Allah telah mengetahui, bahwa engkau tidak sabar jika tidak melihat kepada Allah, maka Allah memperlihatkan kepadamu apa- apa yang asli buatan Allah. Kerinduan yang berupa ingin melihat kepada Allah itu, termasuk kurnia yang besar dari Allah, dan ini termasuk magam ihsan, maka terhadap orang-orang yang telah sampai ke magam ini, Allah menganjurkan sabar melihat buatan-buatan Allah lebih dahulu untuk diperlihatkan dzat Allah di akherat.
171. رُبَّمَا دَخَلَ عَلَيْكَ الرِّيَاءُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَنْظُرُ الْخَلْقُ إِلَيْكَ.
Ada kemungkinan masuknya riya' dalam amal perbuatanmu dari arah yang tidak ada orang yang melihat kepadamu. Beramal di muka orang untuk dilihat orang itu riya' yang terang jelas. Beramal sendirian, tidak ada orang yang mengetahui lalu ingin disanjung dihormat, bahkan jika ada kebutuhan supaya lekas-lekas orang membantu kepadanya, atau bila membeli sesuatu supaya dikorting (dikurangi) harga- nya, dan sekiranya ada orang yang tidak hormat padanya, ia mengharap semoga terkena siksa atau balasan Allah, ini semuanya termasuk riya' yang samar. Rasulullah saw. bersabda : Syirik itu ada yang lebih samar dari jalannya semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap. Dan riya' termaşuk dari syirik yang samar. Yaitu beramal tidak karena Allah ta'ala.
Ali bin Abi Thalib ra. berkata : Kelak pada hari kiamat Allah akan berkata kepada orang-orang yang zahid dan fakir : Tidakkah telah dimurah- kan (diturunkan) harga barang-barang untuk kamu, tidakkan jika kamu, berjalan lalu diberi salam lebih dahulu, tidakkah jika kamu berhajat (kepentingan) segera disampaikan segala hajatmu. Di dalam lain hadits : Kini tidak ada pahala bagimu, sebab semua pahalamu telah kamu terima semasa hidup di dunia. Abdullah bin Al-Mubarak meriwayatkan dari
Wahb bin Munabbih : ada seorang ahli ibadat berkata : kepada kawan- kawannya : Kami setelah meninggalkan harta kekayaan ini tidak kuatir menyeleweng dari jalan Allah, tetapi kami kuatir kalau-kalau kami telah menyeleweng dari agama melebihi dari penyelewenangan orang yang banyak harta dan anak buah, karena ada di antara kami yang ingin dihormati, disanjung karena agamanya, jika berhajat minta lekas disampaikan hajat- nya karena merasa beragama. Jika membeli sesuatu minta dimurahkan
karena merasa beragama. Ketika berita nasehat ini sampai kepada raja, maka datangiah raja dengan rombongannya yang besar sekali untuk berziarah kepada gunt vang bernasehat demikian kepada kawan-kawannya İtu, dun ketika terdengar kepadanya bahwa raja akan ziarah kepadanya, segera ia minra zepada kawannya berbagai macam makanan, lalau ia anakan dengan razas, sehingga keaka maja bertanya : Manakah orang vang meinbert nasehat demikian itn ? Di jawab : Itulah orang yang sedang nakan. Maka raja bertanya : bagaimanakah keadaanmu ? Jawabnya : amu y Jawabdya seperti orang banvak, baik-baik saja. Maka ketika raja melihat keadaan itu iz berkata kepada rombongannya : Tidak perlu datang kepada orang ui, tidak ada sebaikon baginya, ialu kembali raja. Tiba-tiba orang itu berkata : Alhamdulillah yang menghalaukan engkau darı padaku dan menjadikan engkau mencela padaku. Yusuf bin Al-Husain Arrazy berkata : Sesuatu yang amat berharga di dunia ini ialah ikhlas, beberapa kali aku bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya' dari dalam hatiku, tiba-tiba ia tumbuh dalam lain corak (warna).
