Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

162. مَطْلِعُ الْأَنْوَارِ الْقُلُوبُ وَالْأَسْرَارُ.

Tempat terbitnya berbagai nur cahaya Ilahi itu dalam hati manusia dan rahasia-rahasianya. Bintang ilmu dan bulan ma’rifat dan matahari tauhid semuanya bersarang dan terbit hanya pada hati manusia.

Rasulullah saw. bersabda : Allah telah berfirman :

لَمْ يَسَعْنِي أَرْضِي وَلَا سَمَائِي، وَلَكِنْ وَسِعَنِي قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ.

Tidak cukup untukKu langit dan bumiKu, tetapi yang cukup bagiku hanya hati hambaKu yang beriman (mukmin). Abdul-Hasan Asysyadzily berkata : Andaikan Allah membuka penerangan nur seorang mukmin yang berbuat dosa, niscaya memenuhi antara langit dan bumi, maka bagaimanakah dengan nur cahaya seorang mukmin yang taat. Abul-Abbas Almarsy berkata : Andaikan Allah membuka hakikat kewalian seorang wali, niscaya akan disembah orang, sebab ia bersifat dengan sifat-sifat Allah swt. Andaikan Allah membuka nur cahaya hati para walinya, niscaya akan sirna cahaya matahari, bukan karena kuat nur para wali itu tetapi karena nur matahari dan bulan dapat hapus dengan gerhana, sedang nur para wali itu tidak ada gerhananya. Sesungguhnya matahari terbenam di waktu malam. Sedang matahari hati itu tidak terbenam untuk selamanya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

144. السَّتْرُ عَلَى قِسْمَيْنِ: سَتْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، وَسَتْرٌ فِيهَا، فَالْعَامَّةُ يَطْلُبُونَ مِنَ اللهِ تَعَالَى السَّتْرَ فِيهَا خَشْيَةَ سُقُوطِ مَرْتَبَتِهِمْ عِنْدَ الْخَلْقِ، وَالْخَاصَّةُ يَطْلُبُونَ مِنَ اللهِ السَّتْرَ عَنْهَا خَشْيَةَ سُقُوطِهِمْ مِنْ نَظَرِ الْمَلِكِ الْحَقِّ.

Tutup Allah itu terbagi dua, (1) tertutup dari berbuat maksiat (dosa) dan tertutup dalam perbuatan maksiat (dosa). Manusia pada umumnya minta kepada Allah supaya ditutupi dalam perbuatan dosa, karena kuatir jatuh kedudukannya dalam pandangan sesama manusia, tetapi orang-orang yang khusus minta kepada Allah, supaya ditutupi daripada maksiat (dosa), jangan sampai berbuat dosa karena takut jatuh dari pandangan Allah.

Firman Allah :

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ (النساء: ١٠٨)

Mereka sembunyi dari sesama manusia, tetapi tidak sembunyi dari Allah yang selalu beserta mereka.

Firman Allah :

يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا (النساء: ١٤٢)

Mereka orang munafiq bermuka-muka kepada orang (riyaa') dan tiada ingat dzikir kepada Allah kecuali sedikit sekali. Ady Bin Hatim ra berkata : Rasulullah saw. bersabda : Kelak pada hari Qiamat ada beberapa orang yang dibawa ke surga, tetapi setelah melihat segala kesenangan yang tersedia dan merasakan hawa enaknya, tiba-tiba diperintahkan menghalaukan mereka dari surga, sebab mereka tidak ada bagian dalam surga itu, maka kembalilah mereka dengan penuh penyesalan. Sehingga mereka berkata : Ya Tuhan, andaikan Engkau

masukkan kami ke dalam neraka sebelum memperlihatkan kepada kami surga dan segala yang disediakan untuk para waliMu, niscaya akan lebih ringan bagi kami. Jawab Tuhan : Memang kami sengaja demikian, kamu dahulu jika sendirian berbuat segala dosa-dosa yang besar, tetapi jika bertemu pada orang-orang berlagak khusuk bermuka-muka pada manusia berlawanan dengan apa yang dalam hatimu, kamu takut kepada sesama manusia dan tidak takut kepadaKu, mengagungkan manusia dan tidak condong kepada-Ku, maka hari ini Aku rasakan siksaKu yang sepedih- pedihnya, di samping diharamkan atas kamu segala RahmatKu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

155. أَجْهَلُ النَّاسِ مَنْ تَرَكَ يَقِينَ مَا عِنْدَهُ لِظَنِّ مَا عِنْدَ النَّاسِ.

Sebodoh-bodoh manusia yaitu orang yang meninggalkan (mengabaikan) keyakinan yang sungguh ada padanya, karena menurut persangkaan yang ada pada orang-orang. Yang yakin ia ketahui yaitu kekurangan-kekurangan dan dosa- dosa yang telah dilakukannya atau kerendahan akhlak dan kelemahan imannya sendiri. Sedang persangkaan orang lain yang mengira baik padanya karena kebodohannya dan tidak mengetahui apa yang di balik tirai yang tertutup fantasi lahir yang baik itu. Karena itu jika ia tidak sadar diri terhadap sesuatu yang yakin itu, karena menurutkan perkiraan orang lain, maka nyata ia sebodoh-bodoh manusia. Al-Harits Al-Muhasiby mengumpamakan orang yang senang dengan pujian orang itu, bagaikan orang yang senang dengan ejekan orang padanya : Andaikan ada orang berkata : Kotoranmu itu tidak berbau, atau berbau harum, lalu engkau gembira dengan keterangan pujian yang demikian, padahal engkau sendiri jijik dan berbuat busuk. Maka ketahuilah bahwa kotoran dosa dan jiwa itu lebih busuk dari kotoran (tai) orang. Seorang hakiem dipuji oleh orang awam, maka ia menangis lalu di- tanya : Mengapakah engkau menangis padahal orang itu memuji padamu ? Jawabnya : la tidak memuji kepadaku, melainkan setelah mengetahui bahwa ada padaku sifat-sifat yang sama dengan sifat-sifatnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

156. إِذَا أُطْلِقَ الثَّنَاءُ عَلَيْكَ وَلَسْتَ بِأَهْلٍ فَأَثْنِ عَلَيْهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ.

Jika Allah melepaskan lidah orang-orang memuji-muji kepadamu, padahal nyata-nyata engkau tidak layak untuk mendapat pujian yang sedemikian itu, maka harus engkau memuji kepada Allah sebagai layaknya (haknya). Yakni engkau memuji kepada Allah yang telah menutupi kekurangan- kekuranganmu dan aib (cela) mu itu, dan jangan sekali-kali tertipu oleh pujian orang yang bodoh yang tidak mengetahui hakikat yang sebenarnya.

Disalin