Jangan menuntut Tuhan karena terlambatnya permintaan yang telah engkau minta kepada Tuhan, tetapi hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban- kewajibanmu terhadap Tuhanmu. Jika tidak tercapai hajat permintaanmu, maka jangan engkau mempunyai sangkaan jahat terhadap Allah, sebab Allah tidak dapat dituntut terhadap apa saja yang diperbuat, tetapi hendaknya perminta- anmu itu semata-mata untuk menunjukkan sifat kehambaanmu kepada Allah, dan hajat kebutuhanmu kepadaNya. Sebab terhadap segala kepentinganmu Allah tidak usah diingatkan, bahkan Allah telah melengkapi segala kebutuhanmu sebelum kau mengerti apakah hajat kebutuhanmu yang sebenarnya. Maka sebaiknya bila kau menyerah sebulat-bulatnya tanpa reserve tanpa usul apa-apa kepada Allah, hanya itulah yang dapat menenangkan jiwa fikiranmu.
195. تَسْبِقُ أَنْوَارُ الْحُكَمَاءِ أَقْوَالَهُمْ، فَحَيْثُ صَارَ التَّنْوِيرُ وَصَلَ التَّعْبِيرُ.
mereka, karena itu di mana telah mendapat penerangan dari nur itu sampailah kalimat yang dikatakan oleh mereka itu. iman keyakinan mereka, bahwa segala sesuatu langsung di tangan Allah yang tidak bersekutu, karena bila mereka akan menyampaikan nasehat, maka terlebih dahulu kontak hubungan mereka kepada Allah ta'ala hanya minta taufiq dan hidayat petunjuk daripadaNya. karena hanya Allah yang mengatur kalimat yang keluar dari lidah penasehat, dan Allah pula yang mengatur pendengaran yang mendengar. Rasulullah saw bersabda :
رَأْسُ الْحِكْمَةِ مَخَافَةُ اللَّهِ.
Firman Allah :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ (فاطر: ٢٨)
Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah hanyalah para ulama. Ulama yang tidak takut kepada Allah, adalah ulama' suu' (penipu ummat). Siapa yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah hidayat iman- nya, maka tidak bertambah dekat kepada Allah, bahkan bertambah jauh.
mereka, karena itu di mana telah mendapat penerangan dari nur itu sampailah kalimat yang dikatakan oleh mereka itu. iman keyakinan mereka, bahwa segala sesuatu langsung di tangan Allah yang tidak bersekutu, karena bila mereka akan menyampaikan nasehat, maka terlebih dahulu kontak hubungan mereka kepada Allah ta'ala hanya minta taufiq dan hidayat petunjuk daripadaNya. karena hanya Allah yang mengatur kalimat yang keluar dari lidah penasehat, dan Allah pula yang mengatur pendengaran yang mendengar. Rasulullah saw bersabda :
رَأْسُ الْحِكْمَةِ مَخَافَةُ اللَّهِ.
Firman Allah :
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ (فاطر: ٢٨)
Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah hanyalah para ulama. Ulama yang tidak takut kepada Allah, adalah ulama' suu' (penipu ummat). Siapa yang bertambah ilmu tetapi tidak bertambah hidayat iman- nya, maka tidak bertambah dekat kepada Allah, bahkan bertambah jauh.
088. الرَّجَاءُ مَا قَارَنَهُ عَمَلٌ، وَإِلاَّ فَهُوَ أُمْنِيَّةٌ.
Pengharapan yang sesungguhnya ialah yang disertai amal perbuatan kalau tidak demikian, maka itu hanya angan-angan (lamunan) belaka.
Rasulullah saw. bersabda :
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ.
Seorang yang sempurna akal ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap untuk menghadapi maut, sedang orang bodoh ialah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan mengharap berbagai macam harapan.
Ma'ruf Alkarkhi berkata : Mengharap surga tanpa amal perbuatan itu dosa, dan mengharap syafaat tanpa sebab berarti tertipu, dan mengharapkan rahmat dari siapa yang tidak engkau taati perintahnya berarti kebodohan.
Al-Hasan ra. berkata : Sesungguhnya ada beberapa orang yang tertipu oleh angan-angan keinginan pengampunan, sehingga mereka keluar dari dunia (mati), sedang belum ada bagi mereka suatu hasanat (kebaikan) sama sekali. Sebab mereka berkata : Kami baik sangka terhadap Allah, pada hal berdusta dalam pengakuan itu, sebab andaikan mereka baik sangka terhadap Allah, tentu baik pula perbuatannya. AI-Hasan lalu membacakan ayat Qur'an :
وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ (فصلت: ٢٣)
Itulah persangkaanmu terhadap Tuhan telah membinasakan kamu, maka kamu termasuk orang-orang yang rugi.
Al-Hasan berkata : Hai hamba Allah berhati-hatilah kamu dari angan-angan (lamunan) yang palsu, sebab itu sebagai jurang kebinasaan, kamu akan sembrono/teledor karenanya, demi Allah tidak pernah Allah memberi pada seorang hamba kebaikan semata-mata karna angan-angan belaka, baik untuk dunia maupun untuk akherat.
Pengharapan yang sesungguhnya ialah yang disertai amal perbuatan kalau tidak demikian, maka itu hanya angan-angan (lamunan) belaka.
Rasulullah saw. bersabda :
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ.
Seorang yang sempurna akal ialah yang mengoreksi dirinya dan bersiap untuk menghadapi maut, sedang orang bodoh ialah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan mengharap berbagai macam harapan.
Ma'ruf Alkarkhi berkata : Mengharap surga tanpa amal perbuatan itu dosa, dan mengharap syafaat tanpa sebab berarti tertipu, dan mengharapkan rahmat dari siapa yang tidak engkau taati perintahnya berarti kebodohan.
Al-Hasan ra. berkata : Sesungguhnya ada beberapa orang yang tertipu oleh angan-angan keinginan pengampunan, sehingga mereka keluar dari dunia (mati), sedang belum ada bagi mereka suatu hasanat (kebaikan) sama sekali. Sebab mereka berkata : Kami baik sangka terhadap Allah, pada hal berdusta dalam pengakuan itu, sebab andaikan mereka baik sangka terhadap Allah, tentu baik pula perbuatannya. AI-Hasan lalu membacakan ayat Qur'an :
وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُم مِّنَ الْخَاسِرِينَ (فصلت: ٢٣)
Itulah persangkaanmu terhadap Tuhan telah membinasakan kamu, maka kamu termasuk orang-orang yang rugi.
Al-Hasan berkata : Hai hamba Allah berhati-hatilah kamu dari angan-angan (lamunan) yang palsu, sebab itu sebagai jurang kebinasaan, kamu akan sembrono/teledor karenanya, demi Allah tidak pernah Allah memberi pada seorang hamba kebaikan semata-mata karna angan-angan belaka, baik untuk dunia maupun untuk akherat.
065. الْأَنْوَارُ مَطَايَا الْقُلُوبِ وَالْأَسْرَارِ.
Nur (cahaya-cahaya) iman, keyakinan dan dzikir itu semua sebagai kendaraan yang dapat mengantarkan hati manusia ke hadirat Allah serta menerima segala rahasia daripadaNya.
Nur (cahaya-cahaya) iman, keyakinan dan dzikir itu semua sebagai kendaraan yang dapat mengantarkan hati manusia ke hadirat Allah serta menerima segala rahasia daripadaNya.