Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

229. الْوَارِدُ يَأْتِي مِنْ حَضْرَةِ الْقَهَّارِ، لِأَجْلِ ذٰلِكَ لاَ يُصَادِمُهُ شَيْءٌ إِلاَّ دَمَغَهُ، بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ.

Warid (kurnia iman dari Tuhan) itu memang datangnya dari yang menang dan mengalahkan segala yang lainnya, karena itu bila warid tiba, maka tiada sesuatu yang berhadapan padanya melainkan dimusnahkannya. Ayat : Tetapi Kami melemparkan itu hak di atas yang bathil, maka melenyapkannya, maka tetaplah bathil itu musnah (hancur).

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

066. النُّورُ جُنْدُ الْقَلْبِ كَمَا أَنَّ الظُّلْمَةَ جُنْدُ النَّفْسِ، فَإِذَا أَرَادَ اللهُ أَنْ يَنْصُرَ عَبْدَهُ أَمَدَّهُ بِجُنُودِ الْأَنْوَارِ وَقَطَعَ عَنْهُ مَدَدَ الظُّلَمِ وَالْأَغْيَارِ.

Nur (cahaya terang) itu sebagai tentara yang membantu hati, sebagaimana gelap itu tentara yang membantu hawa nafsu. Maka apabila Allah akan menolong seorang hambaNya, dibantu dengan

tentara nur Ilahi dan dihentikan bantuan kegelapan dan kepalsuan. Nur (cahaya terang) yang berupa tauhid, iman dan keyakinan itu sebagai tentara pembela pembantu hati, sebaliknya kegelapan syirik dan ragu itu sebagai tentara pembantu hawa nafsu, sedang perang yang terjadi antara keduanya tidak kunjung berhenti, dan selalu menang kalah. Dan di sinilah terlihat jelas pengertian :

مَن يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ

Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.

وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menunjukinya.

مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا

Siapa yang diberi petunjuk (hidayat) oleh Allah maka ialah yang mendapat petunjuk hidayat, dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak akan engkau dapatkan pelindung atau pemimpin untuknya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

089. مَطْلَبُ الْعَارِفِينَ مِنَ اللهِ تَعَالَى الصِّدْقُ فِي الْعُبُودِيَّةِ وَالْقِيَامُ بِحُقُوقِ الرُّبُوبِيَّةِ.

Tujuan permintaan orang aarif kepada Allah, hanya semoga dapat bersungguh-sungguh dalam kehambaan dan tetap dalam menunaikan kewajiban terhadap Tuhan.

Abu Mad-yan berkata : Jauh berbedå antara orang yang semangat keinginannya hanya bidadari dan gedung, dengan orang yang keinginan- nya selalu bertemu kepada Tuhan yang menciptakan dan yang mempunyai gedung. Sungguh-sungguh dalam sifat kehambaan : lalah berakhlak dan beradab sebagai seorang yang patuh taat kepada tuannya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

254. الْمُؤْمِنُ يُشْغِلُهُ الثَّنَاءُ عَلَى اللهِ تَعَالَى عَنْ أَنْ يَكُونَ لِنَفْسِهِ شَاكِرًا، وَتُشْغِلُهُ حُقُوقُ اللهِ عَنْ أَنْ يَكُونَ لِحُظُوظِهِ ذَاكِرًا.

Seorang mukmin sibuk memuji syukur kepada Allah, sehingga tidak sempat memandang diri (memuji diri) sendiri, sebagaimana ia sibuk menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap Allah, sehingga lupa kepentingan diri. Memuji diri, ialah merasa telah berbuat amal kebaikan. Sedang hakikat mukmin itu apabila tidak merasa mempunyai kebaikan sendiri, hanya semua itu semata-mata pemberian kurnia Allah, sebagaimana ia lupa kepentingan diri sendiri karena sibuk menunaikan kewajiban- kewajibannya terhadap Allah ta'ala.

Disalin