Ada kemungkinan masuknya riya' dalam amal perbuatanmu dari arah yang tidak ada orang yang melihat kepadamu. Beramal di muka orang untuk dilihat orang itu riya' yang terang jelas. Beramal sendirian, tidak ada orang yang mengetahui lalu ingin disanjung dihormat, bahkan jika ada kebutuhan supaya lekas-lekas orang membantu kepadanya, atau bila membeli sesuatu supaya dikorting (dikurangi) harga- nya, dan sekiranya ada orang yang tidak hormat padanya, ia mengharap semoga terkena siksa atau balasan Allah, ini semuanya termasuk riya' yang samar. Rasulullah saw. bersabda : Syirik itu ada yang lebih samar dari jalannya semut hitam di atas batu hitam di malam yang gelap. Dan riya' termaşuk dari syirik yang samar. Yaitu beramal tidak karena Allah ta'ala.
Ali bin Abi Thalib ra. berkata : Kelak pada hari kiamat Allah akan berkata kepada orang-orang yang zahid dan fakir : Tidakkah telah dimurah- kan (diturunkan) harga barang-barang untuk kamu, tidakkan jika kamu, berjalan lalu diberi salam lebih dahulu, tidakkah jika kamu berhajat (kepentingan) segera disampaikan segala hajatmu. Di dalam lain hadits : Kini tidak ada pahala bagimu, sebab semua pahalamu telah kamu terima semasa hidup di dunia. Abdullah bin Al-Mubarak meriwayatkan dari
Wahb bin Munabbih : ada seorang ahli ibadat berkata : kepada kawan- kawannya : Kami setelah meninggalkan harta kekayaan ini tidak kuatir menyeleweng dari jalan Allah, tetapi kami kuatir kalau-kalau kami telah menyeleweng dari agama melebihi dari penyelewenangan orang yang banyak harta dan anak buah, karena ada di antara kami yang ingin dihormati, disanjung karena agamanya, jika berhajat minta lekas disampaikan hajat- nya karena merasa beragama. Jika membeli sesuatu minta dimurahkan
karena merasa beragama. Ketika berita nasehat ini sampai kepada raja, maka datangiah raja dengan rombongannya yang besar sekali untuk berziarah kepada gunt vang bernasehat demikian kepada kawan-kawannya İtu, dun ketika terdengar kepadanya bahwa raja akan ziarah kepadanya, segera ia minra zepada kawannya berbagai macam makanan, lalau ia anakan dengan razas, sehingga keaka maja bertanya : Manakah orang vang meinbert nasehat demikian itn ? Di jawab : Itulah orang yang sedang nakan. Maka raja bertanya : bagaimanakah keadaanmu ? Jawabnya : amu y Jawabdya seperti orang banvak, baik-baik saja. Maka ketika raja melihat keadaan itu iz berkata kepada rombongannya : Tidak perlu datang kepada orang ui, tidak ada sebaikon baginya, ialu kembali raja. Tiba-tiba orang itu berkata : Alhamdulillah yang menghalaukan engkau darı padaku dan menjadikan engkau mencela padaku. Yusuf bin Al-Husain Arrazy berkata : Sesuatu yang amat berharga di dunia ini ialah ikhlas, beberapa kali aku bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya' dari dalam hatiku, tiba-tiba ia tumbuh dalam lain corak (warna).
172. اِسْتِشْرَافُكَ أَنْ يَعْلَمَ الْخَلْقُ بِخُصُوصِيَّتِكَ دَلِيلٌ عَلَى عَدَمِ صِدْقِكَ فِي عُبُودِيَّتِكَ.
