Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

076. مِنْ جَهْلِ الْمُرِيدِ أَنْ يُسِيءَ الْأَدَبَ فَتُؤَخَّرَ الْعُقُوبَةُ عَنْهُ، فَيَقُولَ: لَوْ كَانَ هٰذَا سُوءَ أَدَبٍ لَقَطَعَ الْإِمْدَادَ وَأَوْجَبَ الْإِبْعَادَ. فَقَدْ يُقْطَعُ الْمَدَدُ عَنْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَشْعُرُ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلاَّ مَنْعُ الْمَزِيدِ. وَقَدْ يُقَامُ مَقَامَ الْبُعْدِ وَهُوَ لاَ يَدْرِي، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلاَّ أَنْ يُخَلِّيَكَ وَمَا تُرِيدُ.

Setengah dari tanda kebodohan murid jika ia berbuat salah lalu ditangguhkan hukumannya, lalu ia berkata : Andaikata termasuk dosa tentu sudah diputuskan bantuan dan sudah dijauhkan. Ingatlah adakalanya telah diputuskan bantuan (kurnia) dengan jalan yang ia tidak merasa, meskipun hanya berupa tidak ada tambahan baru, dan adakalanya pula ia telah dijauhkan padahal ia tidak mengetahui, meskipun jauh itu hanya berupa membiarkan engkau menurutkan hawa nafsumu.

Abul-Qasim Al-Junaid ra. berkata : Ketika saya sedang menunggu janazah bersama orang-orang banyak yang akan disembahyangkan di masjid Assyuniziyah, tiba-tiba ada seorang miskin minta-minta, maka dalam perasaan hatiku : Andaikan orang itu bekerja sedikit- sedikit supaya tidak minta-minta, tentu akan lebih baik baginya. Kemudian ketika pada malam harinya, saya akan mengerjakan wirid yang biasa saya kerjakan pada tiap malam. terasa sangat berat dan tidak dapat berbuat apa-apa, sambil duduk akhirnya tertidurlah mataku. Tiba-tiba mimpi orang-orang datang membawa orang miskin itu di di atas talam, dan orang-orang itu berkata kepadaku : Makanlah daging orang ini sebab engkau telah meng-ghibah padanya. Maka langsung saya sadar, dan saya tidak merasa ghibah padanya hanya

tergerak dalam hati, tetapi saya diperintahkan harus minta halal kepada orang itu, maka tiap hari saya berusaha mencari orang itu, akhirnya bertemu di tepi sungai sedang mengambil daun-daunan yang rontok untuk dimakan dan ketika saya memberi salam kepadanya, langsung ia berkata : Apakah akan mengulangi lagi hai Abul Qasim ? Jawabku : Tidak. Maka ia berkata : Semoga Allah mengampunkan kami dan kamu. Tanda seorang mendapat taufiq itu ada tiga : 1. Mudah mengerjakan amal kebaikan, padahal ia tidak niat dan bukan tujuannya. 2. Berusaha untuk berbuat maksiat, tetapi selalu terhindar daripadanya. 3. Selalu terbuka baginya kebutuhan dan hajat kepada Allah ta’ala. Tanda seorang yang dihinakan oleh Allah ada tiga : I. Sukar melakukan ibadat/taat, padahal ia sudah berusaha sungguh-sungguh.

2. Mudah terjerumus ke dalam maksiat, padahal ia berusaha meng- hindarkannya. 3. Tertutupnya pintu berhajat kepada Allah, sehingga merasa tidak perlu berdoa dalam segala hal.

