Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

060. لاَ صَغِيرَةَ إِذَا قَابَلَكَ عَدْلُهُ، وَلاَ كَبِيرَةَ إِذَا وَاجَهَكَ فَضْلُهُ.

Tidak ada dosa kecil jika Allah menghadapi engkau dengan keadilanNya, dan tidak berarti dosa besar jika Allah menghadapimu dengan kurniaNya.

Nabi saw. bersabda :

لَا كَبِيرَةَ مَعَ الِاسْتِغْفَارِ وَلَا صَغِيرَةَ مَعَ الْإِصْرَارِ.

Tidak ada artinya dosa besar jika disertai dengan Istighfar (minta ampun), dan tidak dapat dianggap dosa kecil jika dikerjakan terus menerus.

Yahya bin Mu’aadz r.a. berkata : Jika Allah menggunakan keadilannya tidak berarti segala amal kebaikan, dan bila Allah menghadapi dengan kurniaNya maka tidak ada artinya segala dosa. • Yahya bin Mu’aadz dalam berdoa ia berkata : Tuhanku, jika Engkau kasih kepadaku, Engkau ampunkan semua dosaku, tetapi jika Engkau murka kepadaku tidak Engkau terima amal kebaikanku.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

061. لاَ عَمَلَ أَرْجَى لِلْقَبُولِ مِنْ عَمَلٍ يَغِيبُ عَنْكَ شُهُودُهُ وَيَحْتَقِرُ عِنْدَكَ وُجُودُهُ.

Tiada suatu amal kebaikan yang dapat diharapkan diterima oleh Allah, melebihi dari amal yang terlupa olehmu adanya dan remeh/kecil dalam pandanganmu kejadiannya. Amal kebaikan yang pasti diterima oleh Allah, yaitu jika merasa bahwa amal itu semata-mata terjadi karena taufiq hidayah dari Allah, kemudian ia tidak berbangga dengan amal itu, dan tidak merasa seolah- olah sudah cukup baik dengan adanya amal itu. Karena amal itu telah ditujukan kepada keridhaan Allah, maka tidak usah diingat-ingat lagi. Sebab siapa yang merasa sudah beramal, jarang sekali yang tidak merasa ujub/bangga dengan amalnya itu. Dan itu suatu bahaya bagi amal itu.

Hikam Ibnu 'Atoillah

194. مَنْ عَبَّرَ عَنْ بِسَاطِ إِحْسَانِهِ أَصْمَتَتْهُ الْإِسَاءَةُ، وَمَنْ عَبَّرَ عَنْ بِسَاطِ إِحْسَانِ اللهِ إِلَيْهِ لَمْ يَصْمُتْ إِذَا أَسَاءَ.

Siapa yang mengajar karena memandang kebaikan dirinya, maka ia akan diam jika ia berbuat salah (dosa) dan siapa yang mengajar dengan pengertian kebaikan Allah baginya (padanya) maka ia tidak akan diambila ia berbuat salah (dosa). Siapa yang memberi nasehat tentang kebaikan dengan pengertian karena ia merasa sudah baik, maka bila sesuatu saat ia tergelincir dalam dosa, maka akan merasa malu untuk memberi nasehat atau mengajar orang lain, tetapi bila ia ketika mengajar itu pandangannya semata-mata kurnia rahmat dari Allah kepada makhluknya, maka tidak akan merasa malu kalau pada sesuatu saat ia tergelincir dalam dosa dan kesalahan, sebab merasa berbuat kebaikan itu hanya semata-mata kurnia rahmat Allah.

Abul-Abbas Almarsi ra. berkata : Manusia terbagi tiga : Pertama ialah golongan yang selalu memperhatikan apa-apa yang dari padanya kepada Allah, kedua : Golongan yang selalu hanya ingat pemberian- pemberian kurnia Allah pada dirinya. Dan ketiga : Golongan yang hanya memandang bahwa semua dari Allah kembali kepada Allah. Golongan pertama : Scialu memikirkan kekurangan diri dalam menunaikan kewajiban, sehingga selalu berdukacita. Dan golongan kedua : Selalu melihat semua itu adalah kurnia Allah, maka ia selalu gembira. Dan golongan ketiga : Telah lupa pada dirinya sendiri, hanya teringat bahwa asal dari Allah akan kembali kepada Allah, maka terserah kepada Allah.

