Maha Suci Allah yang telah menutupi rahasia-rahasia keistimewaan orang wali (aarif) dengan tampaknya sifat-sifat yang umum pada manusia. Dan telah terang terlihat kebesaran ke Tuhanan Allah dengan menunjukkan kepada manusia sifat-sifat kehambaan dan kerendahan makhluknya. Rahasia-rahasia kebesaran ilmu ma’rifat yang diberikan oleh Allah kepada para wali yang aarif ditutupi oleh Allah dengan tampaknya sifat dan keadaan yang biasa umum bagi semua manusia, sebaliknya Allah telah memperlihatkan sejelas-jelasnya kebesaran ke-TuhananNya dengan menunjukkan sifat-sifat kelemahan dan kebutuhan hamba kepadaNya.
068. لاَ تُفْرِحْكَ الطَّاعَةُ لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنْكَ، وَافْرَحْ بِهَا لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنَ اللهِ إِلَيْكَ. قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ.
Jangan merasa gembira atas perbuatan taat (bakti) karena engkau merasa telah dapat melaksanakannya, tetapi bergembiralah atas perbuatan taat itu, karena ia sebagai kurnia taufiq, hidayat dari Allah kepadamu. Katakanlah : Karena merasa mendapat kurnia dan rahmat Allah, mereka harus gembira. Itulah yang lebih baik daripada yang dapat mereka kumpulkan.
(Yunus 58)
Gembira atas perbuatan taat itu jika karena merasa mendapat kehormatan kurnia dan rahmat Allah sehingga dapat melakukan taat, maka itu baik. Sebaliknya jika gembira karena merasa diri sudah kuat dan sanggup melaksanakan taat, maka ini menimbulkan ujub/sombong dan bangga yang akan membinasakan amal taat itu.
Jangan merasa gembira atas perbuatan taat (bakti) karena engkau merasa telah dapat melaksanakannya, tetapi bergembiralah atas perbuatan taat itu, karena ia sebagai kurnia taufiq, hidayat dari Allah kepadamu. Katakanlah : Karena merasa mendapat kurnia dan rahmat Allah, mereka harus gembira. Itulah yang lebih baik daripada yang dapat mereka kumpulkan.
(Yunus 58)
Gembira atas perbuatan taat itu jika karena merasa mendapat kehormatan kurnia dan rahmat Allah sehingga dapat melakukan taat, maka itu baik. Sebaliknya jika gembira karena merasa diri sudah kuat dan sanggup melaksanakan taat, maka ini menimbulkan ujub/sombong dan bangga yang akan membinasakan amal taat itu.
074. مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا، وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا.
Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti berusaha untuk hilangnya nikmat itu, dañ siapa yang syukur atas nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat kukuh.
Firman Allah :
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ (إبراهيم: ٧)
Bila kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat bagimu.
Firman Allah :
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ (النحل: ٥٣)
Tiada terjadi suatu nikmat bagimu melainkan itu dari Allah (maka itu dari Allah).
Firman Allah :
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (الضحى: ١١)
Adapun terhadap nikmat pemberian Tuhanmu, maka kau pergunakan (ceritakan/sebarkan).
Annu'maan bin Basyir ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak, dan siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah. Syukur : lalah merasa dalam hati, dan menyebut dengan lidah, dan mengerjakan dengan anggota badan.
Al-Junaid berkata : Ketika saya baru berusia 7 tahun hadir dalam majlis Assariyussagathi, tiba-tiba saya ditanya : Apakah arti syukur ? Jawabku : Syukur ialah tidak menggunakan suatu nikmat yang diberi Allah untuk perbuatan maksiat. Assary berkata: Saya kuatir kalau bagianmu dari kurnia Allah hanya dalam lidahmu belaka. Berkata Al-Junaid : Maka karena kalimat yang dikeluarkan oleh Assary itu saya selalu menangis, kuatir kalau benar apa yang dikatakan oleh Assary itu.
Siapa yang tidak mensyukuri nikmat Tuhan, maka berarti berusaha untuk hilangnya nikmat itu, dañ siapa yang syukur atas nikmat berarti telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat kukuh.
Firman Allah :
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ (إبراهيم: ٧)
Bila kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat bagimu.
Firman Allah :
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ (النحل: ٥٣)
Tiada terjadi suatu nikmat bagimu melainkan itu dari Allah (maka itu dari Allah).
Firman Allah :
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (الضحى: ١١)
Adapun terhadap nikmat pemberian Tuhanmu, maka kau pergunakan (ceritakan/sebarkan).
Annu'maan bin Basyir ra. berkata : Bersabda Nabi saw. : Siapa yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, maka tidak akan dapat mensyukuri nikmat yang banyak, dan siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah. Syukur : lalah merasa dalam hati, dan menyebut dengan lidah, dan mengerjakan dengan anggota badan.
Al-Junaid berkata : Ketika saya baru berusia 7 tahun hadir dalam majlis Assariyussagathi, tiba-tiba saya ditanya : Apakah arti syukur ? Jawabku : Syukur ialah tidak menggunakan suatu nikmat yang diberi Allah untuk perbuatan maksiat. Assary berkata: Saya kuatir kalau bagianmu dari kurnia Allah hanya dalam lidahmu belaka. Berkata Al-Junaid : Maka karena kalimat yang dikeluarkan oleh Assary itu saya selalu menangis, kuatir kalau benar apa yang dikatakan oleh Assary itu.
159. إِذَا وَقَعَ مِنْكَ ذَنْبٌ فَلاَ يَكُنْ سَبَبًا لِيَأْسِكَ مِنْ حُصُولِ الاِسْتِقَامَةِ مَعَ رَبِّكَ، فَقَدْ يَكُونُ ذٰلِكَ آخِرَ ذَنْبٍ قُدِّرَ عَلَيْكَ.
Jika terlanjur (terjadi) perbuatan dosa, maka yang demikian itu jangan sampai menyebabkan patah hatimu untuk mendapatkan istigamah kepada Tuhanmu, sebab kemungkinan yang demikian itu sebagai dosa yang terakhir yang telah ditakdirkan bagimu. Perbuatan dosa itu tidak menyalahi istigamah dalam kehambaan, asalkan jangan terus-menerus dan merupakan kegembiraan dalam melakukannya, tetapi bila semata-mata karena terlanjut, dengan tidak ada sifat gembira dalam melakukan perbuatan itu, bahkan segera bertobat daripadaNya. Sebab manusia tidak akan mungkin dapat mengelakkan diri dari takdir yang telah tertulis baginya. Karena itu terjadinya perbuatan dosa jangan sekali-kali menyebabkan putus asa dari tetapnya istigamah dalam kehambaan kepada Allah swt.
Jika terlanjur (terjadi) perbuatan dosa, maka yang demikian itu jangan sampai menyebabkan patah hatimu untuk mendapatkan istigamah kepada Tuhanmu, sebab kemungkinan yang demikian itu sebagai dosa yang terakhir yang telah ditakdirkan bagimu. Perbuatan dosa itu tidak menyalahi istigamah dalam kehambaan, asalkan jangan terus-menerus dan merupakan kegembiraan dalam melakukannya, tetapi bila semata-mata karena terlanjut, dengan tidak ada sifat gembira dalam melakukan perbuatan itu, bahkan segera bertobat daripadaNya. Sebab manusia tidak akan mungkin dapat mengelakkan diri dari takdir yang telah tertulis baginya. Karena itu terjadinya perbuatan dosa jangan sekali-kali menyebabkan putus asa dari tetapnya istigamah dalam kehambaan kepada Allah swt.