi kafir.

Abul-Hasan Attus tary berkata : Di dalam jalan menuju kepada Allah jangan menoleh kepada yang lain, dan pergunakan selalu dzikir kepada Allah, itu sebagai benteng pertahananmu. Sebab segala

Abul-Hasan (Ali) Asysyadzily ra. berkata : Jika engkau ingin mendapatkan apa yang telah dicapai oleh para waliyullah, maka hendaknya engkau mengabaikan semua manusia, kecuali orang-orang yang menunjukkan kepadamu jalan menuju Allah, dengan isyarat (teori) yang tepat atau perbuatan yang tidak menyalahi Kitabullah dan sunnaturrasul, dan abaikan dunia tetapi jangan mengabaikan sebagian untuk mendapat bagian yang lain, sebaliknya hendaknya engkau menjadi hamba Allah yang diperintah mengabaikan musuh- Nya. Apabila engkau telah dapat melakukan dua sifat itu, yaitu : mengabaikan manusia dan dunia maka tetaplah tunduk kepada hukum ajaran Allah dengan Istiqomah dan selalu tunduk, Istighfar. Pengertian keterangan ini : Supaya engkau benar-benar merasa diri sebagai hamba Allah dalam semua yang engkau kerjakan atau engkau tinggalkan, dan menjaga hati perasaan, jangan sampai merasa seolah-olah di dalam alam ini ada kekuasaan bagi lain Allah, yakni bersungguh-sungguh dalam menanggapi (memfahami) :

اللَّهِ. لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Tiada daya dan tiada kekuatan sama sekali, kecuali dengan bantuan pertolongan Allah. Maka apabila masih merasa ada kekuatan diri sendiri berarti : belum sempurna mengaku diri hamba Allah. Sebaliknya bila telah

benar-benar perasaan Laa haula walaa Quwwata illaa billaah itu, dan tetap demikian beberapa lama niscaya Allah membukakan untuknya pintu rahasia-rahasia yang tidak pernah mendengar dari manusia seisi alam.

Hikam Ibnu 'Atoillah

194. مَنْ عَبَّرَ عَنْ بِسَاطِ إِحْسَانِهِ أَصْمَتَتْهُ الْإِسَاءَةُ، وَمَنْ عَبَّرَ عَنْ بِسَاطِ إِحْسَانِ اللهِ إِلَيْهِ لَمْ يَصْمُتْ إِذَا أَسَاءَ.

Siapa yang mengajar karena memandang kebaikan dirinya, maka ia akan diam jika ia berbuat salah (dosa) dan siapa yang mengajar dengan pengertian kebaikan Allah baginya (padanya) maka ia tidak akan diambila ia berbuat salah (dosa). Siapa yang memberi nasehat tentang kebaikan dengan pengertian karena ia merasa sudah baik, maka bila sesuatu saat ia tergelincir dalam dosa, maka akan merasa malu untuk memberi nasehat atau mengajar orang lain, tetapi bila ia ketika mengajar itu pandangannya semata-mata kurnia rahmat dari Allah kepada makhluknya, maka tidak akan merasa malu kalau pada sesuatu saat ia tergelincir dalam dosa dan kesalahan, sebab merasa berbuat kebaikan itu hanya semata-mata kurnia rahmat Allah.

Abul-Abbas Almarsi ra. berkata : Manusia terbagi tiga : Pertama ialah golongan yang selalu memperhatikan apa-apa yang dari padanya kepada Allah, kedua : Golongan yang selalu hanya ingat pemberian- pemberian kurnia Allah pada dirinya. Dan ketiga : Golongan yang hanya memandang bahwa semua dari Allah kembali kepada Allah. Golongan pertama : Scialu memikirkan kekurangan diri dalam menunaikan kewajiban, sehingga selalu berdukacita. Dan golongan kedua : Selalu melihat semua itu adalah kurnia Allah, maka ia selalu gembira. Dan golongan ketiga : Telah lupa pada dirinya sendiri, hanya teringat bahwa asal dari Allah akan kembali kepada Allah, maka terserah kepada Allah.

Abul-Hasan Assyadzily ra. berkata : Pada suatu malam saya membaca surat Qul-a'udzu birabbinnas, hingga akhir surat. Tiba-tiba terasa bagiku bahwa : Syarrul was waasil khannaas, yang berbisik dalam hati itu, ialah yang menyusup antara kau dengan Allah, untuk melupakan engkau dari kurnia-kurnia Allah, yang halus-halus dan samar, dan mengingatkan engkau kepada perbuatan-perbuatanmu yang jahat/dosa.

Tujuannya untuk membelokkan engkau dari husnudhdhan kepada su'udhdhan terhadap Allah ta'ala, maka waspadalah. Abul-Hasan Assyadily ra. berkata : Seorang aarif itu ialah seorang yang telah mengetahui rahasia-ralasia kurnia Allah di dalam berbagai macam ujian bala' yang menimpa sehari-hari. Dan juga mengetahui/mengakui kesalahan-kesalahannya di dalam lingkungan belas kasih Allah kepada- nya. Ia berkata pula : Sedikitnya amal dergan mengakui kurnia Allah, lebih baik dari banyak amal dengan merasa kekurangan diri sendiri. Yakni seolah-olah mempunyai kekuatan sendiri untuk bikin baik, hanya sekarang belum baik, sehingga selalu berduka-cita memikirkan bagaimana dapatnya lebih baik, padahal ia harus menyerah di samping minta saja kepada Allah, sebab jika Allah belum memberi maka tetap tidak ada perubahan pada dirinya berdasarkan pengertian.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (الطلاق: ٣)

Dan siapa yang berserah diri kepada Allah, maka Allah sendiri yang akan mencukupi/melengkapi kekurangannya. Dan : Tiada daya upaya atau kekuatan kecuali dengan bantuan dan pertolongan Allah semata-mata.

Disalin