Baiknya amal perbuatan itu, sebagai hasil dari baiknya budi dan hati, dan baiknya hati itu sebagai hasil dari kesungguhan Istiqamah pada apa yang diperintah oleh Tuhan (yakni tidak bergerak dari apa yang didudukkan oleh Tuhan). Amal yang baik itu hanya yang diterima oleh Tuhan, dan itu pasti karena baik dalam segi keikhlasan kepada Allah, dan tidak mungkin ikhlas kecuali jika ia mengerti benar-benar kedudukan dirinya terhadap Tuhannya. Abu Hamid Alghazzaly berkata : Tiap tingkat dalam kepercayaan/keyakinan itu mempunyai ilmu, dan hal (perasaan) dan amal perbuatan. Ilmu-yaqin (keyakinan yang didapat dari pengertian teori pelajaran). Ainul-yaqin keyakinan yang didapat dari fakta kenyataan lahir setelah terungkap/terbuka). Haqqul-yagin (keyakinan yang benar-benar langsung dari Allah, dan tidak dapat diragukan sedikitpun, yaitu keyakinan yang mutlak.
220. حُقُوقٌ فِي الْأَوْقَاتِ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا، وَحُقُوقُ الْأَوْقَاتِ لاَ يُمْكِنُ قَضَاؤُهَا، إِذْ مَا مِنْ وَقْتٍ يَرِدُ إِلاَّ وَلِلَّهِ عَلَيْكَ فِيهِ حَقٌّ جَدِيدٌ وَأَمْرٌ أَكِيدٌ، فَكَيْفَ تَقْضِي فِيهِ حَقَّ غَيْرِهِ وَأَنْتَ لَمْ تَقْضِ حَقَّ اللهِ فِيهِ.
Kewajiban-kewajiban di dalam waktu dapat di godho'inya, tetapi hak-hak yang disediakan oleh Allah dalam waktu tidak dapat diulanginya. Sebab tiada suatu waktu melainkan ada hak kewajiban yang baru dan perintah yang ditekankan, maka bagaimanakah engkau akan menyelesaikan hak lainnya, sedang engkau belum menyelesaikan hak Allah dalam waktu itu. Kewajiban dalam waktu seperti sembahyang, puas jika tidak dikerjakan dalam waktunya dapat digodho'inya, tetap hak-hak waktu itu sendiri yakni apa yang disediakan oleh Allah untuk waktu itu, jika tidak diambil, tidak dilaksanakan menurut tuntunannya, tidak dapat digodho'inya, yaitu waktu menerima nikmat atau taat, atau teruji dengan bala' dan maksiat, yaitu masa yang harus bersyukur, dan masa di mana ia harus bersabar dan istighfar, apabila telah berubah masanya maka berubahlah hak kewajibannya, sehingga tidak dapat digunakan untuk menggodho'i apa yang tertinggal pada masa yang telah lampau itu.
Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang diberi lalu bersyukur, dan diuji lalu sabar, dan dianiaya lalu memaafkan dan berdosa lalu minta ampun. Kemudian Rasulullah saw. diam sejenak. Sahabat bertanya : Kemudian apakah ya Rasulullah saw. untuknya ? Jawab Nabi saw. :
أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ (الأنعام: ٨٢)
Merekalah yang pasti mendapatkan kesejahteraan, dan merekalah orang yang mendapat petunjuk hidayat.
