Seorang aarif tidak kunjung hilang rasa hajat kebutuhannya, dan tidak pernah merasa tenang, atau bersandar pada sesuatu selain Allah ta’ala. Seorang aarif (wali) yaitu yang tetap merasa berhajat kepada Allah, sebab memang tidak ada sesuatu yang dapat memuaskan kepadanya selain Allah. Juga karena sadar benar-benar terhadap kekuasaan Allah di samping kelemahan dan kebutuhan diri sendiri kepada Allah.
112. مَتَى أَطْلَقَ لِسَانَكَ بِالطَّلَبِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَكَ.
Apabila Allah telah melepaskan lidahmu untuk meminta, maka ketahuilah bahwa Allah akan memberi kepadamu.
Abdullah bin Umar ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang telah mendapat izin untuk berdoa, berarti telah dibukakan baginya pintu rahmat, dan tiada dimintai sesuatu yang lebih disukai oleh Allah daripada dimintai maaf dan selamat dunia akherat. Lain Hadits : Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang telah diberi kesempatan berdoa, maka tidak akan diharamkan dari ijabah (di- terimanya doa). Anas bin Malik ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Apabila Allah kasih sayang pada seorang hamba, maka dituangkan kepadanya bala', maka bila ia berdoa, berkata Malaikat : Suara yang sudah terkenal. dan berkata Jibril : Tuhanku, hambaMu Fulan, sampaikan hajatnya. Jawab Allah : Biarkan hambaKu, Aku suka mendengar suaranya. maka apabila hamba berkata : Ya Rabbi. Jawab Tuhan : Labbaika hambaKu, tiada engkau berdoa melainkan Aku sambut, dan n Abdi pade Khalgnya)
tiada engkau minta suatu melainkan pasti Aku berikan, Imma (ada kalanya) Aku segerakan untukmu, atau Aku simpan untukmu yang lebih baik bagimu, atau tolak daripadamu bala' yang lebih besar dari itu.
Apabila Allah telah melepaskan lidahmu untuk meminta, maka ketahuilah bahwa Allah akan memberi kepadamu.
Abdullah bin Umar ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang telah mendapat izin untuk berdoa, berarti telah dibukakan baginya pintu rahmat, dan tiada dimintai sesuatu yang lebih disukai oleh Allah daripada dimintai maaf dan selamat dunia akherat. Lain Hadits : Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang telah diberi kesempatan berdoa, maka tidak akan diharamkan dari ijabah (di- terimanya doa). Anas bin Malik ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Apabila Allah kasih sayang pada seorang hamba, maka dituangkan kepadanya bala', maka bila ia berdoa, berkata Malaikat : Suara yang sudah terkenal. dan berkata Jibril : Tuhanku, hambaMu Fulan, sampaikan hajatnya. Jawab Allah : Biarkan hambaKu, Aku suka mendengar suaranya. maka apabila hamba berkata : Ya Rabbi. Jawab Tuhan : Labbaika hambaKu, tiada engkau berdoa melainkan Aku sambut, dan n Abdi pade Khalgnya)
tiada engkau minta suatu melainkan pasti Aku berikan, Imma (ada kalanya) Aku segerakan untukmu, atau Aku simpan untukmu yang lebih baik bagimu, atau tolak daripadamu bala' yang lebih besar dari itu.
227. الْحَقَائِقُ تَرِدُ فِي حَالِ التَّجَلِّي مُجْمَلَةً، وَبَعْدَ الْوَعْيِ يَكُونُ الْبَيَانُ: فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ، ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ.
Hakikat ilmu yang diturunkan Allah kepada orang-orang arifin ketika tajali itu mujmal (singkat), tetapi setelah tertangkap terjadinya penerangan (keterangan)nya Ayat : maka apabila kami bacakan, ikutilah bacaannya, kemudian kami sendiri yang akan menerangkannya (penjelasan periňcian). Ilmu ialah sesuatu yang kita dapat dengan belajar, dan hakikat ialah ilmu yang berupa ilham dari Allah ke dalam hati tanpa perantara.
Abubakar Alwarraq berkata : Ketika saya sedang berada di hutan Bani Isra'il tiba-tiba tergerak dalam hatiku bahwa ilmu hakikat itu berlawanan dengan ilmu syari'at, mendadak terlihat padaku seorang di bawah pohon (umghailaan) menjerit sambil memanggil : Hai Abubakar tiap-tiap hakikat yang bertentangan dengan syariat, maka kekufuran. Hakikat itu juga dapat disebut ilmu ladunni yang langsung dari Allah.
Hakikat ilmu yang diturunkan Allah kepada orang-orang arifin ketika tajali itu mujmal (singkat), tetapi setelah tertangkap terjadinya penerangan (keterangan)nya Ayat : maka apabila kami bacakan, ikutilah bacaannya, kemudian kami sendiri yang akan menerangkannya (penjelasan periňcian). Ilmu ialah sesuatu yang kita dapat dengan belajar, dan hakikat ialah ilmu yang berupa ilham dari Allah ke dalam hati tanpa perantara.
Abubakar Alwarraq berkata : Ketika saya sedang berada di hutan Bani Isra'il tiba-tiba tergerak dalam hatiku bahwa ilmu hakikat itu berlawanan dengan ilmu syari'at, mendadak terlihat padaku seorang di bawah pohon (umghailaan) menjerit sambil memanggil : Hai Abubakar tiap-tiap hakikat yang bertentangan dengan syariat, maka kekufuran. Hakikat itu juga dapat disebut ilmu ladunni yang langsung dari Allah.
