Jangan sampai meragukan kamu, terhadap janji Allah, karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan itu, meskipun telah tertentu (tiba) masanya, supaya tidak menyaiani pandangan mata hatimu, atau memadamkan nur cahaya hatimu (sirmu).
Manusia sebagai hamba tidak mengetahui bilakah Allah akan menurunkan karunia rahmatNya, sehingga manusia jika melihat tanda-tanda ia menduga (mengira) mungkin telah tiba saatnya, padahąl bagi Allah belum memenuhi semua syarat yang dikehendaki- Nya, maka bila tidak terjadi apa yang telah dikira-kira itu, hendaknya tiada ragu terhadap kebenaran janjı Allah. Sebagaimana yang terjadi dalam Sulhul-Hudaibiyah, ketika Rasulullah saw. menceriterakan impiannya kepada sahabat, sehingga mereka mengira bahwa pada tahun itu mereka akan dapat masuk Mekkah dan melaksanakan ibadat Umroh dengan aman sejahtera (yaitu mimpi Nabi saw. yang tersebut dalam surat Alfathi ayat 27). Sehingga ketika gagal tujuan umroh karena ditolak oleh bangsa Quraisy dan terjadi penanda tanganan perjanjian Sulhul-Hudaibiyah, yang oleh Umar dan sahabat- sahabat lainnya dianggap sangat mengecewakan, maka ketika Umar ra. memajukan beberapa pertanyaan, dijawab oleh Nabi saw : Aku hamba Allah dan utusannya, dan Allah tidak akan mengabaikan aku.
Firman Allah :
حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ (البقرة: ٢١٤)
Dalam menghadapi ujian Allah. Sehingga Rasulullah dan para sahabat yang percaya kepadaNya sama-sama berkata : Bilakah tibanya bantuan (pertolongan) Allah ? Ingatlah, sesungguhnya bantuan pertolongan Allah telah hampir tiba (amat dekat). (S. Al-Bagarah 214).
Jangan sampai meragukan kamu, terhadap janji Allah, karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan itu, meskipun telah tertentu (tiba) masanya, supaya tidak menyaiani pandangan mata hatimu, atau memadamkan nur cahaya hatimu (sirmu).
Manusia sebagai hamba tidak mengetahui bilakah Allah akan menurunkan karunia rahmatNya, sehingga manusia jika melihat tanda-tanda ia menduga (mengira) mungkin telah tiba saatnya, padahąl bagi Allah belum memenuhi semua syarat yang dikehendaki- Nya, maka bila tidak terjadi apa yang telah dikira-kira itu, hendaknya tiada ragu terhadap kebenaran janjı Allah. Sebagaimana yang terjadi dalam Sulhul-Hudaibiyah, ketika Rasulullah saw. menceriterakan impiannya kepada sahabat, sehingga mereka mengira bahwa pada tahun itu mereka akan dapat masuk Mekkah dan melaksanakan ibadat Umroh dengan aman sejahtera (yaitu mimpi Nabi saw. yang tersebut dalam surat Alfathi ayat 27). Sehingga ketika gagal tujuan umroh karena ditolak oleh bangsa Quraisy dan terjadi penanda tanganan perjanjian Sulhul-Hudaibiyah, yang oleh Umar dan sahabat- sahabat lainnya dianggap sangat mengecewakan, maka ketika Umar ra. memajukan beberapa pertanyaan, dijawab oleh Nabi saw : Aku hamba Allah dan utusannya, dan Allah tidak akan mengabaikan aku.
Firman Allah :
حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ (البقرة: ٢١٤)
Dalam menghadapi ujian Allah. Sehingga Rasulullah dan para sahabat yang percaya kepadaNya sama-sama berkata : Bilakah tibanya bantuan (pertolongan) Allah ? Ingatlah, sesungguhnya bantuan pertolongan Allah telah hampir tiba (amat dekat). (S. Al-Bagarah 214).