Abul-Hasan Assyadzily ra. berkata : Pada suatu malam saya membaca surat Qul-a'udzu birabbinnas, hingga akhir surat. Tiba-tiba terasa bagiku bahwa : Syarrul was waasil khannaas, yang berbisik dalam hati itu, ialah yang menyusup antara kau dengan Allah, untuk melupakan engkau dari kurnia-kurnia Allah, yang halus-halus dan samar, dan mengingatkan engkau kepada perbuatan-perbuatanmu yang jahat/dosa.

Tujuannya untuk membelokkan engkau dari husnudhdhan kepada su'udhdhan terhadap Allah ta'ala, maka waspadalah. Abul-Hasan Assyadily ra. berkata : Seorang aarif itu ialah seorang yang telah mengetahui rahasia-ralasia kurnia Allah di dalam berbagai macam ujian bala' yang menimpa sehari-hari. Dan juga mengetahui/mengakui kesalahan-kesalahannya di dalam lingkungan belas kasih Allah kepada- nya. Ia berkata pula : Sedikitnya amal dergan mengakui kurnia Allah, lebih baik dari banyak amal dengan merasa kekurangan diri sendiri. Yakni seolah-olah mempunyai kekuatan sendiri untuk bikin baik, hanya sekarang belum baik, sehingga selalu berduka-cita memikirkan bagaimana dapatnya lebih baik, padahal ia harus menyerah di samping minta saja kepada Allah, sebab jika Allah belum memberi maka tetap tidak ada perubahan pada dirinya berdasarkan pengertian.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (الطلاق: ٣)

Dan siapa yang berserah diri kepada Allah, maka Allah sendiri yang akan mencukupi/melengkapi kekurangannya. Dan : Tiada daya upaya atau kekuatan kecuali dengan bantuan dan pertolongan Allah semata-mata.

Hikam Ibnu 'Atoillah

108. أَنْعَمَ عَلَيْكَ أَوَّلاً بِالْإِيجَادِ، وَثَانِيًا بِتَوَالِي الْإِمْدَادِ.

Pada pertamanya Allah memberi kepadamu nikmat me- wujudkan (menjadikan), kemudian nikmat yang kedua : Melengkapi kebutuhan-kebutuhan wujudmu yang terus-menerus (yang kedua : Terus menerusnya bantuan Allah kepadamu).

Firman Allah :

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً (لقمان: ٢٠)

Allah menuangkan kepadamu nikmat lahir dan batin yang terang dan yang samar, yang terasa dan yang tidak terasa.

Firman Allah :

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ * فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (الحجرات: ٧ - ٨)

Tetapi Allah yang mencintakan kamu kepada iman, dan Allah yang menghias iman itu dalam hatimu, dan Allah yang membencikan kamu kepada kufur (kekafiran) dan pelanggaran dan maksiat dosa. Mereka- lah orang yang dapat petunjuk. Itu semua kurnia dari Allah dan nikmat, dan Allah maha mengetahui lagi bijaksana. (Alhujaraat 8). Dzin-Nun AI-Misri berkata : Siapa yang di dalam tauhid itu merasa seolah-olah sebagai hasil kecerdasannya sendiri, maka tauhid itu tidak dapat menyelamatkannya dari api neraka, sehingga merasa bahwa tauhidnya itupun karunia dari Allah ta'ala.

Seorang apabila telah merasa asal kejadiannya dari Allah dan kelanjutannyapun dari Allah, merasa bahwa sifat fakirnya itu memang asli pada kejadiannya, dan ia tidak dapat melepaskan diri dari Tuhan yang dihajatkannya pada tiap detik dalam wujudnya.

Disalin