Keinginanmu untuk diketahui orang, tentang sesuatu dari keistimewaanmu itu, sebagai buktı tidak adanya kejujuranmu dalam kehambaanmu. Keistimewaan yang diberikan Allah kepada makhluk itu berupa ilmu, atau amal shalih, yang seharusnya dalam mengamal keduanya itu harus semata-mata untuk mendapat keridhaan Allah asalkan sudah beres dengan Allah itulah yang penting, karena itu jika dipergunakan untuk pameran dan ditonjol-tonjolkan untuk mendapat pujian orang, maka r yata baiwa rasa kehambaannya kepada Allah belum betul (belum jujur). Nabi Isa as. berkata : Jika orang berpuasu, maka hendaknya me- ninyaki rambutnya dan membasahi bibirnya, supaya jika dilihat orang disangka tidak puasa, begitu pula jika bersedekah hendaknya memberi Jengan tangan kanan dan disembunyikan dari tangan kiri, dan jika sembahyang ham tenutup tabir rumahnya, sebab Allah membagi pujian itu sebagaiman. membagi rizqi.
Abu Abdullah Al-Qurasyi berkata : Siapa yang tidak puas dengan pendengaran dan penglihatan Allah dalam amal perbuatan dan perkataannya, maka pasti kemasukan riya'.
Firman Allah :
أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (فصلت: ٥٣)
Apakah engkau tidak merasa cukup dengan Tuhanmu, bahwa la menyaksikan dan mengetahui segala sesuatu.
Abul-Khair Al-Aqtha berkata : Siapa yang ingin supaya amalnya diketahui orang, maka itu riya' dan siapa yang ingin diketahui orang hal keistimewaannya maka itu pendusta.
Abu Abbas Almarsy berkata : Siapa yang ingin terkenal, maka ia budaknya terkenal, dan siapa yang ingin tersembunyi, maka ia budaknya tersembunyi, dan siapa yang benar-benar merasa sebagai hamba Allah, maka terserah pada Allah apakah diterangkan atau disembunyikan. yakni sama saja yang penting ia beramal karena Allah.
Keinginanmu untuk diketahui orang, tentang sesuatu dari keistimewaanmu itu, sebagai buktı tidak adanya kejujuranmu dalam kehambaanmu. Keistimewaan yang diberikan Allah kepada makhluk itu berupa ilmu, atau amal shalih, yang seharusnya dalam mengamal keduanya itu harus semata-mata untuk mendapat keridhaan Allah asalkan sudah beres dengan Allah itulah yang penting, karena itu jika dipergunakan untuk pameran dan ditonjol-tonjolkan untuk mendapat pujian orang, maka r yata baiwa rasa kehambaannya kepada Allah belum betul (belum jujur). Nabi Isa as. berkata : Jika orang berpuasu, maka hendaknya me- ninyaki rambutnya dan membasahi bibirnya, supaya jika dilihat orang disangka tidak puasa, begitu pula jika bersedekah hendaknya memberi Jengan tangan kanan dan disembunyikan dari tangan kiri, dan jika sembahyang ham tenutup tabir rumahnya, sebab Allah membagi pujian itu sebagaiman. membagi rizqi.
Abu Abdullah Al-Qurasyi berkata : Siapa yang tidak puas dengan pendengaran dan penglihatan Allah dalam amal perbuatan dan perkataannya, maka pasti kemasukan riya'.
Firman Allah :
أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (فصلت: ٥٣)
Apakah engkau tidak merasa cukup dengan Tuhanmu, bahwa la menyaksikan dan mengetahui segala sesuatu.
Abul-Khair Al-Aqtha berkata : Siapa yang ingin supaya amalnya diketahui orang, maka itu riya' dan siapa yang ingin diketahui orang hal keistimewaannya maka itu pendusta.
Abu Abbas Almarsy berkata : Siapa yang ingin terkenal, maka ia budaknya terkenal, dan siapa yang ingin tersembunyi, maka ia budaknya tersembunyi, dan siapa yang benar-benar merasa sebagai hamba Allah, maka terserah pada Allah apakah diterangkan atau disembunyikan. yakni sama saja yang penting ia beramal karena Allah.
