Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

153. النَّاسُ يَمْدَحُونَكَ لِمَا يَظُنُّونَهُ فِيكَ، فَكُنْ أَنْتَ ذَامًّا لِنَفْسِكَ لِمَا تَعْلَمُهُ مِنْهَا.

Orang-orang memuji padamu disebabkan oleh apa yang mereka sangka ada padamu, karena itu engkau harus mencela dirimu karena apa-apa yang benar-benar engkau ketahui pada dirimu. Jangan sampai engkau tertipu oleh pujian orang-orang yang tidak mengetahui hakikatmu, sehingga seolah-olah merasa sudah sempurna dan merasa layak dipuji, bahkan sebaliknya dari itu engkau harus berdoa.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ، وَلَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ.

Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, dan ampunkan bagiku apa-apa (dosa-dosa) yang tidak mereka ketahui. Dan jangan dituntut dengan apa yang mereka katakan. Siapa yang merasa senang dengan pujian orang terhadap dirinya, berarti ia telah mengizinkan (memberi kesempatan) kepada setan untuk masuk dan merusak iman dan fikirannya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

038. لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ، الْوَاصِلُونَ إِلَيْهِ، وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ السَّائِرُونَ إِلَيْهِ.

Hendaknya membelanjakan tiap orang kaya menurut kekaya- annya, ialah mereka yang telah sampai kepada Allah. Dan orang yang terbatas rizqinya yaitu orang sedang berjalan menuju kepada Allah.

Orang yang telah sampai kepada Allah, karena mereka telah terlepas dari kurungan melihat kepada sesuatu selain Allah, ke alam tauhid maka luaslah pandangan mereka, maka mereka berbuat di alam mereka lebih leluasa, sebaliknya orang yang masih merangkak-rangkak di dalam ilmu dan faham yang terbatas, mereka inipun mengeluarkan sekedarnya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

290. وَقَدْ قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا لَمَّا نَزَلَتْ بَرَاءَتُهَا مِنَ الْإِفْكِ عَلَى لِسَانِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا عَائِشَةُ! اشْكُرِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَقَالَتْ: وَاللهِ لاَ أَشْكُرُ إِلاَّ اللهَ. دَلَّهَا أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى الْمَقَامِ الْأَكْمَلِ مَقَامَ الْبَقَاءِ الْمُقْتَضِي لِإِثْبَاتِ الْآثَارِ، وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ. وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ يَشْكُرِ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسَ. وَكَانَتْ هِيَ فِي ذٰلِكَ الْوَقْتِ مَشْغُولَةً عَنْ شَاهِدِهَا غَائِبَةً عَنِ الْآثَارِ، فَلَمْ تَشْهَدْ إِلاَّ الْوَاحِدَ الْقَهَّارَ.

Abubakar Assiddiq ra. telah berkata kepada 'Aisyah ra. ketika Allah menurunkan ayat yang menerangkan kesuciannya dari tuduhan-tuduhan orang munafiq yang diturunkan kepada Rasulullah saw. : Hai 'Aisyah bersyukur (terima kasih)lah kepada Rasulullah saw. Jawab 'Aisyah : Demi Allah, saya tidak akan bersyukur melainkan kepada Allah. Abubakar menunjukkan kepadanya tingkat kedudukan yang lebih sempurna yaitu bagaa' yang mengakui adanya makhluk. Sedang Allah telah berfirman : Syukurlah kepadaKu dan kepada kedua ayah bundamu. Juga Rasulullah saw. bersabda : Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih terhadap sesama manusia. Tetapi Siti A'isyah ra. ketika itu sedang terpengaruh dari perasaannya, lupa dari semua makhluk, sehingga tidak melihat sesuatu kecuali dzat Allah yang Esa dan Maha Kuasa.

Hikam Ibnu 'Atoillah

145. مَنْ أَكْرَمَكَ إِنَّمَا أَكْرَمَ فِيكَ جَمِيلَ سِتْرِهِ، فَالْحَمْدُ لِمَنْ سَتَرَكَ، لَيْسَ الْحَمْدُ لِمَنْ أَكْرَمَكَ وَشَكَرَكَ.

Siapa yang meng ormati kepa enarnya hanya meng- hormat keindahan tutup Allah kepadamu, oleh karena itu seharusnya pujian itu pada Tuhan yang menutupi engkau, bukan pada orang yang memuji dan terima kasih kepadamu. Tiap orang pasti ada cela kebusukannya yang andaikan diketahui oleh lain orang, pasti akan membenci dan tidak suka padanya, tetapi yang menyebabkan adanya orang yang memuji dan menghormati padanya, bukan semata-mata karena kebaikannya, tetapi karena Allah menutupi kebusukan dan cacatnya, maka pujian itu seharusnya kembali kepada Tuhan yang menutupi kebusukan (aibnya), bukan kepada orang yang tidak mengetahui kebusukannya. Tiap orang pasti mempunyai ciri- ciri dan kekurangan-kekurangan yang ia malu jika diketahui oleh lain orang, karena itu jika terjadi ada orang memuji kepadanya tidak lain karena indahnya tutup yang dipasang oleh Allah pada dirinya. Sehingga tertutup cela kekurangannya dan terlihat bagusnya semata-mata. Karena itu wajib ia bersyukur memuji kepada Allah yang menutupi dan tidak pada manusia yang memuj inya karena tidak tahu kejelekannya.

Disalin