Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

239. إِنْ أَرَدْتَ أَنْ لاَ تُعْزَلَ فَلاَ تَتَنَاوَلْ وِلاَيَةً لاَ تَدُومُ لَكَ.

Jika engkau tidak ingin dipecat, maka jangan memangku jabatan yang tidak akan tetap bagimu untuk selamanya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

182. عِنَايَتُهُ فِيكَ لاَ لِشَيْءٍ مِنْكَ، وَأَيْنَ كُنْتَ حِينَ وَاجَهَتْكَ عِنَايَتُهُ وَقَابَلَتْكَ رِعَايَتُهُ، لَمْ يَكُنْ فِي أَزَلِهِ إِخْلاَصُ أَعْمَالٍ وَلاَ وُجُودُ أَحْوَالٍ، بَلْ لَمْ يَكُنْ هُنَاكَ إِلاَّ مَحْضُ الإِفْضَالِ وَعَظِيمُ النَّوَالِ.

Perhatian Allah kepadamu bukan karena sesuatu yang timbul daripadamu, buktinya : Di manakah engkau ketika Allah menetapkan kurniaNya kepadamu di dalam azal itu, dan disaat itu doa atau amal yang ikhlas atau lain-lain hal, bahkan tidak ada apa-apa ketika itu selain semata-mata kurnia dan kebesaran pemberian Allah. Perhatikan pemeliharaan Allah kepadamu sejak engkau berupa mani yang sama sekali belum dapat berdoa atau beramal, tetapi perlengkapan yang diberikan Allah kepadamu tidak berkurang sedikitpun, dan demikianlah selanjutnya hingga engkau lahir, kecil, dewasa dan tua tetap tidak berubah kurnia Allah kepadamu tidak bersandar kepada amal atau doamu, tetapi semata-mata kekuasaan dan kehendak Allah yang mutlak dan kurnianya yang tiada tara bandingannya, dan tiada henti-hentinya. Allah melengkapi hajat kebutuhan di saat engkau sendiri belum mengerti apa saja hajat kebutuhanmu yang primer yang tidak dapat tidak harus engkau mempunyainya, yang sekiranya satu saja dikurangi berarti tidak sempurna bentuk kejadianmu itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

156. إِذَا أُطْلِقَ الثَّنَاءُ عَلَيْكَ وَلَسْتَ بِأَهْلٍ فَأَثْنِ عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ.

Jika Allah melepaskan lidah orang-orang memuji-muji kepadamu, padahal nyata-nyata engkau tidak layak untuk mendapat pujian yang sedemikian itu, maka harus engkau memuji kepada Allah sebagai layaknya (haknya). Yakni engkau memuji kepada Allah yang telah menutupi kekurangan- kekuranganmu dan aib (cela) mu itu, dan jangan sekali-kali tertipu oleh pujian orang yang bodoh yang tidak mengetahui hakikat yang sebenarnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

042. اخْرُجْ مِنْ أَوْصَافِ بَشَرِيَّتِكَ عَنْ كُلِّ وَصْفٍ مُنَاقِضٍ لِعُبُودِيَّتِكَ لِتَكُونَ لِنِدَاءِ الحَقِّ مُجِيبًا، وَمِنْ حَضْرَتِهِ قَرِيبًا.

Keluarlah dari sifat-sifat kemanusiaanmu (yakni yang jelek dan rendah), ialah semua sifat yang menyalahi kehambaanmu, supaya mudah bagimu untuk menyambut panggilan Allah dan mendekat kepadaNya. Sifat-sifat manusia yang berhubungan dengan faham agama terbagi dua : Lahir yaitu yang dilakukan dengan anggota jasmani, dan Batin yaitu yang berlaku dalam hati (rohani). Sedang yang berhubungan dengan anggota lahir juga terbagi dua : Yang sesuai dengan perintah bernama taat dan yang menyalahi perintah bernama maksiat. Demikian pula yang berhubungan dengan hati terbagi dua : Yang sesuai dengan hakikat (kebenaran) bernama iman dan ilmu, dan yang berlawanan dengan hakikat kebenaran bernama nifaq dan kebodohan. Sifat-sifat yang jelek (rendah) yaitu : Hasud, iri hati, dengki, sombong, mengadu domba, merampok dan gila pangkat, sangat cinta pada dunia, dan tamak, rakus dan lain-lain sebagainya. Dan dari sifat-sifat jelek ini akan timbul cabang-cabangnya yang berupa permusuhan kebencian, merendah terhadap orang kaya, menghina orang miskin, bermuka-muka, sempit dada, hilang kepercayaan terhadap jaminan Allah, kejam, tidak malu dan lain-lain sebagainya. Apabila seorang telah dapat mengusir dan membersihkan diri dari sifat-sifat yang rendah, yang bertentangan dengan kehambaan itu, maka pasti ia akan sanggup menerima dan menyambut tuntunan Tuhan baik yang langsung dalam ayat-ayat Qur'an atau yang berupa tuntunan dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah saw. Dan dengan demikian berarti ia telah mendekat ke hadirat Tuhan. Sifat ubudiyah (kehambaan) ialah patuh taat terhadap semua perintah dan larangan mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tanpa membantah dan merasa keberatan.

Disalin