Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

208. عَلِمَ قِلَّةَ نُهُوضِ الْعِبَادِ إِلَى مُعَامَلَتِهِ، فَأَوْجَبَ عَلَيْهِمْ وُجُودَ طَاعَتِهِ، فَسَاقَهُمْ إِلَيْهَا بِسَلاَسِلِ الْإِيجَابِ. عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُسَاقُونَ إِلَى الْجَنَّةِ بِالسَّلاَسِلِ.

Allah mengetahui kurang semangatnya hamba untuk mengerjakan taat maka diwajibkan kepada mereka melakukan taat dan ditarik mereka itu dengan rantai kewajiban : Tuhanmu kagum dari kaum yang ditarik masuk ke surga dengan rantai.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

289. وَأَكْمَلُ مِنْهُ عَبْدٌ شَرِبَ فَازْدَادَ صَحْوًا، وَغَابَ فَازْدَادَ حُضُورًا، فَلاَ جَمْعُهُ يَحْجُبُهُ عَنْ فَرْقِهِ، وَلاَ فَرْقُهُ يَحْجُبُهُ عَنْ جَمْعِهِ، وَلاَ فَنَاؤُهُ يَصُدُّهُ عَنْ بَقَائِهِ، وَلاَ بَقَاؤُهُ يَصُدُّهُ عَنْ فَنَائِهِ، يُعْطِي كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، وَيُوَفِّي كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ.

Dan yang sempurna ialah seorang hamba yang minum dari nur tauhid, maka ia bertambah kesadarannya, dan lenyap dari melihat sesuatu selain Allah, kemudian bertambah dekatnya, maka dekatnya kepada Allah tidak mempengaruhi (menutup) pisahnya, demikian pula pisahnya tidak menutupi dekatnya, fana'nya dari makhluk tidak menghalangi tetap ingatnya, demikjan ingatnya kepada makhluk tidak merintangi fana'nya, dapat menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, dan memberi pada tiap sesuatu haknya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

197. مَنْ أُذِنَ لَهُ فِي التَّعْبِيرِ فُهِّمَتْ فِي مَسَامِعِ الْخَلْقِ عِبَارَتُهُ، وَجُلِّيَتْ إِلَيْهِمْ إِشَارَتُهُ.

Şiapa yang telah mendapat izin dari Allah untuk berkata- kata (menerangkan), maka segala kata-katanya dapat dimengerti oleh pendengarannya, dan semua isyarat petunjuknya dapat terang jelas Orang yang diizinkan itu ialah yang berbicara Lillahi wa billahi wa fillah. Karena Allah dan dengan bantuan Allah, dan dalam tuntunan hukum Allah. Hamdun bin Ahmad bin Umarah Algashshar ketika ditanya : Mengapakah kata-kata orang dahulu jauh lebih berguna dari ajaran kita ini ? Jawabnya : Karena mereka bicara (berkata) untuk kemuliaan Islam, dan keselamatan jiwa dan untuk mendapat keridhaan Allah. Sedang kami bicara untuk kemuliaan diri dan mencari dunia, dan keridhaan (penerima) makhluk. Al-Junaid berkata : Kalimat yang benar itu hanya yang diucapkan setelah mendapat izin. Sebagaimana firman Allah :

لَّا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا (النبأ: ٣٨)

Mereka tidak dapat berkata-kata, kecuali yang diizinkan oleh Arrahman (Allah dan berkata benar (tepat).

Hikam Ibnu 'Atoillah

134. إِذَا أَرَادَ أَنْ يُظْهِرَ فَضْلَهُ عَلَيْكَ خَلَقَ وَنَسَبَ إِلَيْكَ.

Jika Allah akan menunjukkan kurnianya kepadamu, maka ia yang menjadikan dan menamakan amal itu perbuatanmu. Sebagaimana firman Allah : Hai hambaKu yang beriman, hai orang-orang yang beriman. Padahal Allah yang memberikan iman itu. Karena itu jawaban hamba : Engkau yang memberikan kurnia kepadaku, sehingga aku berbuat taat, padahal saya sendiri tiada berdaya dan tidak berkekuatan kecuali semata-mata dengan pertolonganMu. Sahel bin Abbdullah ra. berkata : Jika seorang hamba berbuat kebaikan, lalu ia berkata : Engkau yang memberi kurnia, taufiq dan memudahkan kepadaku, niscaya Allah memuji kepada hamba itu dengan sabdanya : HambaKu engkau telah berbuat taat dan (tagarrub) mendekat kepadaKu. Sebaliknya jika hamba itu merasa beramal tidak ingat kepada taufiq pertolongan Allah, maka Allah mengabaikan (berpaling) sambil bersabdą : Aku yang memberi taufiq hidayat, dan Aku yang membantu memudahkan itu kepadamu. Dan apabila berbuat kejahatan lalu berkata : Engkau yang menakdirkan dan menghukum serta memutuskan (yakni saya tidak ikut bersalah). Jawab Tuhan : Hai hambaKu, kaulah yang salah, bodoh dan berbuat maksiat pelanggaran. Sebaliknya jika hamba yang berbuat dosa itu berkata : Aku telah berbuat salah karena aku bodoh dolim pada diriku sendiri. Maka dijawab oleh Tuhan : HambaKu Aku yang menentukan, menakdirkan dan menutupi serta mengampunkan.

Disalin