Setengah daripada tanda menurutkan hawa nafsu, ialah cetakan dalam mengerjakan yang sunnat-sunnat, tetapi malas untuk mengerjakan yang wajib.
Muhammad bin Abil-Ward berkata : Kebinasaan manusia terjadi dalam dua hal : Mengerjakan yang sunnat dan mengabaikan yang wajib (fardhu). Dan dalam amal perbuatan hanya mementingkan bagian lahir (luar), dan mengabaikan bagian hati (yakni niat dan keikhlasan beramal). Al-Khawwash berkata : Terputusnya makhluk dari Allah, karena dua hal : Mengejar amal-amal sunnat dan meninggalkan yang wajib. Dan memperbaiki lahirnya amal, tetapi tidak memperhatikan keikhlasan
beramal, sedang Allah tetap tidak menerima amal perbuatan kecuali jika ikhlas dan tepat menurut tuntunan syari'at. Sebagaimana firman Allah :
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ (البقرة: ١١٢)
Aslama waj-hahu lillahi, berarti ikhlas melulu kepada Allah, tepat menurut tuntunan syari'at (Rasulullah saw.).
Setengah daripada tanda menurutkan hawa nafsu, ialah cetakan dalam mengerjakan yang sunnat-sunnat, tetapi malas untuk mengerjakan yang wajib.
Muhammad bin Abil-Ward berkata : Kebinasaan manusia terjadi dalam dua hal : Mengerjakan yang sunnat dan mengabaikan yang wajib (fardhu). Dan dalam amal perbuatan hanya mementingkan bagian lahir (luar), dan mengabaikan bagian hati (yakni niat dan keikhlasan beramal). Al-Khawwash berkata : Terputusnya makhluk dari Allah, karena dua hal : Mengejar amal-amal sunnat dan meninggalkan yang wajib. Dan memperbaiki lahirnya amal, tetapi tidak memperhatikan keikhlasan
beramal, sedang Allah tetap tidak menerima amal perbuatan kecuali jika ikhlas dan tepat menurut tuntunan syari'at. Sebagaimana firman Allah :
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ (البقرة: ١١٢)
Aslama waj-hahu lillahi, berarti ikhlas melulu kepada Allah, tepat menurut tuntunan syari'at (Rasulullah saw.).