Rasulullah saw. bersabda :

أَدَّبَنِي رَبِّي فَأَحْسَنَ تَأْدِيبِي

Tuhan telah mendidik saya sebaik-baik didikan dan menyuruhku melakukan akhlaq yang sebaik-baiknya. Yaitu dalam ayat :

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (الأعراف: ١٩٩)

Ambilah hati mereka dengan suka memaafkan, dan anjurkan perbuatan-perbuatan yang baik dan mudah, dan abaikanlah orang-orang yang masih bodoh, (jangan dituntut) mereka yang masih bodoh itu. Seorang sufi kehilangan anak, hingga tiga hari tidak mendapat beritanya, maka ada orang yang berkata kepadanya : Mengapa engkau tidak minta kepada Allah, supaya mengembalikan anak itu kepadamu ? Jawabnya : Tantanganku terhadap putusan Allah itu akan lebih berat bagiku daripada hilangnya anak.

Abu Sulaiman Addarany ra. berkata : Allah telah mewahyukan kepada Nabi Dawud as. : Sesungguhnya Aku menjadikan itu syahwat hanya untuk orang-orang yang lemah dari pada hambaKu, kareną itu awaslah jangan sampai hatimu tertawan oleh syahwat itu, maka seringan- ringan siksa untuknya ialah aku cabut manisnya rasa cinta kepadaku dari dalam hatimu. Dalam sebagian wahyu Allah kepada Dawud as. : Hai Dawud berpeganglah pada ajaranKu, dan tahanlah nafsumu untuk kesenangan dirimu, jangan sampai engkau tertipu daripadanya, niscaya engkau terhijab dari cintaKu, putuskan syahwatmu karena Aku, sebab Aku hanya memberikan syahwat itu untuk hambaKu yang lemah, untuk apakah orang-orang yang kuat akan memuaskan syahwat, padahal ia akan mengurangi kelezatan bermunajat kepadaKu, sebab Aku tidak merelakan dunia ini untuk kekasihKu, bahkan Aku bersihkan ia dari padanya. Hai Dawud, jangan engkau mengadakan antaraKu dengan engkau suatu alam yang dapat menghijab engkau karena mabuk pada alam itu daripada cinta kepada-Ku, mereka hanya perampok di tengah jalan terhadap hambaKu yang baru berjalan. Usahakanlah untuk meninggalkan syahwat dengan banyak puasa. Hai Dawud cintailah Aku dengan memusuhi hawa nafsumu, dan tahanlah dari syahwatnya, niscaya engkau melihat kepadaKu, dan engkau akan dapat melihat yang terbuka antaraKu dengan engkau.

Ibrahim bin Adham ra. berkata : Seorang tidak akan mencapai derajat orang shalihin, sehingga melalui enam rintangan : 1. Menutup pintu kemuliaan, membuka pintu kehinaan. 2. Menutup pintu nikmat, membuka pintu kesukaran. 3. Menutup pintu istirahat, membuka pintu perjuangan. 4. Menutup pintu tidur, membuka pintu jaga. 5. Menutup pintu kekayaan, membuka pintu kemiskinan. 6. Menutup pintu harapan, membuka pintu bersiap menghadapi maut.

Ibrahim Al-Khawaash ra. berkata : Ketika saya di tengah perjalanan tiba-tiba merasa lapar, kemudian sampai di kota Array, maka berkata dalam hati : Di sini saya ada banyak sahabat, maka jika saya bertemu tentu mereka akan menjamu saya, maka ketika telah masuk ke kota, tiba-tiba saya melihat perbuatan-perbuatan mungkar, yang mana saya merasa berkewajiban harus nahi mungkar. Tiba-tiba saya ditangkap dan dipukuli oleh orang-orang. Sehingga bertanya dalam hati : Mengapa saya dipukuli oleh orang padahal saya ini lapar. Tiba-tiba diingatkan dalam hatiku : Engkau mendapat hukuman itu karena kau mengharap dijamu oleh sahabat-sahabatmu.

Firman Allah dalam salah satu wahyunya

إِنَّ أَدْنَى مَا أَصْنَعُ بِالْعَالِمِ إِذَا آثَرَ شَهْوَتَهُ عَلَى مَحَبَّتِي أَنْ أَحْرِمَهُ لَذِيذَ مُنَاجَاتِي.

