Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

054. رُبَّمَا كُنْتَ مُسِيئًا فَأَرَاكَ الْإِحْسَانَ مِنْكَ صُحْبَتُكَ لِمَنْ هُوَ أَسْوَأُ حَالاً مِنْكَ.

Kemungkinan engkau berbuat kekeliruan (dosa), maka di- tampakkan kepadamu sebagai kebaikan, oleh karena persahabatanmu kepada orang yang jauh lebih rendah akhlak (Iman) daripadamu. Bersahabat dengan yang lebih rendah budi, iman itu, sangat bahaya, sebab persahabatan itu pengaruh mempengaruhi, percaya mempercayai, sehingga dengan demikian sukar sekali untuk dapat melihat atau mengoreksi kesalahan sahabat yang kita sayangi, bahkan kesetiaan sahabat akan membela kita dalam kesalahan dan dosa kekeliruan itu, yang dengan itu kami pasti akan binasa karenanya. Sedang seorang tidak dapat mengoreksi diri sendiri, kecuali dengan kacamata orang lain, tetapi jika justru kacamata orang lain itu pula san Abd pada Khakonya)

mengelabui kita, maka bahayalah yang pasti menimpa pada kita.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

070. مَا بَسَقَتْ أَغْصَانُ ذُلٍّ إِلاَّ عَلَى بِذْرِ طَمَعٍ.

Tidak akan berkembang biak berbagai cabang kehinaan itu, *kecuali di atas bibit tamak (kerakusan). Sifat tamak (rakus) itu adalah bibit dari segala macam kehinaan dan kerendahan.

Abubakar Al-Warraq Alhakiem berkata : Andaikan sifat tamak itu dapat ditanyaii : Siapakah ayahmu? Pasti jawabnya : Ragu terhadap takdir Allah. Dan bila ditanya : Apakah pekerjaan mu ? Jawabnya : Merendahkan diri. Dan bila ditanya : Apakah tujuanmu? Jawabnya : Tidak dapat apa-apa. Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. baru masuk ke masjid jami' di Basrah, didapatkan banyak orang yang memberi ceramah di dalamnya. Maka ia menguji mereka dengan beberapa pertanyaan dan yang ternyata tidak dapat menjawab dengan tepat, diusir dan tidak diizinkan memberi ceramah di masjid itu, dan ketika sampai ke majlis Al-Hasan Al-Basry, ia bertanya : Hai pemuda, saya akan bertanya kepadamu sesuatu, jika engkau dapat menjawab, aku izinkan engkau terus mengajar di sini, tetapi jika engkau tidak dapat menjawab, aku usir engkau sebagaimana lain-lain temanmu yang telah aku usir itu. Jawab Al-Hasan : Tanyakan sekehendakmu. Sayyidina Ali bertanya : Apakah yang dapat mengukuhkan agama ? Jawab A1-Hasan : Wara' (yakni berjaga-jaga diri/menjauh dari segala syubhat dan haram). Lalu ditanya : Apakah yang dapat merusak agama ? Jawabnya : Tamak (rakus). Imam Ali berkata kepadanya : Engkau boleh tetap mengajar di sini, orang yang seperti engkau inilah yang dapat memberi ceramah kepada orang-orang. Seorang guru berkata : Dahulu ketika dalam permulaan bidayahku di Iskandariyah, pada suatu hari ketika aku akan membeli suatu keperluan dari seorang yang mengenal aku, timbul dalam perasaan hatiku; mungkin ia tidak menerima uangku ini, tiba-tiba terdengar suara yang berbunyi : Keselamatan dalam agama hanya dalam memutuskan harapan dari sesama makhluk Wara' dalam agama itu menunjukkan adanya keyakinan dan sempurnanya bersandar diri kepada Allah. Wara' yaitu jika sudah merasa tiada hubungan antara dia dengan makhluk, baik dalam pemberian, penerimaan atau penolakan, dan semua itu hanya terlihat langsung dari Allah ta'ala. Sahl bin Abdullah berkata : Di dalam iman tidak ada pandangan sebab perantara, sebab itu hanya dalam Islam sebelum mencapai iman. Semua hamba pasti akan makan rizqinya, hanya mereka berbeda- beda : ada yang makan dengan berhina-hina yaitu peminta-peminta. Ada yang makan rizqinya dengan bekerja keras yaitu kaum buruh, ada yang makan rizqinya dengan menunggu, yaitu pedagang yang menunggu lakunya barang. Adapun yang makan rizqinya dengan rasa mulya, yaitu orang sufi yang merasa tidak ada perantara dengan Tuhan.

Hikam Ibnu 'Atoillah

103. مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ، وَمَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ، فَهُوَ فِي كُلِّ ذٰلِكَ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ، وَمُقْبِلٌ بِوُجُودِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ.

Apabila Allah memberi karunia kepadamu, maka la akan menunjukkan kepadamu kurnia belas kasihNya, dan apabila menolak pemberianNya atasmu, maka la akan menunjukkan kepadamu kekuasaanNya, maka la dalam semua itu memperkenalkan diri kepadamu, dan menghadapkan kepadamu dengan kehalusan pemberian pemeliharaanNya kepadamu. Keharusan tiap hamba harus mengenal Tuhan, dengan segala sifat- sifat kebesaranNya. Maka siapa yang tidak suka mengenal dengan sifat Mu'thi. Wahhab (pemberi) harus ia mengenal Allah dengan sifat : Mani' (menolak) Muntaqim (membalas) Qahhar (memaksa). Tetapi apabila semata-mata kurnia Allah kepada hambaNya. Sufyan Astsaury bertemu dengan Abu Habib Al-Badry, dan memberi salam. Abu Habib bertanya : Engkaulah Sufyan Astsaury yang terkenal itu ? Jawabnya : Benar, semoga Allah memberkahi apa yang dikatakan orang-orang itu. Lalu berkata Abu Habib : Hai Sufyan, tidak ada suatu kebaikan melainkan berasal dari Tuhan. Jawab Sufyan.: Benar. Ditanya : Mengapakah kamu tidak suka bertemu pada siapa yang tidak kebaikan kecuali dari padaNya. Hai Sufyan : Penolakan Allah kepadamu itu berarti pemberian kurniaNya kepadamu, sebab ia tidak menolak karena bakhil atau tidak ada, hanya ia menolak permintaanmu itu karena kasihnya kepada- mu dan untuk menguji kamu. Hai Sufyan, Sesungguhnya aku masih senang duduk dengan engkau tetapi bersamamu itu ada kesibukan, kemudian Abu Habib menuju ke kambingnya dan membiarkan Sufyan Astsaury.

Hikam Ibnu 'Atoillah

274. الْفِكْرَةُ سِرَاجُ الْقَلْبِ، فَإِذَا ذَهَبَتْ فَلاَ إِضَاءَةَ لَهُ.

Pikiran itu sebagai pelita hati, maka bila ia padam, maka tidak ada penerangan baginya. Karena itu hati yang tidak suka merenungkan kebesaran kekuasaan Allah maka selalu gelap, karena diliputi oleh kebodohan dan tipu daya.

Disalin