220. حُقُوقٌ فِي الْأَوْقَاتِ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا، وَحُقُوقُ الْأَوْقَاتِ لاَ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا، إِذْ مَا مِنْ وَقْتٍ يَرِدُ إِلاَّ وَلِلَّهِ عَلَيْكَ فِيهِ حَقٌّ جَدِيدٌ وَأَمْرٌ أَكِيدٌ، فَكَيْفَ تَقْضِي فِيهِ حَقَّ غَيْرِهِ وَأَنْتَ لَمْ تَقْضِ حَقَّ اللهِ فِيهِ.
Kewajiban-kewajiban di dalam waktu dapat di godho'inya, tetapi hak-hak yang disediakan oleh Allah dalam waktu tidak dapat diulanginya. Sebab tiada suatu waktu melainkan ada hak kewajiban yang baru dan perintah yang ditekankan, maka bagaimanakah engkau akan menyelesaikan hak lainnya, sedang engkau belum menyelesaikan hak Allah dalam waktu itu. Kewajiban dalam waktu seperti sembahyang, puas jika tidak dikerjakan dalam waktunya dapat digodho'inya, tetap hak-hak waktu itu sendiri yakni apa yang disediakan oleh Allah untuk waktu itu, jika tidak diambil, tidak dilaksanakan menurut tuntunannya, tidak dapat digodho'inya, yaitu waktu menerima nikmat atau taat, atau teruji dengan bala' dan maksiat, yaitu masa yang harus bersyukur, dan masa di mana ia harus bersabar dan istighfar, apabila telah berubah masanya maka berubahlah hak kewajibannya, sehingga tidak dapat digunakan untuk menggodho'i apa yang tertinggal pada masa yang telah lampau itu.
Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang diberi lalu bersyukur, dan diuji lalu sabar, dan dianiaya lalu memaafkan dan berdosa lalu minta ampun. Kemudian Rasulullah saw. diam sejenak. Sahabat bertanya : Kemudian apakah ya Rasulullah saw. untuknya ? Jawab Nabi saw. :
أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ (الأنعام: ٨٢)
Merekalah yang pasti mendapatkan kesejahteraan, dan merekalah orang yang mendapat petunjuk hidayat.
Kewajiban-kewajiban di dalam waktu dapat di godho'inya, tetapi hak-hak yang disediakan oleh Allah dalam waktu tidak dapat diulanginya. Sebab tiada suatu waktu melainkan ada hak kewajiban yang baru dan perintah yang ditekankan, maka bagaimanakah engkau akan menyelesaikan hak lainnya, sedang engkau belum menyelesaikan hak Allah dalam waktu itu. Kewajiban dalam waktu seperti sembahyang, puas jika tidak dikerjakan dalam waktunya dapat digodho'inya, tetap hak-hak waktu itu sendiri yakni apa yang disediakan oleh Allah untuk waktu itu, jika tidak diambil, tidak dilaksanakan menurut tuntunannya, tidak dapat digodho'inya, yaitu waktu menerima nikmat atau taat, atau teruji dengan bala' dan maksiat, yaitu masa yang harus bersyukur, dan masa di mana ia harus bersabar dan istighfar, apabila telah berubah masanya maka berubahlah hak kewajibannya, sehingga tidak dapat digunakan untuk menggodho'i apa yang tertinggal pada masa yang telah lampau itu.
Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang diberi lalu bersyukur, dan diuji lalu sabar, dan dianiaya lalu memaafkan dan berdosa lalu minta ampun. Kemudian Rasulullah saw. diam sejenak. Sahabat bertanya : Kemudian apakah ya Rasulullah saw. untuknya ? Jawab Nabi saw. :
أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ (الأنعام: ٨٢)
Merekalah yang pasti mendapatkan kesejahteraan, dan merekalah orang yang mendapat petunjuk hidayat.