Sesungguhnya seringan-ringan siksaKu terhadap orang alim jika ia mengutamakan syahwatnya daripada cintaKu, akan Aku haramkan daripada merasakan kelezatan bermunajat kepadaKu.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

057. لاَ تَتْرُكِ الذِّكْرَ لِعَدَمِ حُضُورِكَ مَعَ اللهِ فِيهِ، لِأَنَّ غَفْلَتَكَ عَنْ وُجُودِ ذِكْرِهِ أَشَدُّ مِنْ غَفْلَتِكَ فِي وُجُودِ ذِكْرِهِ، فَعَسَى أَنْ يَرْفَعَكَ مِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَفْلَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقَظَةٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ يَقَظَةٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ، وَمِنْ ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ حُضُورٍ إِلَى ذِكْرٍ مَعَ وُجُودِ غَيْبَةٍ عَمَّا سِوَى الْمَذْكُورِ، وَمَا ذٰلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيزٍ.

Jangan meninggalkan dzikir, karena engkau belum selalu ingat kepada Allah di waktu berdzikir, sebab kelalaianmu terhadap Allah ketika tidak berdzikir lebih berbahaya daripada kelalaianmu terhadap Allah ketika kamu berdzikir.

Semoga Allah menaikkan derajatmu daripada dzikir dengan kelalaian, kepada dzikir yang disertai ingat (sadar) terhadap Allah, kemudian naik pula dari dzikir dengan kesadaran ingat, kepada dzikir yang disertai rasa hadir, dan dari dzikir yang disertai rasa hadir kepada dzikir hingga lupa terhadap segala sesuatu selain Allah. Dan yang demikian itu bagi Allah tidak sukar (tidak berat). Memindah (menaikkan) dari satu tingkat ke lain tingkat (derajat), dzikir adalah satu-satunya jalan yang terdekat menuju kepada Allah, bahkan yang sangat mudah dan ringan.

Abu Qasim Alqusyairy berkata : Dzikir itu simbul wilayah (kewalian), dan pelita penerangan untuk sampai, dan tanda sehatnya permulaannya, dan menunjukkan jernihnya akhir puncaknya, dan tiada suatu amal yang menyamai dzikir, sebab segala amal perbuatan itu ditujukan untuk berdzikir, maka dzikir itu bagaikan jiwa dari segala amal. Sedang kelebihan dzikir dan keutamaannya tak dapat dibatasi. Firman Allah :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ (البقرة: ١٥٢)

Berdzikirlah kamu kepadaKu niscaya Aku berdzikir kepadamu.

(Al-Bagarah 152).

Dalam hadits qudsy, Allah berfirman :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي.

Aku selalu mengikuti sangkaan hambaKu terhadap diriku, dan Aku selalu menyertainya ketika ia berdzikir kepadaKu. Jika ia berdzikir dalam hati peribadinya (sendirian). Akupun berdzikir padanya dalam diriKu dan jika ia berdzikir padaKu di depan umum, Akupun berdzikir padanya di muka umum yang lebih baik dari golongannya, dan bila ia mendekat padaku sejengkal Aku mendekat padanya sehasta, dan bila ia mendekat padaku sehasta, Aku mendekat padanya sedepa, dan bila ia datang kepadaku berjalan, Aku datang kepadanya berjalan cepat (berlari).

Abdullah bin Abas ra. berkata : Tiada suatu kewajiban yang diwajibkan oleh Allah pada hambaNya melainkan ada batas-batasnya, kemudian bagi orang-orang yang berudzur dimaafkan bila tidak dapat melakukannya, kecuali dzikir maka tidak ada batas. dan tidak ada udzur yang dapat diterima untuk tidak berdzikir, kecuali jika berubah akal (gila). Firman Allah :

لِأُولِي الْأَلْبَابِ * الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ (آل عمران: ١٩٠ - ١٩١)

Bagi orang yang sempurna akal, ialah mereka yang selalu berdzikir pada Allah sambil berdiri, duduk dan berbaring di atas pinggangnya.

