Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

062. إِنَّمَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا.

Sesunggunya Tuhan memberikan kepadamu warid (yaitu ilmu pengertian atau perasaan dalam hati, sehingga mengenal dan merasa benar-benar akan kebesaran kurnia rahmat Allah), hanya semata-mata supaya kau mendekat dan masuk ke hadirat Allah.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

003. سَوَابِقُ الْهِمَمِ لاَ تَخْرِقُ أَسْوَارَ الْأَقْدَارِ.

Kekerasan semangat/perjuangan itu, tidak dapat menembus tirai takdir, kekeramatan atau kejadian-kejadian yang luar biasa dari seorang wali itu, tidak dapat menembus keluar dari takdir, maka segala apa yang terjadi semata-mata dengan takdir Allah.

Firman Allah :

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (التكوير: ٢٩)

"Dan tiadalah kamu berkehendak, kecuali apa yang di kehendaki Allah Tuhan yang mengatur seisi alam".

(S. Kuwwirot 29).

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا ( الإنسان: ٣)

iDan tiada kamu menghendaki kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Sungguh Allah Maha mengetahui lagi bijaksana".

(S. Al-Insan 30).

Hikam Ibnu 'Atoillah

205. إِذَا الْتَبَسَ عَلَيْكَ أَمْرَانِ فَانْظُرْ أَثْقَلَهُمَا عَلَى النَّفْسِ فَاتَّبِعْهُ، فَإِنَّهُ لاَ يَثْقُلُ عَلَيْهَا إِلاَّ مَا كَانَ حَقًّا.

Jika kabur bagimu dua hal, maka perhatikan (lihatlah) mana yang lebih berat terhadap hawa nafsu, makarikutlah, sebab tidak akan terasa berat terhadap hawa nafsu kecuali yang hak. Jika kabur dan sukar bagimu untuk membedakan, apakah amal itu baik atau busuk diridhai oleh Allah atau dimurkai Allah, maka umpamakan sekiranya engkau mati sedang berbuat itu, jika tidak gentar menghadapi mati dalam mengerjakan itu, maka kerjakanlah. Sebab itu sebagai tanda perbuatan itu hak dan benar.

Hikam Ibnu 'Atoillah

176. وَمَنْ أَحَبَّهُ لَمْ يُؤْثِرْ عَلَيْهِ شَيْئًا.

Dan siapa yang cinta pada Allah, tidak akan mengutamakan sesuatu yang lainnya.

Demikianlah siapa yang benar-benar mengenal kepada Allah, pasti ia selalu ingat pada Allah, pada tiap sesuatu apapun yang ia lihat, ia dengar dan rasa. Sebab tidak ada sesuatu melainkan menunjukkan keindahan, kekuasaan dan buatan Allah. Karena itulah siapa yang telah fana dengan Allah, sudah sungguh-sungguh ingatnya hanya kepada Allah, maka segala sesuatu yang ada di depannya seolah-olah sepi kosong dan bayangan belaka. Sedang siapa yang betul-betul cinta kepada Allah, maka pasti ia tidak akan mengutamakan sesuatu apapun selain Allah yang telah dicintainya itu, bahkan ia akan sanggup mengurbankan segala kepentingan dan hawa nafsunya di dalam mencapai keridhaan Allah swt. Sebab hakikat dari semua panca indera, penglihatan pendengaran dan perasaan itu semua bukan semata-mata karena adanya mata, telinga dan lidah atau hidung, tetapi semua membutuhkan nur ilahi yang langsung dari Allah, sehingga terangnya mata tanpa terangnya benda yang akan dilihat, tidak memungkinkan terlihat benda itu, maka dari kedua-duanya tetap mem- butuhkan nur ilahi yang langsung untuk panca indera dalam mencapai sesuatu apapun. Maka dengan pandangan yang sedemikian orang aarif selalu melihat pada Allah pada tiap apa saja yang dipandangnya. Yang setelah melihatnya fana dengan Allah dan lupa (ghaib) dari segala sesuatu selain Allah, kemudian cinta yang tidak ada taranya kepada Allah.

Disalin