Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

231. لاَ تَيْأَسْ مِنْ قَبُولِ عَمَلٍ لَمْ تَجِدْ فِيهِ وُجُودَ الْحُضُورِ، فَرُبَّمَا قُبِلَ مِنَ الْعَمَلِ مَا لَمْ تُدْرَكْ ثَمَرَتُهُ عَاجِلاً.

Jangan putus harapan untuk diterimanya amal perbuatan yang engkau kerjakan dengan tidak khusuk (hadir hati di dalamnya), sebab masih ada kemungkinan amal itu diterima padahal belum dapat dilihat buahnya dengan segera.

Meskipun dalam alam perbuatan belum mencapai hadirnya hati dan manis taat yang dilakukan itu, maka jangan keburu putus harapan untuk diterimanya amal itu, meskipun masih dalam taraf sekedar tagarrub kepada Allah dan merasa bahwa itu kurnia Allah kepadanya, maka yang demikian itu sudah cukup baik.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

010. الْأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا وُجُودُ سِرِّ الْإِخْلاَصِ فِيهَا.

Amal perbuatan itu sebagai kerangka yang tegak, sedang ruh (jiwa)nya, ialah terdapatnya rahasia ikhlas (ketulusan) dalam amal perbuatan itu. Keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya menurut tingkat kedudukannya, maka keikhlasan orang abrar, apabila amal perbuatan itu telah bersih dari riyaa' yang jelas maupun yang samar, sedang tujuan amal perbuatan mereka selalu hanya pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada hambaNya yang ikhlas. Dan ini terambil dari ayat : "Iyyaaka na'budu : Hanya kepadaMu kami menyembah, dan tiada kami mempersekutukan Engkau dalam ibadatku ini kepada sesuatu yang lain. Adapun keikhlasan orang-orang mugarrabin ialah menterapkan pengertian : "Laa haula walaa quwwata illaa billaahi" : Tiada daya untuk mengelakkan, dan tiada kekuatan untuk berbuat apapun kecuali dengan pertolongan langsung dari Allah, tiada daya kekuatan sendiri, sedang semua itu hanya daripada Allah, ia merasa bahwa semua amal perbuatan semata-mata kurnia Allah kepadanya, sebab Allah yang memberi hidayat dan taufiq, ini terambil dari ayat : "Iyyaaka nasta' iin" Hanya kepadaMu kami mengharap bantuan pertolongan, sebab kami sendiri tidak berdaya. Amal orang abrar dinamakan amal lillah : Beramal karena Allah. Sedangkan amal mugarrabin dinamakan : Amal billahi : Beramal dengan bantuan kurnia Allah. Amal lillah menghasilkan sekedar memperhatikan hukum lahir, sedangkan amal billahi menembus ke dalam perasaan hati. Seorang guru berkata : Perbaikilah amal perbuatan- mu dengan ikhlas, dan perbaikilah keikhlasanmu itu dengan perasaan tidak ada kekuatan sendiri, sedang semua kejadian itu hanya semata- mata karena bantuan pertolongan Allah ta'ala.

Hikam Ibnu 'Atoillah

204. رُبَّمَا اسْتَحْيَا الْعَارِفُ أَنْ يَرْفَعَ حَاجَتَهُ إِلَى مَوْلاَهُ اكْتِفَاءً بِمَشِيئَتِهِ، فَكَيْفَ لاَ يَسْتَحِي أَنْ يَرْفَعَهَا إِلَى خَلِيقَتِهِ.

Adakalanya seorang aarif itu malu meminta hajatnya kepada Tuhannya karena merasa rela (puas) dengan kehendakNya, maka bagaimana tidak akan malu minta hajatnya kepada makhluknya. Sahel bin Abdullah berkata : "Tiada sesuatu nafas atau hati melainkan diperhatikan oleh Allah pada tiap detik, baik siang atau malam, maka apabila Allah melihat dalam hati itu ada hajat kepada sesuatu selain Allah, niscaya Allah mendatangkan iblis untuk hati itu.

Abu Ali Addaqgaq berkata : Sesuatu tanda dari ma'rifat, tidak minta hajat kebutuhan kecuali kepada Allah, baik besar maupun kecil. Contohnya : Nabi Musa rindu ingin melihat Allah ia berkata : Robbi arini andhur ilaika. Dan ketika berhajat roti berdoa :

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ (القصص: ٢٤)

Ya Tuhan sungguh aku terhadap apa yang Engkau berikan kepadaku dari makanan itu sangat berhajat. Nabi Ibrahim as. ketika akan dilempar ke dalam api ia didatangi oleh Jibril dan ditanya : Apakah ada hajat ? Jawabnya : Kepadamu tidak. Dan kepada Allah ? Ya. Jika demikian mintalah kepada Allah. Jawab Ibrahim : Hasbi min su-ali ilmuhu bilahi : Cukup bagiku, ia mengetahui halku sehingga tidak usah saya minta padaNya.

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا (الطور: ٤٨)

Sabarlah terhadap hukum Tuhanmu karena engkau selalu dibawah pengawasan Kami.

jabinika, fain dha'ufat yaçinuka fas'alil maula yu'inuka. Makanlah dari hasil usaha dan peluh dahimu, maka apabila lemah keyakinanmu mintalah kepada Tuhan niscaya ia membantu kepadamu. Abul-Hasan Assyadzily ketika ditanya tentang ilmu kimia jawabnya : Keluarkan semua makhluk dari dalam hatimu, dan putuskan harapanmu untuk mendapat sesuatu selain yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk engkau.

Hikam Ibnu 'Atoillah

118. سُبْحَانَ مَنْ سَتَرَ سِرَّ الْخُصُوصِيَّةِ بِظُهُورِ الْبَشَرِيَّةِ، وَظَهَرَ بِعَظَمَةِ الرُّبُوبِيَّةِ فِي إِظْهَارِ الْعُبُودِيَّةِ.

Maha Suci Allah yang telah menutupi rahasia-rahasia keistimewaan orang wali (aarif) dengan tampaknya sifat-sifat yang umum pada manusia. Dan telah terang terlihat kebesaran ke Tuhanan Allah dengan menunjukkan kepada manusia sifat-sifat kehambaan dan kerendahan makhluknya. Rahasia-rahasia kebesaran ilmu ma'rifat yang diberikan oleh Allah kepada para wali yang aarif ditutupi oleh Allah dengan tampaknya sifat dan keadaan yang biasa umum bagi semua manusia, sebaliknya Allah telah memperlihatkan sejelas-jelasnya kebesaran ke-TuhananNya dengan menunjukkan sifat-sifat kelemahan dan kebutuhan hamba kepadaNya.

Disalin