Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

069. قَطَعَ السَّائِرِينَ إِلَيْهِ وَالْوَاصِلِينَ إِلَيْهِ عَنْ رُؤْيَةِ أَعْمَالِهِمْ وَشُهُودِ أَحْوَالِهِمْ، أَمَّا السَّائِرُونَ فَلِأَنَّهُمْ لَمْ يَتَحَقَّقُوا الصِّدْقَ مَعَ اللهِ فِيهَا، وَأَمَّا الْوَاصِلُونَ فَلِأَنَّهُ غَيَّبَهُمْ بِشُهُودِهِ عَنْهَا.

Allah telah memutuskan orang-orang yang berjalan menuju kepadaNya, dan yang telah sampai padaNya, daripada melihat/mengagumi amal (ibadat) dan keadaan diri mereka. Adapun orang yang masih sedang berjalan, karena mereka dalam amal perbuatan ibadat itu belum dapat melaksanakan dengan ikhlas menurut apa yang diperintahkan. Adapun orang-orang yang telah sampai, maka karena mereka telah sibuk melihat kepada Allah, sehingga lupa pada amal perbuatan sendiri. Sehingga bila ada perbuatan diri, maka itu hanya kurnia taufiq dari Allah semata-mata. Tanda bahwa Allah telah memberikan taufiq hidayat pada seorang hamba, apabila disibukkan hamba itu dengan amal perbuatan taat, tetapi diputuskan daripada ujub dan bangga

dengan amal perbuatan itu, karena merasa belum tepat mengerjakannya, atau karena merasa bahwa perbuatan itu semata-mata kurnia Allah sedang ia sendiri merasa tiada berdaya untuk melaksanakan, andaikan tiada kurnia rahmat Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

192. رُبَّمَا رُزِقَ الْكَرَامَةَ مَنْ لَمْ تَكْمُلْ لَهُ الاِسْتِقَامَةُ.

Adakalanya diberi rizqi kekeramatan (keistimewaan) seorang yang belum sempurna istigamahnya. Hakikatnya kekeramatan (keistimewaan) itu ialah istigamah dan kesempurnaan istigamah itu, ialah"sungguh-sungguhnya iman, dan mengikuti benar apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. lahir batin.

Abul-Abbas Almasrsy berkata : bukannya kebesaran itu bagi orang yang terlipat baginya dunia ini sehingga dalam satu detik ia telah sampai ke Mekkah dan lain-lain negeri, tetapi kebesaran itu ialah orang yang dilipatkan baginya sifat-sifat hawa nafsunya, sehingga ia langsung di sisi Tuhannya. Abul-Hasan Assyadzily berkata : Tiap kekeramatan yang tidak disertai keridhaan terhadap Allah, maka orangnya berarti tertipu dan akan binasa. Sahl bin Abdullah ra. berkata : Sebesar-besar kekeramatan ialah berubahnya akhlak yang jelek dengan akhlak yang baik. Adapula yang berkata : Kamu jangan heran dari seorang yang tidak menaruh apa-apa dalam sakunya, tetapi ketika ia ingin sesuatu dimasukkan tangannya ke dalam saku dan mendapat apa yang diinginkan. Tetapi kamu boleh heran dari seorang yang menaruh apa-apa dalam sakunya, kemudian setelah diraba dengan tangannya, tiba-tiba tidak ada apa-apa dan tidak berubah imannya (kepercayaannya) terhadap Allah.

Abu Yazid Al-Busthamy berkata : Andaikata ada orang berjalan di atas air, atau duduk di udara, maka jangan kamu tertipu olehnya sehingga kamu perhatikan ia bagaimana terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasulullah. Sebab setan dapat bergerak dari timur ke barat dalam sekejap mata, dan dia tetap maluun (terkutuk).

Hikam Ibnu 'Atoillah

205. إِذَا الْتَبَسَ عَلَيْكَ أَمْرَانِ فَانْظُرْ أَثْقَلَهُمَا عَلَى النَّفْسِ فَاتَّبِعْهُ، فَإِنَّهُ لاَ يَثْقُلُ عَلَيْهَا إِلاَّ مَا كَانَ حَقًّا.

Jika kabur bagimu dua hal, maka perhatikan (lihatlah) mana yang lebih berat terhadap hawa nafsu, makarikutlah, sebab tidak akan terasa berat terhadap hawa nafsu kecuali yang hak. Jika kabur dan sukar bagimu untuk membedakan, apakah amal itu baik atau busuk diridhai oleh Allah atau dimurkai Allah, maka umpamakan sekiranya engkau mati sedang berbuat itu, jika tidak gentar menghadapi mati dalam mengerjakan itu, maka kerjakanlah. Sebab itu sebagai tanda perbuatan itu hak dan benar.

Hikam Ibnu 'Atoillah

198. رُبَّمَا بَرَزَتِ الْحَقَائِقُ مَكْسُوفَةَ الْأَنْوَارِ إِذَا لَمْ تُؤْذَنْ لَكَ فِيهَا بِالْإِظْهَارِ.

Adakalanya ilmu hakikat itu tampak pudar cahayanya jika engkau belum mendapat izin untuk mengeluarkannya. Siapa yang belum sempurna sifat-sifatnya, belum diizinkan untuk menerangkan hakikat, dan bila ia menerangkannya pasti akan terlihat suram cahayanya, karena ia sendiri masih diliputi sesuatu yang berlawan- an dengan hakikat itu, dan karena itu pula ditolak oleh pendengarnya.

Abul-Abbas Almarsy berkata : Seorang wali itu lebih dahulu telah dipenuhi oleh ilmu dan pengertian ma'rifat, sehingga hakikat itu menjadi keyakinan dan terlihat terang baginya. Karena itu jika melepaskan kalimat

seolah-olah mendapat izin dari Allah, dan kalimat yang dikeluarkannya itu berhias indah bukan buatan, maka langsung diterima oleh pendengarnya.

Disalin