121. لَيْسَ كُلُّ مَنْ ثَبَتَ تَخْصِيصُهُ كَمُلَ تَخْلِيصُهُ.
Bukan semua orang yang telah tampak terang kekeramatannya itu berarti telah sempurna pembersihannya (dari penyakit-penyakit hawa nafsu) atau penyaringannya (yakni dalam kalangan/golongan para wali). Kekeramatan yang diberi Allah kepara para wali, tujuannya untuk memperkenalkan dengan kenyataan bukti, bahwa kekuasaan Allah tidak tergantung (terikat) kepada sebab dan kebiasaan, bahkan sebab kebiasaan itu sering menghijab manusia dari qudrat kekuasaan Allah, sebagai awan yang menutup sinar matahari keesaan Allah. Maka yang silau oleh kekeramatan itu terhina, tetapi yang tetap menembus awan itu kepada kekuasaan Allah, sehingga tetap hubungannya tidak terputus. Seorang sahabat Sahel bin Abdullah berkata : Adakalanya jika saya wudhu' tiba-tiba air itu mengalir di tangan saya berupa lantakan emas dan perak. Jawab Sahel : Apakah engkau tidak mengerti bahwa anak kecil jika menangis dihibur dengan boneka supaya diam.
Abu Nahser Assarraj berkata : Saya bertanya kepada Al-Hasan bin Salim : Apakah arti kekeramatan, sedang mereka telah dimuliakan oleh Allah sehingga sanggup mengabaikan dunia dan meninggalkannya
dengan suka rela, tetapi bagaimana lalu diberi kemuliaan (keramat) batu berubah menjadi emas, apakah artinya itu ? Jawabnya : Bukannya Allah memberikan karena kotornya, tetapi diberi itu untuk dijadikan hujjah menekan bisikan nafsu (hawa nafsu) yang selalu goncang kuatir tidak dapat rizqi, sehingga oleh Allah diperlihatkan yang demikian, sehingga dapat berkata : Bahwa Tuhan yang dapat merubah batu menjadi emas, dapat mendatangkan rizqi dan memberi dari jalan yang tidak disangka. Ishaq bin Ahmad berkata kepada Sahel : Nafsuku ini selalu merasa kuatir tidak dapat makan. Maka berkata Sahel : Engkau ambil batu itu dan minta kepada Allah supaya dijadikan makan untuk engkau makan. Ishaq bertanya : Jika berbuat demikian, maka siapa pimpinan (tauladanku) dalam berbuat demikian ? Jawab Sahel : Bertauladanlah kepada Nabi Ibrahim ketika berkata : Hai Tuhan tunjukkan perlihatkan kepadaku bagaimana caranya Engkau meng-hidupkan sesuatu yang telah mati, supaya tenteram hatiku (nafsuku) sebenarnya aku telah percaya etapi nafsu ini tidak puas, kecuali jika telah melihat dengan mata kepala.
Bukan semua orang yang telah tampak terang kekeramatannya itu berarti telah sempurna pembersihannya (dari penyakit-penyakit hawa nafsu) atau penyaringannya (yakni dalam kalangan/golongan para wali). Kekeramatan yang diberi Allah kepara para wali, tujuannya untuk memperkenalkan dengan kenyataan bukti, bahwa kekuasaan Allah tidak tergantung (terikat) kepada sebab dan kebiasaan, bahkan sebab kebiasaan itu sering menghijab manusia dari qudrat kekuasaan Allah, sebagai awan yang menutup sinar matahari keesaan Allah. Maka yang silau oleh kekeramatan itu terhina, tetapi yang tetap menembus awan itu kepada kekuasaan Allah, sehingga tetap hubungannya tidak terputus. Seorang sahabat Sahel bin Abdullah berkata : Adakalanya jika saya wudhu' tiba-tiba air itu mengalir di tangan saya berupa lantakan emas dan perak. Jawab Sahel : Apakah engkau tidak mengerti bahwa anak kecil jika menangis dihibur dengan boneka supaya diam.
Abu Nahser Assarraj berkata : Saya bertanya kepada Al-Hasan bin Salim : Apakah arti kekeramatan, sedang mereka telah dimuliakan oleh Allah sehingga sanggup mengabaikan dunia dan meninggalkannya
dengan suka rela, tetapi bagaimana lalu diberi kemuliaan (keramat) batu berubah menjadi emas, apakah artinya itu ? Jawabnya : Bukannya Allah memberikan karena kotornya, tetapi diberi itu untuk dijadikan hujjah menekan bisikan nafsu (hawa nafsu) yang selalu goncang kuatir tidak dapat rizqi, sehingga oleh Allah diperlihatkan yang demikian, sehingga dapat berkata : Bahwa Tuhan yang dapat merubah batu menjadi emas, dapat mendatangkan rizqi dan memberi dari jalan yang tidak disangka. Ishaq bin Ahmad berkata kepada Sahel : Nafsuku ini selalu merasa kuatir tidak dapat makan. Maka berkata Sahel : Engkau ambil batu itu dan minta kepada Allah supaya dijadikan makan untuk engkau makan. Ishaq bertanya : Jika berbuat demikian, maka siapa pimpinan (tauladanku) dalam berbuat demikian ? Jawab Sahel : Bertauladanlah kepada Nabi Ibrahim ketika berkata : Hai Tuhan tunjukkan perlihatkan kepadaku bagaimana caranya Engkau meng-hidupkan sesuatu yang telah mati, supaya tenteram hatiku (nafsuku) sebenarnya aku telah percaya etapi nafsu ini tidak puas, kecuali jika telah melihat dengan mata kepala.