Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

077. إِذَا رَأَيْتَ عَبْدًا أَقَامَهُ اللهُ تَعَالَى بِوُجُودِ الْأَوْرَادِ وَأَدَامَهُ عَلَيْهَا مَعَ طُولِ الْإِمْدَادِ، فَلاَ تَسْتَحْقِرَنَّ مَا مَنَحَهُ مَوْلاَهُ، لِأَنَّكَ لَمْ تَرَ عَلَيْهِ سِيمَا الْعَارِفِينَ وَلاَ بَهْجَةَ الْمُحِبِّينَ، فَلَوْلاَ وَارِدٌ مَا كَانَ وِرْدٌ.

Jika kau melihat seorang yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya, sampai lama tidak juga menerima kurnia (keistimewaan) dari Allah, maka jangan kau remehkan pemberian Tuhan kepadanya, karena belum terlihat padanya tanda orang arif, atau keindahan orang cinta pada Allah, sebab sekiranya tidak ada warid (kurnia Allah), maka tidak mungkin adanya wirid. Hamba Allah yang mendapat keistimewaan dari Allah ada dua macam : Abraar dan Mugarrabin. Adapun hamba yang mugarrabin itu, maka mereka yang telah dibebaskan dari kepentingan dunia, yang hanya sibuk menunaikan ibadat kepada Tuhan, karena merasa sebagai hamba yang mengharapkan keridhaan Allah semata-mata, dan mereka ini yang disebut aarifin, muhibbin. Adapun orang Abraar, mereka yang masih merasa banyak kepentingan di dunia, di samping kewajiban- kewajiban taat ibadat kepada Allah, dan mereka yang dinamakan orang zahid aabid, dan masing-masing mendapat kurnia sendiri- sendiri di dalam tingkat derajatnya yang langsung dari Allah ta’ala. Sebenarnya seorang yang mendapat taufiq hidayat dari Allah sehingga istigamah dalam menjalankan suatu wirid (kelakuan taat/ ibadat), berarti telah mendapat kurnia dan rahmat yang besar sekali, sebab ia berarti telah diberi kunci oleh Allah untuk membuka dan menghasilkan lain-lain karunia kebesaran dari Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

014. الْكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ، وَإِنَّمَا أَنَارَهُ ظُهُورُ الحَقِّ فِيهِ، فَمَنْ رَأَى الْكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فِيهِ أَوْ عِنْدَهُ أَوْ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ، فَقَدْ أَعْوَزَهُ وُجُودُ الْأَنْوَارِ، وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوسُ الْمَعَارِفِ بِسُحُبِ الْآثَارِ.

Alam itu kesemuanya berupa kegelapan, sedang yang meneranginya, hanya karena tampaknya haq (Allah) padanya, maka siapa yang melihat alam kemudian tidak melihat Allah di dalamnya, atau padanya atau sebelumnya atau sesudahnya, maka benar-benar ia telah disilaukan oleh nur cahaya, dan tertutup baginya surya (nur) ma'rifat oleh tebalnya awan benda-benda alam ini. Alam semesta yang mulanya tidak ada (Adam) memang gelap, sedang yang mendhahirkannya sehingga berupa kenyataan, hanya kekuasaan Allah padanya, karena itu siapa yang melihat sesuatu benda alam ini, kemudian tidak terlihat olehnya kebesaran kekuasaan Allah yang ada pada benda itu, sebelum atau sesudahnya, berarti ia telah disilaukan oleh cahaya. Bagaikan ia melihat cahaya yang kuat, lalu ia mengira tidak ada bola yang menimbulkan cahaya itu. Maka semua seisi alam ini bagaikan sinar sedang yang hakiki (sebenarnya) terlihat itu semata-mata kekuasaan zat Allah swt.

Hikam Ibnu 'Atoillah

081. إِنَّمَا جَعَلَ الدَّارَ الْآخِرَةَ مَحَلاًّ لِجَزَاءِ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ، لِأَنَّ هٰذِهِ الدَّارَ لاَ تَسَعُ مَا يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَهُمْ، وَلِأَنَّهُ أَجَلَّ أَقْدَارَهُمْ عَنْ أَنْ يُجَازِيَهُمْ فِي دَارٍ لاَ بَقَاءَ لَهَا.

Sesungguhnya Allah menjadikan akherat untuk tempat pembalasan bagi hamba yang mukmin, sebab dunia ini tidak cukup untuk tempat apa yang akan diberikan kepada mereka, juga karena Allah sayang akan memberikan balasan pahala mereka di tempat yang tidak kekal.

Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya tempat pecut kuda di dalam surga lebih berharga (baik) dari dunia seisinya. Rasulullah saw. menceritakan apa yang disabdakan oleh Allah ta'ala :

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ.

Aku telah sediakan untuk hambaKu yang solihin, apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, atau didengar oleh telingan, atau tergerak dalam hati manusia.

Hikam Ibnu 'Atoillah

137. مَنَعَكَ أَنْ تَدَّعِيَ مَا لَيْسَ لَكَ مِنْ حُقُوقِ الْمَخْلُوقِينَ، أَفَيُبِيحُ لَكَ أَنْ تَدَّعِيَ وَصْفَهُ وَهُوَ رَبُّ الْعَالَمِينَ.

Allah melarang engkau meng: akui apa-apa yang bukan hakmu dari hak-hak lain orang. Apakah mungkin akan membolehkan kepadamu mengakui sifat-sifat Allah padahal la Tuhan yang memelihara, meng- atur dan menjamin seisi alam.

Ibn Abbas ra. berkata : Rasulullah saw. telah bersabda : Allah telah bersabda : Kesombongan itu pakaianku (selendangku) dan kebesaran itu sebagai sarungku, maka siapa akan bersaingan dengan Aku dalam salah satu sifat itu, Aku lemparkannya ke dalam neraka. Memang sebaik-baiknya hamba ialah yang mengakui dan menyadari sifat-sifat hamba, dan sejahat-jahat hamba ialah yang tidak menyadari kehambaan dirinya, bahkan merasa seolah-olah memiliki kekuatan/ kekuasaan, kemulyaan yang semata-mata hak Tuhan dan sifat-sifat utama bagi Allah ta'ala. Jika seorang hamba menginginkan semua itu dapat dengan menyandarkan diri kepada Tuhan Allah yang memiliki semua itu. Rasulullah telah bersabda : Tiada seorang yang lebih cemburu dari Allah karena itu Allah mengharamkan segala perbuatan yang keji. Dan karena itu pula Allah takkan mengampunkan orang yang menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Karena itu pula sifat-sifat kesempurnaan Allah, tidak boleh dikurangi walau sedikitpun.

Disalin