Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

085. خَيْرُ مَا تَطْلُبُهُ مِنْهُ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ.

Sebaik-baik yang harus engkau minta dari Allah, ialah apa- apa yang Allah menyuruh kamu. Yakni sebaik-baik yang harus engkau minta kepada Allah supaya engkau tetap iman, patuh taat pada semua perintah dan larangan, istigamah dalam pengabdian diri ke hadirat Allah. Itulah sebaik-baik yang harus engkau minta, baik untuk dunia maupun untuk akherat, sebab hanya itulah bahagia yang tiada tara bandingannya. Karena itu sebaik-baik doa :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ.

Ya Allah aku mohon kepadaMu, ridhaMu, dan surga, dan aku berlindung kepadaMu dari murkaMu dan api neraka.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

167. سُبْحَانَ مَنْ لَمْ يَجْعَلِ الدَّلِيلَ عَلَى أَوْلِيَائِهِ إِلاَّ مِنْ حَيْثُ الدَّلِيلُ عَلَيْهِ، وَلَمْ يُوصِلْ إِلَيْهِمْ إِلاَّ مَنْ أَرَادَ أَنْ يُوَصِّلَهُ إِلَيْهِ.

Maha Suci Allah yang sengaja tidak mengadakan suatu bukti (tanda) untuk para walinya, kecuali sekedar untuk mengenal kepada- nya, sebagaimana tidak menyampaikan (mempertemukan) dengan mereka kecuali pada orang yang akan disampaikan kepada Allah.

Abul-Abbas Almarsy berkata : Untuk mengenal seorang waliyullah itu lebih sukar daripada mengenal kepada Allah, sebab Allah mudah dikenal dengan adanya bukti-bukti kebesaran, kekuasaan dan keindahan buatanNya, tetapi untuk mengetahui seorang makhluk yang sama- sama dengan engkau : makan minum dan menderita segala penderitaan- mu sungguh sangat sukar. Tetapi jika Allah memperkenalkan engkau dengan seorang wali, maka Allah menutupi sifat-sifat manusia biasanya dan memperlihatkan kepadamu keistimewaan-keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada wali itu.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman : Para waliKu dibawah naunganKu, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang

wali, kecuali jika Ałlah memberikan taufiq hidayatNya. Supaya ia langsung juga mengenal kepada Allah dan kebesaranNya yang diberikan kepada scorang manusia yang dikehendakiNya.

Abu Ali Al-Jurjay berkata : Seorang wali itu ialah orang yang fana (lupa pada dirinya, dan tetap (baga')) dalam musyahadah dan melihat Tuhan. Allah yang mengatur segala-galanya, maka karena itu berturut- turut datang kepadanya nur ilahi. Dalam Al-Qur'an : Para wali ialah mereka yang beriman dan bertakwa. Dalam lain riwayat : Ialah mereka yang mengakui Rabbunallah (Tuhan kami Allah) dan istigamah (tetap tidak berubah). Dari itu merekalah yang merasa hidup aman tidak takut dan tidak berduka cita di dunia dan akherat.

Hikam Ibnu 'Atoillah

130. الصَّلاَةُ مَحَلُّ الْمُنَاجَاةِ وَمَعْدِنُ الْمُصَافَاةِ، تَتَّسِعُ فِيهَا مَيَادِينُ الْأَسْرَارِ، وَتُشْرِقُ فِيهَا شَوَارِقُ الْأَنْوَارِ.

Sembahyang itu sebagai tempat bermunajat (menyampaikan hajat kepada Allah), serta memanjatkan puji syukur. Dam sebagai tempat pembersihan hati dari berbagai kotoran. Leluasa di dalamnya datangnya berbagai rahasia-rahasia Tuhan. Dan terbit terang padanya cahaya-cahaya ilmu dan ma'rifat.

Firman Allah :

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (طه: ١٤)

Tegakkan sembahyang itu untuk dzikir ingat kepadaKu. Sesungguhnya seorang hamba bila ia berdiri sembahyang, maka Allah membuka untuknya tirai hijab, dan langsung dihadapinya, dan berdiri tegak para Malaikat dari atas bahunya hingga langit, mengikuti sembahyangnya dan mengaminkan doanya. Dan seorang yang sembahyang itu ditaburi rahmat dari langit hingga ubun kepalanya. Dan dipanggil oleh suara: Andaikata orang yang munajat ini mengetahui siapakah yang diajak bicara, tidak akan berhenti (memutuskan) sembahyangnya. Dan sesungguhnya pintu pintu langit terbuka untuk orang yang sembahyang. Dan sesungguhnya Allah membanggakan barisan orang-orang yang sembahyang di hadapan MalaikatNya. Dalam Kitab Taurat ada tersebut demikian : Hai anak Adam, jangan malas untuk berdiri sembahyang dihadapanKu sambil menangis, maka Akulah Allah yang telah mendekat dari hatimu, dan karena ghaib engkau telah dapat melihat cahayaKu.

Muhammad bin Ali Attirmidzy berkata : Allah telah memanggil orang- orang yang bertauhid supaya sembahyang lima waktu, karena rahmat kasihan kepada mereka, dan menyediakan berbagai macam hidangan, supaya seorang hamba itu dapat merasakan pada tiap bacaan dan gerak itu kurnia pemberian-pemberiannya, maka gerak itu bagaikan makanan, sedang bacaan itu bagaikan minuman. Dan hidangan itu disediakan oleh Allah tiap hari lima kali, supaya tidak ada lagi sisa kotoran atau debunya.

Hikam Ibnu 'Atoillah

250. مَنْ أَثْبَتَ لِنَفْسِهِ تَوَاضُعًا فَهُوَ الْمُتَكَبِّرُ حَقًّا، إِذِ التَّوَاضُعُ لاَ يَكُونُ إِلاَّ عَنْ رِفْعَةٍ، فَمَتَى أَثْبَتَّ لِنَفْسِكَ رِفْعَةً فَأَنْتَ الْمُتَكَبِّرُ حَقًّا.

Siapa yang merasa diri bertawadhu', maka berarti ia benar- benar sombong, sebab tidak mungkin ia merasa tawadhu' kecuali kalau ia merasa besar/tinggi, karena itu bila engkau menetapkan bahwa dirimu itu besar/tinggi, maka benar-benar engkau telah sombong (mutakabbir). Maka apabila engkau menetapkan d (merendah diri) yakni padahal engkau ıtu seorang besar dan tinggi, maka itu berarti engkau benar-benar telah sombong (mutakabbir). Seorang yang merasa bertawadhu' (merendah diri) itu disebabkan ia merasa besar tinggi, hanya saja ia merendah dan perasaan besar/ tinggi diri itulah hakikat kesombongan, dan itu pula arti takabbur yang arul haqqi wa ghamthunnas a orang lain). ar dan tinggi, mulia.

Disalin