Apabila Allah telah menjadikan engkau pada lahirnya menurut perintahNya dan dalam hatimu menyerah bulat kepadaNya, maka berarti Tuhan memberi kepadamu sebesar-besar nikmat kurniaNya. Sebesar-besar nikmat kurnia Tuhan kepada hambanya ialah jika Allah telah memberi taufiq hidayat kepada hamba untuk melakukan segala perintah kemudian ditambah dengan fekuatan menyerah tawakkal kepada Allah dalam batinnya. Sebab Seseorang dengan dua nikmat lahir batin itu telah mencapai kebutuhan dunia dan akherat sekaligus. Sebab manusia hanya diperintah supaya beribadat dengan tulus ikhlas menuju kepada Allah, tentang segala kepentingan hajatnya sudah dicukupi oleh Allah, maka tidak usah menurutkan hawa nafsu yang tidak kunjung puas.
168. رُبَّمَا أَطْلَعَكَ عَلَى عَالَمِ مَلَكُوتِهِ، وَحَجَبَ عَنْكَ اِسْتِشْرَافَ أَسْرَارِ الْعِبَادِ.
Mungkin Allah memperlihatkan kepadamu sebagian dari ghaib di alam malakut (di atas langit), tetapi sengaja Allah menutupi daripadamu rahasia-rahasia para hambaNya. Adakalanya Allah membukakan untuk seorang wali alam malakut sehingga ia mengetahui segala sesuatu yang ghaib dalam alam malakut, tetapi karena rahmat Allah kepadanya tidak dibukakan padanya jalan untuk méngetahui rahasia-rahasia sesama manusia, supaya tidak turut campur dalam urusan dan kebijaksanaan Allah yang berlaku pada semua hambaNya. Sahl bin Abdullah ketika ditanya oleh muridnya : bagaimanakah mengenal waliyullah itu ? Jawabnya : Allah tidak memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka (yakni untuk mengenal dan mendekat kepada Allah). Sebab apabila diobral sehingga mudah dikenal orang, maka timbul kewajiban bagi siapa yang sudah mengenal pada wali itu harus percaya dan tidak boleh menentang, mengingkari mereka, sebab menentang langsung berarti kekafiran, karena itu rahmat kebijaksanaan Allah telah menetapkan para wali itu dengan hijab basyariyah (kebiasaan manusia).
Firman Allah :
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا... وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ.
AL-HIKAM Allah itu wali (pelindung pemelihara) orang yang beriman atau orang mukminin.
Dalam hadits qudsi Allah berfirman :
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ.
Siapa yang mengganggu (menganiaya) seorang waliKu, maka langsung Aku memaklumkan perang kepadanya.
Mungkin Allah memperlihatkan kepadamu sebagian dari ghaib di alam malakut (di atas langit), tetapi sengaja Allah menutupi daripadamu rahasia-rahasia para hambaNya. Adakalanya Allah membukakan untuk seorang wali alam malakut sehingga ia mengetahui segala sesuatu yang ghaib dalam alam malakut, tetapi karena rahmat Allah kepadanya tidak dibukakan padanya jalan untuk méngetahui rahasia-rahasia sesama manusia, supaya tidak turut campur dalam urusan dan kebijaksanaan Allah yang berlaku pada semua hambaNya. Sahl bin Abdullah ketika ditanya oleh muridnya : bagaimanakah mengenal waliyullah itu ? Jawabnya : Allah tidak memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka (yakni untuk mengenal dan mendekat kepada Allah). Sebab apabila diobral sehingga mudah dikenal orang, maka timbul kewajiban bagi siapa yang sudah mengenal pada wali itu harus percaya dan tidak boleh menentang, mengingkari mereka, sebab menentang langsung berarti kekafiran, karena itu rahmat kebijaksanaan Allah telah menetapkan para wali itu dengan hijab basyariyah (kebiasaan manusia).
Firman Allah :
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا... وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ.
AL-HIKAM Allah itu wali (pelindung pemelihara) orang yang beriman atau orang mukminin.
Dalam hadits qudsi Allah berfirman :
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ.
Siapa yang mengganggu (menganiaya) seorang waliKu, maka langsung Aku memaklumkan perang kepadanya.
018. كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلِّ شَيْءٍ.
Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang terlihat dalam tiap sesuatu.
Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang terlihat dalam tiap sesuatu.
136. كُنْ بِأَوْصَافِ رُبُوبِيَّتِهِ مُتَعَلِّقًا، وَبِأَوْصَافِ عُبُودِيَّتِكَ مُتَحَقِّقًا.
Bersandarlah selalu kepada sifat-sifat ke Tuhanan Allah, dan perhatikan sungguh-sungguh sifat-sifat kehambaanmu sendiri. Ingatlah selalu sifat-sifat ke Tuhanan Allah, yaitu : Kaya, kuasa, mengetahui mulya dan kuat, sedang sifat-sifat kehambaanmu ialah : Miskin, lemah, bodoh, hina dan tidak berdaya. Karena mengingati selalu kepada sifat-sifat ke Tuhanan, maka kita harus bersandar diri kepada- Nya untuk mendapatkan apa hajat kebutuhan kita itu. Tidak ada lain
jalan melainkan bersandar kepada Tuhan untuk mencapai semua hajat kebutuhan itu.
Bersandarlah selalu kepada sifat-sifat ke Tuhanan Allah, dan perhatikan sungguh-sungguh sifat-sifat kehambaanmu sendiri. Ingatlah selalu sifat-sifat ke Tuhanan Allah, yaitu : Kaya, kuasa, mengetahui mulya dan kuat, sedang sifat-sifat kehambaanmu ialah : Miskin, lemah, bodoh, hina dan tidak berdaya. Karena mengingati selalu kepada sifat-sifat ke Tuhanan, maka kita harus bersandar diri kepada- Nya untuk mendapatkan apa hajat kebutuhan kita itu. Tidak ada lain
jalan melainkan bersandar kepada Tuhan untuk mencapai semua hajat kebutuhan itu.