(S. Al-Imraan 191).

Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (الأحزاب: ٤١ - ٤٢)

Hai sekalian orang yang beriman : Berdzikirlah kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya dzikir. Dan bertasbihlah (mengagumkan) Allah pada pagi dan petang. Yakni pagi, siang, sore, malam, di darat, di laut, di udara, pergi dan tidak pergi, yakni pada segala tempat dan masa, bagi yang kaya, miskin, sehat, sakit, terang-terangan atau sembunyian dengan lisan atau hati dan pada segala hal keadaan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

045. شُعَاعُ البَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ قُرْبَهُ مِنْكَ، وَعَيْنُ البَصِيرَةِ تُشْهِدُكَ عَدَمَكَ لِوُجُودِهِ، وَحَقُّ البَصِيرَةِ يُشْهِدُكَ وُجُودَهُ لاَ عَدَمَكَ وَلاَ وُجُودَكَ.

Sinar matahati itu dapat memperlihatkan kepadamu dekatnya Allah kepadamu. Dan matahati itu sendiri dapat memperlihatkan kepadamu ketiadaanmu karena wujud (adanya) Allah, dan hakikat matahati itulah yang menunjukkan kepadamu, hanya adanya Allah, bukan 'adam (ketiadaanmu) dan bukan pula wujudmu. Syu'aa'ulbashiirah yaitu cahaya akal. Ainul bashirah yaitu cahaya ilmu. Dan hagqul bashirah yaitu cahaya ilahi. Maka orang-orang yang menggunakan akal mereka, masih merasa adanya dirinya dan dekatnya kepada Tuhan (yakni Allah selalu meliputi mereka dan mengurung mereka). Sedang orang-orang yang meng- gunakan nurul ilmu merasa dirinya tidak ada jika dibandingkan dengan adanya Allah. Sedang ahli hakikat hanya melihat kepada Allah dan tidak melihat apapun di sampingnya. Bukannya mereka tidak melihat adanya alam sekitarnya, tetapi karena alam sekitarnya itu tidak berdiri sendiri, tetapi selalu berhajat kepada Allah, maka adanya alam ini tidak menarik perhatian mereka, karena itu mereka menganggap bagaikan tidak ada.

Hikam Ibnu 'Atoillah

112. مَتَى أَطْلَقَ لِسَانَكَ بِالطَّلَبِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُعْطِيَكَ.

Apabila Allah telah melepaskan lidahmu untuk meminta, maka ketahuilah bahwa Allah akan memberi kepadamu.

Abdullah bin Umar ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang telah mendapat izin untuk berdoa, berarti telah dibukakan baginya pintu rahmat, dan tiada dimintai sesuatu yang lebih disukai oleh Allah daripada dimintai maaf dan selamat dunia akherat. Lain Hadits : Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang telah diberi kesempatan berdoa, maka tidak akan diharamkan dari ijabah (di- terimanya doa). Anas bin Malik ra. berkata : Rasulullah saw. bersabda : Apabila Allah kasih sayang pada seorang hamba, maka dituangkan kepadanya bala', maka bila ia berdoa, berkata Malaikat : Suara yang sudah terkenal. dan berkata Jibril : Tuhanku, hambaMu Fulan, sampaikan hajatnya. Jawab Allah : Biarkan hambaKu, Aku suka mendengar suaranya. maka apabila hamba berkata : Ya Rabbi. Jawab Tuhan : Labbaika hambaKu, tiada engkau berdoa melainkan Aku sambut, dan n Abdi pade Khalgnya)

tiada engkau minta suatu melainkan pasti Aku berikan, Imma (ada kalanya) Aku segerakan untukmu, atau Aku simpan untukmu yang lebih baik bagimu, atau tolak daripadamu bala' yang lebih besar dari itu.

Disalin