Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

232. لاَ تَسْتَحْقِرَنَّ وِرْدًا لاَ تَعْلَمُ ثَمَرَتَهُ، فَلَيْسَ الْمُرَادُ مِنَ السَّحَابَةِ الْأَمْطَارَ، وَإِنَّمَا الْمُرَادُ مِنْهَا وُجُودُ الْأَثْمَارِ.

Jangan membanggakan (gembira) terhadap suatu warid (yakni kecondongan hati untuk berbuat taat) yang belum engkau ketahui buahnya, sebab bukan yang diharapkan dari awan itu sekedar hujan, tetapi tujuan utamanya ialah adanya buah dari pohon-pohonan. Contohnya amal ibadat sembahyang, jangan keburu merasa bangga dan gembira, karena sudah dapat sembahyang, selama belum merasakan buah sembahyang sebagaimana yang tersebut dalam ayat :

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ (العنكبوت: ٤٥)

Sesungguhnya sembahyang itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Ini buahnya sembahyang, maka selama belum mendapat buah yang demikian, jangan merasa bangga atau gembira, tetapi disamping itu jangan putus harapan untuk diterimanya meskipun belum berhasil segera buahnya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

073. مَنْ لَمْ يُقْبِلْ عَلَى اللهِ بِمُلاَطَفَاتِ الْإِحْسَانِ قِيدَ إِلَيْهِ بِسَلاَسِلِ الاِمْتِحَانِ.

Siapa yang tidak suka menghadap (mendekat) kepada Allah dengan halusnya pemberian kurnia Allah, maka akan diseret supaya ingat kepada Allah dengan rantai ujian (bala'). Siapa yang tidak suka sadar dzikir kepada Allah ketika sehat afiat dan murah rizqi, maka akan dipaksa supaya dzikir ingat kepada Allah dengan tibanya bala' bencana. maka dalam kedua hal itu Allah berkenan akan menuangkan nikmat kurnia yang sebesar-besarnya kepada hambaNya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

252. الْمُتَوَاضِعُ الْحَقِيقِيُّ هُوَ مَا كَانَ نَاشِئًا عَنْ شُهُودِ عَظَمَتِهِ وَتَجَلِّي صِفَتِهِ.

Hakikat tawadhu' (tawadhu' yang sesungguh-sungguhnya) ialah yang timbul karena melihat/memperhatikan kebesaran Allah, dan terbukanya sifat-sifat Allah. Tawadhu' dalam pendapat ahli tauhid, adalah kesombongan, sebab siapa yang merasa dirinya ada kemuliaan dan kedudukan, maka perasaan yang demikian itu sebagai kesombongan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

280. فَالْعَاقِلُ مَنْ كَانَ بِمَا هُوَ أَبْقَى أَفْرَحَ مِنْهُ بِمَا هُوَ يَفْنَى، قَدْ أَشْرَقَ نُورُهُ وَظَهَرَتْ تَبَاشِيرُهُ.

Maka orang yang sempurna akal, ialah yang lebih suka (gemar) pada apa yang kekal daripada yang rusak lenyap. Karena

telah terang nur hatinya, dan tampak tanda-tanda bukti nur itu pada seri mukanya.

Sahl bin Abdullah berkata : Siapa yang senang pada sesuatu yang tidak layak disenangi, maka ia telah mendatangkan kesusahan yang tidak ada habisnya.

Disalin