Sedih karena tidak dapat melakukan suatu amal ibadat, yang disertai oleh rasa malas untuk melakukannya, itu suatu tanda bahwa ia terpedaya (tertipu) oleh syaithan. Jika ketinggalan suatu amal kebaikan merasa sedih, tetapi bila mendapat kesempatan tidak segera melakukannya, maka itu suatu tanda telah dipermainkan oleh syaithan.
Bersabda Nabi saw. : Sesungguhnya Allah suka pada tiap hati yang selalu berduka cita.
Abu Ali Addaqgad berkata : Seorang yang menyesal, dapat menempuh jalan menuju kepada Allah dalam tempo satu bulan, apa yang tidak dapat ditempuh oleh orang yang tidak merasa menyesal (sedih) dalam beberapa tahun. Karena itu termasuk dalam sifat utama bagi Rasulullah saw. Mutawashilul-ahzan, daa’imu! fikır Rasulullah saw. selalu merasa berduka cita dan selalu berfikir.
Rabi’ah Al-Adawiyah mendengar seorang berkata : Alangkah sedihnya. Maka berkata : Rabi’ah : Katakanlah : Alangkah sedikitnya rasa sedihku, sebab bila engkau benar-benar merasa sedih, tidak berkesempatan untuk bersuka-suka.