Kewajiban-kewajiban di dalam waktu dapat di godho'inya, tetapi hak-hak yang disediakan oleh Allah dalam waktu tidak dapat diulanginya. Sebab tiada suatu waktu melainkan ada hak kewajiban yang baru dan perintah yang ditekankan, maka bagaimanakah engkau akan menyelesaikan hak lainnya, sedang engkau belum menyelesaikan hak Allah dalam waktu itu. Kewajiban dalam waktu seperti sembahyang, puas jika tidak dikerjakan dalam waktunya dapat digodho'inya, tetap hak-hak waktu itu sendiri yakni apa yang disediakan oleh Allah untuk waktu itu, jika tidak diambil, tidak dilaksanakan menurut tuntunannya, tidak dapat digodho'inya, yaitu waktu menerima nikmat atau taat, atau teruji dengan bala' dan maksiat, yaitu masa yang harus bersyukur, dan masa di mana ia harus bersabar dan istighfar, apabila telah berubah masanya maka berubahlah hak kewajibannya, sehingga tidak dapat digunakan untuk menggodho'i apa yang tertinggal pada masa yang telah lampau itu.
Rasulullah saw. bersabda : Siapa yang diberi lalu bersyukur, dan diuji lalu sabar, dan dianiaya lalu memaafkan dan berdosa lalu minta ampun. Kemudian Rasulullah saw. diam sejenak. Sahabat bertanya : Kemudian apakah ya Rasulullah saw. untuknya ? Jawab Nabi saw. :
أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ (الأنعام: ٨٢)
Merekalah yang pasti mendapatkan kesejahteraan, dan merekalah orang yang mendapat petunjuk hidayat.
219. لاَ تَسْتَبْطِئْ مِنْهُ النَّوَالَ، وَلٰكِنِ اسْتَبْطِئْ مِنْ نَفْسِكَ وُجُودَ الْإِقْبَالِ.
Jangan merasa lambat datangnya kurnia pemberian Allah kepadamu, tetapi hendaknya engkau merasakan kelambatan dirimu untuk menghadap kepada Tuhan. Jangan merasa datangnya kurnia pemberian Allah yang lanfbat, tetapi rasakanlah kelambatan dirimu untuk membulatkan iktikat yang baik kepada Tuhanmu.
Jangan merasa lambat datangnya kurnia pemberian Allah kepadamu, tetapi hendaknya engkau merasakan kelambatan dirimu untuk menghadap kepada Tuhan. Jangan merasa datangnya kurnia pemberian Allah yang lanfbat, tetapi rasakanlah kelambatan dirimu untuk membulatkan iktikat yang baik kepada Tuhanmu.
068. لاَ تُفْرِحْكَ الطَّاعَةُ لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنْكَ، وَافْرَحْ بِهَا لِأَنَّهَا بَرَزَتْ مِنَ اللهِ إِلَيْكَ. قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ.
Jangan merasa gembira atas perbuatan taat (bakti) karena engkau merasa telah dapat melaksanakannya, tetapi bergembiralah atas perbuatan taat itu, karena ia sebagai kurnia taufiq, hidayat dari Allah kepadamu. Katakanlah : Karena merasa mendapat kurnia dan rahmat Allah, mereka harus gembira. Itulah yang lebih baik daripada yang dapat mereka kumpulkan.
(Yunus 58)
Gembira atas perbuatan taat itu jika karena merasa mendapat kehormatan kurnia dan rahmat Allah sehingga dapat melakukan taat, maka itu baik. Sebaliknya jika gembira karena merasa diri sudah kuat dan sanggup melaksanakan taat, maka ini menimbulkan ujub/sombong dan bangga yang akan membinasakan amal taat itu.
Jangan merasa gembira atas perbuatan taat (bakti) karena engkau merasa telah dapat melaksanakannya, tetapi bergembiralah atas perbuatan taat itu, karena ia sebagai kurnia taufiq, hidayat dari Allah kepadamu. Katakanlah : Karena merasa mendapat kurnia dan rahmat Allah, mereka harus gembira. Itulah yang lebih baik daripada yang dapat mereka kumpulkan.
(Yunus 58)
Gembira atas perbuatan taat itu jika karena merasa mendapat kehormatan kurnia dan rahmat Allah sehingga dapat melakukan taat, maka itu baik. Sebaliknya jika gembira karena merasa diri sudah kuat dan sanggup melaksanakan taat, maka ini menimbulkan ujub/sombong dan bangga yang akan membinasakan amal taat itu.