Langkau ke kandungan
Alhiyara
Alhiyara
Hikam Ibnu 'Atoillah

037. شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ بِهِ أَوْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ، فَالْمُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الحَقَّ لِأَهْلِهِ فَأَثْبَتَ الْأَمْرَ مِنْ وُجُودِ أَصْلِهِ، وَالاِسْتِدْلاَلُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُولِ إِلَيْهِ، وَإِلاَّ فَمَتَى غَابَ حَتَّى تُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ، وَمَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُونَ الْآثَارُ هِيَ الَّتِي تُوصِلُ إِلَيْهِ.

Jauh berbeda antara orang yang berdalil; adanya Allah menunjukkan adanya alam, dengan orang yang berdalil; bahwa adanya alam inilah yang menunjukkan adanya Allah. Orang yang berdalil adanya Allah menunjukkan adanya alam, yaitu orang yang mengenal hak dan meletakkan pada tempatnya, sehingga menetapkan adanya sesuatu dari asal mulanya. Sedang orang yang berdalil adanya alam menunjukkan adanya Allah, karena ia tidak sampai kepada Allah. Maka bilakah Allah itu ghaib sehingga memerlukan dalil untuk mengetahuinya. Dan bilakah Allah itu jauh sehingga adanya alam ini dapat menyampaikan kepadanya.

Firman Allah :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (النحل: ٧٨)

Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepadamu pendengaran dan penglihatan serta fikiran (perasaan), supaya kamu bersyukur. (S. An-Nahi 78). Memang asal mula kejadian manusia bodoh tidak mengetahui apa- apa, kemudian Allah memberinya alat untuk mengetahui dan mengenal- Nya, pendengaran, penglihatan, perasaan dan fikiran semua alat mengenal Allah itu supaya manusia bersyukur, sebab dengan bersyukur itu manusia sempurna dan sejahtera hidupnya, yaitu setelah mengenal kepada Tuhan Allah yang menjadikan dan menjamin segala hajat kebutuhannya.

Petikan lain
Hikam Ibnu 'Atoillah

151. أَبَاحَ لَكَ أَنْ تَنْظُرَ مَا فِي الْمُكَوَّنَاتِ، وَمَا أَذِنَ لَكَ أَنْ تَقِفَ مَعَ ذَوَاتِ الْمُكَوَّنَاتِ، قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمٰوَاتِ، فَتَحَ لَكَ بَابَ الْأَفْهَامِ، وَلَمْ يَقُلِ انْظُرُوا السَّمٰوَاتِ، لِئَلاَّ يَدُلَّكَ عَلَى وُجُودِ الْأَجْرَامِ.

Allah mengizinkan engkau melihat alam şekitarmu, tetapi Allah tidak mengizinkan engkau berhenti pada benda-benda alam, sebagaimana firman Allah : Katakanlah : Perhatikanlah apa yang di langit-langit itu Allah membukakan bagimu jalan untuk mengerti, karena itu ia tidak berkata : Perhatikanlah langit-langit itu. Supaya tidak menunjukkan kepadamu adanya benda-benda itu. Sebab benda-benda itu adalah buatan yang rusak dan tidak kekal, maka jangan sampai tertipu sehingga kau kirakan berdiri sendiri, seolah-olah terlepas dari ketentuan Allah. Dalam kitab Latha'iful-iman tersebut : Alam benda ini tidak ditegakkan untuk engkau perhatikan, tetapi untuk engkau perhatikan padanya kebesaran kekuasaan Tuhan yang mengatur.

Hikam Ibnu 'Atoillah

122. لاَ يَسْتَحْقِرُ الْوِرْدَ إِلاَّ جَهُولٌ، الْوَارِدُ يُوجَدُ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَالْوِرْدُ يَنْطَوِي بِانْطِوَاءِ هٰذِهِ الدَّارِ، وَأَوْلَى مَا يُعْتَنَى بِهِ مَا لاَ يُخْلَفُ وُجُودُهُ، الْوِرْدُ هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ، وَالْوَارِدُ أَنْتَ تَطْلُبُهُ مِنْهُ، وَأَيْنَ مَا هُوَ طَالِبُهُ مِنْكَ مِمَّا هُوَ مَطْلُوبُكَ مِنْهُ.

Tidak akan meremehkan wirid, kecuali orang yang bodoh (sangat tolol). Kurnia Allah (warid) terdapat di akherat, tetapi wirid akan habis dengan habisnya dunia. Dan sebaik-baik (seutama-utama) vang harus diperhatikan oleh seseorang yaitu yang tidak kunjung habis, wirid itu sebagai perintah Allah kepadamu, sedang warid (kurnia) itulah hajat kebutuhanmu dari Allah. Maka di manakah letak bandingan antara perintah Allah kepadamu dengan pengharapanmu dari Tuhan. Wirid ialah segała macam bentuk ibadat lahir batin baik yang wajib maupun sunnat. Sedang Waarid : Pemberian-pemberian Tuhan dalam hati hamba yang berupa keterangan, nur cahaya dan kesenangan berbuat ibadat, taufiq dan hidayatNya. Maka sebaiknya, seorang hamba menjalankan kewajibannya, daripada melonjak-lonjak kepada apa yang menjadi hak Allah semata- mata. Terutama wirid itu hanya berlaku masih hidup di dunia ini saja, sedang waarid akan lanjut sampai ke akherat. Rasulullah saw. telah bersabda : Amal yang sangat disukai oleh Allah ialah yang dawam (terus menerus) meskipun sedikit. Al-Hasan Albasry berkata : Siapa yang sama hari kininya dengan kemarinnya, maka ia rugi dan siapa yang harinya itu lebih buruk dari kemarinnya, maka ia mahrum (tidak dapat rahmat), dan siapa yang tidak bertambah berarti berkurang, dan siapa yang makin berkurang amalnya, maka mati lebih baik baginya. Ketika Al-Junaid ditegor orang karena memegang tasbih di tangannya : Tuan dalam kedudukan yang demikian itu masih saja menggunakan tasbih. Jawab Al-Junaid : Alat yang telah menyampaikan kami, maka tidak saya tinggalkan. Al-Junaid : berkata : Orang aarif menerima semua amal (wirid) itu sebagai tugas dari Allah, karena itu mereka akan kembali menghadap kepada Allah dengan kebiasaan wirid (ibadat) yang ditugaskan oleh Allah itu. Dan andaikata seribu tahun tidak akan mengurangi sedikitpun dari amal wiridku, kecuali jika ia terhalang untuk melakukannya.

Disalin